ARTI SENYUMAN SEORANG GURU

ARTI SENYUMAN SEORANG GURU
Sering kali keluguan dan kejujuran anak-anak membukakan mata hati kita atas sebuah kenyataan. Hal ini pula yang saya alami sesaat setelah mendengar cerita dari seorang bocah. Sebut saja namanya Andi. Dia bercerita tentang sebuah sekolah baru yang dipilihnya. Sebuah sekolah yang membuatnya bahagia dan betah berada di dalamnya. Bukan sekolah yang mewah dengan fasilitas segudang, atau pula sekolah dengan guru-guru terbaik bergelar sejagad. Bukan itu ternyata. Ia hanyalah sebuah sekolah dengan guru-guru yang selalu menebar senyum dan keramahan padanya. Senyum dan keramahan itulah yang membuatnya merasa nyaman dan aman berada di dalamnya. Dan itulah sekolah yang baik menurutnya.

Andi ini mencoba membandingkan sekolahnya saat ini (sebuah Sekolah Dasar negeri) dengan sekolah yang baru di kenalnya tadi. Bukan tanpa alasan jika dia membandingkan dan kemudian menarik kesimpulan semacam itu. Kesimpulannya tidak datang tiba-tiba, mengingat ada sebuah peristiwa yang melatarbelakanginya. Suatu pagi, dia pulang kerumah membawa sebuah tangisan dengan ekspresi wajah aneh. Ekspresi wajahnya mengguratkan ketakutan dan rasa bersalah yang dalam. Setelah ditanya barulah dia menjelaskan alasan dibalik kepulangannya pagi itu.

Senyum adalah ibadah yang paling mudah dan penawar segala kegundahan hati


Rupanya sang guru membentaknya di depan teman-temannya, hanya karena dia tidak membawa buku PR Matematikanya. Kemudian dia menjelaskan alasan untuk tidak membawanya kepada saya. Sebuah alasan yang saya pikir cukup rasional. Ternyata pada hari itu memang tidak ada jadwal pelajaran Matematika. Keputusannya untuk tidak membawa buku Matematika, dalam hal ini benar adanya. Dia mencoba menaati aturan-aturan yang dibuat bersama dengan guru dan kelasnya. Sejak peristiwa itu, dia selalu diliputi oleh ketakutan dan kekawatiran akan amarah sang guru. Tangisan adalah ungkapan emosionalnya jika ia lupa membawa sesuatu atau salah melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan perintah gurunya. Saya sangat bersedih , karena peristiwa itu telah melumpuhkan salah satu syaraf kepercayaan dirinya.
Dan cerita diatas mengingatkan saya pada sebuah cerita lain berjudul The Little Boy. Kisah seorang anak kecil yang datang ke sekolah dengan perasaan senang dan bahagia. Rasa-rasanya tidak ada hari sebahagia saat pertama kali mengenyam bangku sekolahnya. Suatu pagi, gurunya berkata,
”Hari ini kita akan menggambar.”
“Horee!” jawab The Litle Boy. Dia memang senang sekali menggambar, dari singa, macan, ayam hingga sapi. Lalu mulailah dia mengambil crayon dan menggores-goreskan di buku gambarnya. Tapi,”Tunggu! Waktunya belum mulai!” Seru sang guru.
”Sekarang, kita akan menggambar bunga ya.” Kata gurunya.
”Horee!” Terik The Little Boy yang memang suka menggambar bunga. Dia mulai membuat bunga dengan warna merah jambu dan kuning. Namun gurunya berkata,
”Tunggu, akan aku tunjukkan bagaimana caranya!”
Sang guru menggambar sebuah bunga berwarna merah dengan batangnya yang berwarna hijau di papan.
” Ini dia contoh bunganya. Sekarang silahkan menggambar ya!”Pintanya lagi.
The little boy melihat gambar gurunya dan kemudian melihat gambarnya sendiri. Sebenarnya dia lebih suka gambarnya dari pada gambar gurunya. Namun itu tidak ia katakan. Lalu ia meremas-remas kertas gambarnya dan membuat gambar sebagaimana contoh dari gurunya.

Akhirnya The Little Boy dan keluarganya pindah ke daerah lain, dan harus bersekolah di sekolah yang baru, sebuah sekolah yang lebih besar namun tidak memiliki pintu. Suatu pagi gurunya datang dan berkata,
” Hari ini kita akan membuat sebuah gambar!”
“Horee!” Jawab The Little Boy. Dan dia menunggu instruksi gurunya lebih lanjut. Namun sang guru tidak berkata apa-apa. Dia hanya berjalan keliling kelas, dari satu meja ke meja lainnya. Saat dia sampai di meja The little Boy, sang guru berkata,
“Tidakkah anda ingin membuat sebuah gambar? “
“Ya,” kata the little boy.
“Gambar apa yang akan kita buat?” Tanya The Little Boy. “Saya tidak tahu kalau tidak engkau beri contoh.” Kata The Little Boy lagi.”Bagaimana cara membuatnya?” Rengek The Little Boy. “Dan warnanya bagaimana?
“Apa warna yang kamu sukai?” Balik bertanya sang guru. Kemudian gurunya bertanya,
”Jika semua siswa membuat gambar yang sama, dengan warna yang sama, apakah saya tahu siapa membuat apa, mana punyamu dan mana punya temanmu?” ”Saya tidak tahu” jawab The Little Boy. Dan anak itu akhirnya membuat bunga dengan batang berwarna kuning dan bunga berwarna biru. The Litle Boy sangat menyukai sekolahnya yang baru, meski tidak memiliki daun pintu.
Dari dua cerita di atas, kita melihat sekolah-sekolah yang telah kehilangan sifat kekanak-kanakannya dewasa ini. Sekolah bukan lagi menjadi tempat terindah kedua bagi anak, melainkan kadang berubah menjadi penjara yang mematikan kreatifitas yang ada di dalamnya. Anak-anak menjadi robot yang dikendalikan oleh sebuah sistem kaku bernama kurikulum. Pendidiknya berlomba-lomba mengejar target –target akademik yang kadang menisbihkan sifat kekanakan anak-anak yang butuh bermain, sentuhan, kasih sayang dan gurauan. Akibat dari tidak banyak tersentuhnya sisi-sisi emosional semacam ini, sekolah menjadi tempat yang kering, bahkan tidak nyaman. Konon untuk melihat apakah sekolah itu menyenangkan atau tidak, cara mengujinya sangat sederhana. Lihatlah respon yang diberikan oleh anak didik saat bel panjang tanda pelajaran selesai berbunyi. Jika bunyi bel itu dibarengi dengan tepuk tangan atau luapan kegembiraan lainnya, bisa dipastikan kelasnya tidak nyaman alias menjemukan, atau pada tahap yang lebih ekstrim kelas yang memenjarakan.
Kita sering disuguhi tontonan amoral dan euphoria anak-anak didik kita. Semisal saat kelulusan mereka melakukan pawai bermotor, aksi corat-coret, tawuran, bahkan aksi non etis lainnya yang banyak kita temui di seantero Indonesia. Mereka seolah-olah menjadi beringas, tak beraturan dan dalam kasus tertentu tidak beradab. Itulah ekspresi kegembiraan mereka setelah terkungkung dalam “penjara “ bernama kelas. Memang ini bukan semata-mata akibat pendidikan di sekolah, namun peran sekolah tidak kecil adanya dalam pembentukan karakter anak didik yang belajar di dalamnya.
Masihkah kita berdiam diri dalam kenyataan pahit ini? Relakah kita jika anak-anak didik kita hanya menjadi penebar teror macam gank motor, penjual sensualitas berbalut video porno biru abu-abu. Saya yakin hati kecil kita menangis melihat semua kebobrokan ini. Kitalah yang diharapkan menjadi pilar utama perubahan itu. Kitalah yang menjadi harapan terakhir bangkitnya generasi-generasi emas yang akan membawa kejayaan Majapahit dan Sriwijaya ke pentas dunia. Kitalah yang memiliki peluang besar untuk mengukir sejarah besar itu kemudian hari. Ya, dari perilaku dan kepengasuhan kitalah anak-anak sebagaimana gambaran di atas akan kembali ke pangkuan salah satu muara pendidikan yang sebenarnya: menumbuhkan kesadaran dan kemuliaan budi pekerti. Semoga kita bisa menjadi contoh yang baik dari generasi yang banyak harinya diisi oleh kegalauan akan carut-marutnya bangsa ini. Dan berbanggalah karena kitalah yang dinanti perannya untuk melahirkan generasi emas bagi Indonesia yang lebih baik.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s