Bergaji Rp. 90.000; per bulan (1)

Hari ini, tidak terasa sudah 11 tahun menjalaninya. Masih kuingat batangan kapur-kapur putih menggores papan hitam. Pun juga suara payau karena gugup berdiri dihadapan anak belasan tahun berseragam putih abu-abu itu. Tak kuasa mata ini menatap wajah-wajah penuh tanya. Tenggorokanpun serasa terkunci, bibir merapat tak mau membuka diri.Hanya wajah memerah dan tangan gemetar menyapa hadirnya mereka.
Aku tahu mereka sangat terkejut. Bertemu dengan makluk aneh semacamku dikelas barunya. Tidak berseragam PDH atau berbatik KORPRI. Hanya sebuah baju lengan panjang sisa-sisa masa kuliah. Aku tahu,sosokku bukanlah guru sebagaimana mereka mengenal disekolah sebelumnya.Tapi aku tidak perdulikan semua,karena aku hanya ingin menikmati hariku menjadi seorang guru saat itu.
………
Selepas kuliah,aku membayangkan duduk manis dibelakang meja sambil memandangi jurnal umum.Mengoreksi setiap lembar transaksi, dan mencatatnya dalam buku besar.Betapa gagahnya diriku, berkemeja manly, berdasi rapi dan bersepatu mengkilat seperti kaca. Duduk di kursi empuk sambil tersenyum manis dibalik ruang kerja nan mewah.
Satu persatu sahabatku mulai mengabariku. Dengan suara renyah dan tawa bahagia. Mereka menceritakan pekerjaan barunya. Menjadi orang berdasi disebuah bank pemerintah, atau menjadi accounting staff disebuah perusahaan terkenal. Aku hanya bisa menerima kabar baiknya.Kupandangi lagi diriku,wajah murungku membawaku pada keputusasaan.
Aku didesa masih sibuk mencari tempat berlabuh. Ingin rasanya merasakan dan menikmati kesuksesan sebagai mana mereka telah dapatkan. Satu demi satu lamaran kulayangkan,test demi test kujalani,namun tidak satupun yang mendudukkanku sejajar dengan mereka. Ternyata nasibku memang tidaklah sama seperti yang mereka terima.
“Those Who Can, Do; Those Who Can’t, Teach.” Mungkin benar juga pepatah tersebut. Tidak ada jalan lain,kecuali membelokkan diri pada dunia yang sangat asing. Dunia yang bahkan bermimpipun aku tidak pernah mengharapkannya.Sebuah dunia baru yang benar-benar baru dan dunia itu adalah dunia GURU.
Aku tidak perlu menjalani test, pun juga tidak perlu menyertakan referensi dan ditanya alumni dari mana. Aku juga tidak menulis lamaran yang indah dengan gombalan disana-sini.Sebagaimana kita biasa tuliskan di surat lamaran pekerjaan. Akupun tidak dituntut memiliki pengalaman sekian tahun. Menguasai ini dan itu. Yang mereka butuhkan hanyalah kesediaan dan keikhlasan bekerja. Tidak berharap banyak materi sebagai imbalannya.
Aku hanyalah diminta untuk sekedar bersedia saja. Bersedia duduk dibelakang meja kayu kusut bersandar papan kayu yang keras. Bersedia berjam-jam berada di ruang kelas pengap dan sedikit gelap. Bersedia mengayunkan kapur putih di sebuah papan tulis tua yang hitamnya mulai memudar.Bersedia membuka lembar demi lembar buku lembar kerja siswa berbahan kertas buram yang tipis itu. Bersedia bekerja dengan ikhlas dan tidak banyak menuntut kesejahteraan. Aku memang harus bersedia,karena itu syarat utamanya.
Tempat kerja baruku bukanlah gedung bertingkat. Juga bukan ruangan indah berdesign mewah. Tidak ada computer pun juga fasilitas mewah lainnya. Hanya sebuah kursi tamu berbahan kayu. Busa tempat duduknya tak lagi empuk,warnanya memudar oleh waktu. Aku hanya melihat sebuah mesin ketik tua -merek brother- tergeletak tak bernyawa dilantai..Bercampur dengan aneka tumpukan kertas dokumen siswa baru yang belum sempat dirapikan.Satu-satunya yang paling baru di ruang itu hanyalah bendera merah putih . Bendera itu tergantung disebuah papan tongkat yang biasa digunakan di kegitan pramuka. Tepat disamping kanan kursi kepala sekolah. Letaknya disisi kiri menghadap ke pintu masuk ruangan tersebut.
Kelas-kelas kami tidak semewah ruangan sekolah RSBI,yang dipenuhi perangkat IT dan mesin pendingin. Ia hanyalah ruangan berukuran 6X7 meter. Dengan empat jendela besar berukuran 2 X 3 meter disisi kanan kirinya. Kawat ram berbentuk persegi empat dipaku disetiap bagian dalam jendela tersebut. Tanpa daun pintu pun juga tanpa kaca pembatas.
Tetapi kami sangat senang dengan model jendela tersebut. Terlebih lagi saat angin datang,ruangan seketika menjadi sejuk. Hembusan deras angin yang menerobos sela-sela kawat ram tersebut menjelma laksana tiupan angin dingin yang dihasilkan dari putaran kipas AC. Itulah mesin pendingin kami disaat musim panas tiba.
Jendela itu juga berfungsi sebagai alat “mengintai” suasana kelas saat tak seorang gurupun berada di dalamnya. Cukup mendongakkan kepala sedikit,seluruh bagian kelas dapat dengan mudah terjangkau.Tidak perlu CCTV untuk memonitor kelas.
Dibagian depan kanan kelas itu terdapat sebuah pintu masuk. Jangan bayangkan pintunya terbuat dari ukiran kayu jati. Pun juga bukan dari bahan fiberglass yang bermotif warna-warni. Motif binatang atau pemandangan sebagaimana sering kita temui di rumah mewah dan sekolah berkelas. Pintu itu hanyalah terbuat dari triplek tipis bercat kayu coklat muda.
Mustinya pintu itu tertutup di dua sisi luar dan dalamnya. Sayangnya, bagian dalam pintu itu dibiarkan kosong tanpa triplek penutup. Kayu balok berukuran kecil sebagai penyangga pintupun dapat jelas terlihat. Dikerangka kayu berbentuk kotak-kotak kecil itulah biasanya kami menaruh penghapus papan tulis. Kadangkala,sela-sela kerangka pintu itu juga para siswa menyembunyikan sesuatu saat bergurau dengan siswa lainnya.
Dikelas sederhana itulah aku menginjakkan kaki memulai petualangan baru. Petualangan pertama menjadi seorang guru.
Berpendidikan umum nonkeguruan,mengampu mata pelajaran Bahasa Indonesia itulah tugas awalku disekolah tersebut. Aku bahkan tidak memiliki gambaran apa yang akan aku sampaikan dan bagaimana menyampaikannya.Hanya buku Bahasa Indonesia edisi lama yang menemaniku dikelas tersebut.
Aku tidak terlalu merisaukan latar belakang pendidikanku.Apalagi bahan mengajar. Aku pernah belajar lama di sekolah,12 tahun kurang lebih. Akupun tahu bagaimana guruku dulu mengajariku. Aku yakin, aku bisa mengajar karena pernah melihat guruku mengajar. Sesederhana itulah pemikiranku tentang ajar mengajar saat itu.
Memang menjadi guru pada saat itu sangatlah mudah. Tidak sesulit menjadi pegawai bank atau karyawan perusahaan. Tidak harus menjalani serangkaian test yang sangat ketat dan ribet. Apalagi bersaing dengan banyak pelamar. Menjadi guru saat itu sangat sederhana.Berbekal ijasah, datang kesekolah membawa lamaran. Tidak beberapa lama kemudian panggilanpun didapat. Jangan bayangkan anda akan ditanya macam-macam,pun juga tidak disuruh untuk memamerkan ilmu yang anda miliki. Hanya sekedar perkenalan dan chit-chat kecil,maka jadilah anda guru sebagaimana saya saat ini. Bahkan ada yang lebih mudah lagi,cukup kenal kepala sekolah,menghadap,dan esok harinya mulai bisa mengajar. Persyaratan bisa anda susulkan kemudian.Itulah dua kejadian yang kualami.
Aku jalani profesi baruku tersebut sambil sesekali mengikuti beberapa test di perusahaan.Namun,lagi-lagi,bukan pekerjaan baru yang kudapat,melainkan kekecewaan demi kekecewaan. Tidak lolos administrasilah,atau tidak dipanggil test lanjutan.Rasa-rasanya,jiwa ini sudah putus asa diajak melamar dan mengikuti test tulis kesana kemari lagi.Akhirnya aku yakin,bahwa pilihanku ini akan benar adanya:menjadi seorang guru.
Tidak terasa satu bulan sudah ku menjalani profesi sebagai seorang guru sebuah SMA. Gajipun di dapat. Betapa bahagianya saat menerima gaji pertama kalinya. Amplop kecil berwarna putih itu bertuliskan namaku dibagian depannya.Lengkap dengan gelar akademik.Akupun meyakini bahwa nilai didalam amplop akan berbanding lurus dengan gelarku itu.
Tidak sabar rasanya ingin membukanya.Namun,tidak kulihat seorang temanpun membuka amplopnya disekolah. Mereka justru menaruhnya di dalam tas atau menyimpannya di saku celana. Akhirnya kuputuskan menyimpannya disaku celana. Disamping menjaga wibawa sebagai guru baru, keputusan itu akan melupakan sejenak keingintahuanku akan nominal yang uang didalamnya.
Tidak berapa lama kemudian, bel pulangpun berbunyi. Segeralah kuberjalan keluar sekolah dengan perasaan penuh tanya. Yang berkecamuk dalam pikiran hanyalah nilai nominal gaji pertamaku. Sepanjang perjalanan itu tidak ada pikiran yang lebih asyik selain menduga-duga isi amplop. Amplop itu terus menggodaku. Sesekali tangan kanan kumasukkan ke saku dan memegangnya dengan penuh harap dan tanda Tanya.
Kesabaranku mulai hilang, saat jalanan mulai sepi dan hanya menyisahkan satu dua pengendara dan pejalan kaki. Segeralah kumasukkan tangan kanan,dan sedetik kemudian,amplop itu telah berada digenggaman. Kusobek bagian sisi kanannya. Sambil memicingkan mata,kumelirik kearah dalam amplop. Terlihat lembaran sepuluh ribuan tersusun rapi dengan selembar kertas berisi rician gaji diatasnya.
Jantungku berdegup,pikiranku melayang-layang membayangkan banyaknya uang yang akan segera kuterima. Kumasukkan amplop yang sudah kusobek ujungnya itu ke dalam tas jinjingku. Sambil berjalan,kumulai menghitung satu persatu lembaran itu. Saat berpapasan dengan pejalan dan pengendara sepeda, ku berpura-pura seolah-olah memperbaiki isi yang ada di dalam tas.
“Satu,dua,tiga…….hitungku dalam hati. Tiba-tiba hitunganku berhenti diangka 9. Kuhela nafas panjang rasa tidak percaya. Kumulai menghitungnya lagi, dan kembali berhenti di angka 9!!!!.Tanganku mulai lunglai,serasa lepas satu persatu tulang dan ototnya.Jalanku menjadi gontai. Harapan-harapan indah yang terbayang dari amplop putih itu kini berubah menjadi rasa kecewa dan tidak percaya.
Aku berfikir mendapatkan gaji empat kali lipatnya dari yang kudapat saat itu. Aku sudah menghitunya seminggu sebelum tanggal muda. 12 jam kali Rp.7,500 kali 4 minggu. 12 jam adalah jam tatap mukaku selama satu minggu. Rp.7.500 upah yang aku terima perjamnya. Dari hitungan itulah aku berani memprediksikan bahwa gajiku setidaknya 4 kali lipat dari yang kuterima. Bahkan bisa lebih,jika ada tambahan ini dan itu.Seperti uang bensin,lembur dan tunjangan lainnya.
Jika nominalnya sama seperti yang aku perkirakan, Untuk ukuran gaji pertama dan hidup di desa, lumayan besarlah gaji segitu. Namun,ternyata yang kudapat hanya satu minggu. “Kemana yang 3 minggu lainnya?”,tanyaku dalam hati. “Mungkin mereka salah hitung?”. Tidak mungkinlah mereka salah hitung uang sekecil itu. “Jangan-jangan memang segitu gajinya?” kataku lagi dalam hati. “Atau mungkin temanku telah berlaku curang padaku?tanyaku dalam hati lagi.
Akupun kemudian mulai membanding-bandingkannya dengan teman yang bekerja di tempat lain (bank atau perusahaan). Sungguh sangat jauh dengan gaji teman-temanku itu. Bahkan ada yang telah mencapi 20 kali lipatnya dari gajiku tadi.
Sepanjang perjalanan pulang, tidak habis otak ini berfikir kemana larinya gajiku yang 3 minggu itu.Siapa yang telah mengambilnya. “Bukankah aku bekerja 1 bulan, 4 minggu?.” Mengapa hanya seminggu yang mereka gaji?” pertanyaan it uterus menggelayut. Tidak terasa,saya sudah berdiri di depan pintu rumah.Kulupanakan besaran gajiku,segera kubuka pintu rumah.
Dengan bangga,aku tunjukkan amplop putih itu pada ibuku.”Cuman dapat segini bu?”,kataku sambil memelas. “Bahkan,gaji itu tidak sebanding dengan uang bulanan yang dikirm oleh ibu saat masih kuliah dulu”kataku melanjutkan.”Semua berawal dari 1 rupiah nak?”,jawab ibuku sambil tersenyum.Sebuah jawaban yang melegahkan sekaligus menyelamatkanku dari rasa malu karena hanya bergaji sekecil itu. Akhirnya, kenyataan itu menuntunku pada sebuah keikhlasan bahwa 3 minggu kerja guru honor adalah amal ibadah yang tidak semua orang mau dan mampu melakukannya. Berbahagialah kita yang mampu menyedekahkan 3 minggu kerja bagi kebaikan dan pencerdasan bangsa. Semoga amal dan keikhlasan itu menjadi salah satu penerang kebermaknaan hidup kita dikemudian hari.
KouryukokusaikaikanB411:12:07/26/10/2012).

2 thoughts on “Bergaji Rp. 90.000; per bulan (1)

  1. caturpamarto berkata:

    klo sblm menjadi guru sdh bekerja dan mendapatkan gaji besar(diatas 90.000), maka menerima uang 90.000 serasa kecil, ttp klo sblmnya blm pernah samasekali menerima gaji sepeserpun maka angka 90.000 akan terasa buesar sekali. Akhirnya bergantung seberapa bersyukur kita menerima rezekiNYA.; nominal sedikit klo barokah manfaatnya akan lebih besar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s