MENDORONG GURU TERUS BELAJAR DARI LINGKUNGAN YANG BERBEDA

Sudah berapa kali anda pindah mengajar?,tanya professorku sore ini pada seorang kolega guru sebuah SMP di Jepang. “6 kali !!!”, jawabnya mantaf. 3 kali pindah ke jenjang sekolah dasar dan 3 kali ke sekolah menengah. Tidak berapa lama setelahnya,gantian pertanyaan itu ditujukan padaku.”Belum pernah pindah!!!jawabku singkat. Mendengar jawaban dariku,tidak sepatah katapun keluar dari beliau untuk meresponnya. Entah apa yang berkecamuk dalam pikirannya ,beliau hanya mengangguk sambil sesekali memejamkan matanya.

Penulsi saat mengajar di Tsushinsei Kouko:sekolah bagi mereka yang tidak mau belajar di sekolah formal


Di Jepang, guru setiap 5 tahun sekali dipindah tugaskan ke sekolah baru. Perpindahannya bisa sejenjang atau ke jenjang yang lebih atas/rendah. Seorang teman lain saya di Jepang-Yamada sensei-dulunya mengajar sebuah sekolah dasar. Sejak setahun lalu dia dipindah tugaskan ke sebuah sekolah menengah pertama. Anehnya,sekolah yang baru adalah sekolah berkebutuhan khusus (deft School). Meski pelajaran yang diampuhnya sama-Bahasa Inggris- tapi konteks lingkungan dan muridnya berbeda 360 %. Dan dia tidak memiliki latar belakang pendidikan atau sertifikat yang menunjukkan kemampuannya melakukan assistensi pada anak berkebutuhan khusus. Setelah saya bertanya persoalan ini padanya,jawaban yang dia berikan berbeda jauh dari apa yang saya duga.”Senang,saya bisa mempelajari ilmu baru dan berteman dengan anak-anak berkebutuhan khusus!,jawabnya dengan penuh keyakinan.Sejak kepindahannya itu,dia kemudianbelajar kembali dan banyak berinteraksi dengan dunia barunya. Salah satunya berdiskusi dengan salah satu pakar pendidikan berkebutuhan khusus di universitas dimana saya belajar saat ini. Dari situlah awal mula perkenalan dengannya dimulai.
Beberapa kali beliau mengundang saya untuk mengajar di sekolahnya. Dan disekolah yang baru tersebut,saya menemukan sesuatu yang benar-benar baru. Yang tidak sama kondisinya dengan yang biasa saya temui dan lakukan di tanah air. Saya menemukan dan menghadapi tantangan belajar yang lebih berat tapi mengasyikkan. Menghadapi anak-anak yang karena sesuatu hal berbeda dari kebanyakan siswa lainnya. Membelajarkan mereka tidak hanya dengan menjelaskan dan menyuruh melakukan sesuatu,tetapi lebih dari itu. Bagaimana disaat yang bersamaan kita juga membutuhkan passion, ketelatenan. Tidak itu saja, kita juga dituntut menterjemahkan segala sesuatu menggunkan bahasa isyarat atau gestures. Mempelajarinyapun tidak semudah membalik telapak tangan. Membutuhkan waktu dan tenaga serta kesabaran. Tetapi itulah indahnya menjadi guru. Menghadapi tantangan dan persoalan baru setiap hari. Menjadikannya semakin cerdas dan terampil. Hal yang sama juga saya rasakan saat saya harus mengajar di beberapa sekolah yang berbeda di Jepang.Mulai dari Sekolah dasar hingga Sekolah Menengah Atas.
Seorang kolega lainnya lagi menemukan keasyikan tersendiri menjalani kebijakan ini. Dia merasa semakin percaya diri dalam bertugas. Pengalamannya berpindah-pindah tempat dan kondisi sekolah melahirkan kecakapan dan pengalam baru yang mungkin tidak didapatnya jika dia hanya berdiam diri di satu sekolah hingga pensiun nanti. Perpindahannya mengubah kondisi mentalnya waktu-ke waktu. Ketidakterjebakannya pada kondisi nyaman (comfort zone) mendorongnya terus belajar dan bergerak menjauh dari titik-titik yang kadang membuat seseorang merasa aman dan tidak ingin berubah sama sekali tersebut.Kolega dan kondisi kerja yang baru juga turut banyak berperan dalam pengembangan kemampuannya.
Akhirnya saya memandang betapa beruntungnya guru-guru di jepang memiliki kesempatan untuk mendulang pengalaman mengajar dari satu sekolah ke sekolah lainnya. Terlebih lagi masing-masing sekolah memiliki teaching context yang beragam.Perbedaan teaching context ini memungkinkan kesempatan yang berbeda bagi guru untuk belajar dan merasakan aneka tahapan yang sangat menantang dalam pengembaraan keilmuwannya.
Kebijakan ini mengingatkan saya akan pesan yang disampaikan oleh Alvin Toffler. Dia mengatakan bahwa “The illiterates of the 21st century will not be those who cannot read and write but those who cannot learn,unlearn dan relearn”. Dengan kata lain saya ingin mengatakan juga bahwa”Guru yang dibutuhkan abad ini bukanlah sosok guru yang hanya mahir mengajar namun mereka yang terus belajar dan belajar kembali!!!!. Ingin rasanya memiliki kesempatan sebagaimana guru-guru Jepang dapatkan. Berpindah dari satu sekolah ke sekolah lain. Semoga saya mendapat kesempatan itu meski harus bertugas di sekolah yang kecil dan tidak favorit sekalipun. Betapa indahnya petualangan itu nantinya. I am proud to be educator!!!.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s