ARTI SENYUMAN SEORANG GURU

ARTI SENYUMAN SEORANG GURU
Sering kali keluguan dan kejujuran anak-anak membukakan mata hati kita atas sebuah kenyataan. Hal ini pula yang saya alami sesaat setelah mendengar cerita dari seorang bocah. Sebut saja namanya Andi. Dia bercerita tentang sebuah sekolah baru yang dipilihnya. Sebuah sekolah yang membuatnya bahagia dan betah berada di dalamnya. Bukan sekolah yang mewah dengan fasilitas segudang, atau pula sekolah dengan guru-guru terbaik bergelar sejagad. Bukan itu ternyata. Ia hanyalah sebuah sekolah dengan guru-guru yang selalu menebar senyum dan keramahan padanya. Senyum dan keramahan itulah yang membuatnya merasa nyaman dan aman berada di dalamnya. Dan itulah sekolah yang baik menurutnya.

Andi ini mencoba membandingkan sekolahnya saat ini (sebuah Sekolah Dasar negeri) dengan sekolah yang baru di kenalnya tadi. Bukan tanpa alasan jika dia membandingkan dan kemudian menarik kesimpulan semacam itu. Kesimpulannya tidak datang tiba-tiba, mengingat ada sebuah peristiwa yang melatarbelakanginya. Suatu pagi, dia pulang kerumah membawa sebuah tangisan dengan ekspresi wajah aneh. Ekspresi wajahnya mengguratkan ketakutan dan rasa bersalah yang dalam. Setelah ditanya barulah dia menjelaskan alasan dibalik kepulangannya pagi itu.

Senyum adalah ibadah yang paling mudah dan penawar segala kegundahan hati


Rupanya sang guru membentaknya di depan teman-temannya, hanya karena dia tidak membawa buku PR Matematikanya. Kemudian dia menjelaskan alasan untuk tidak membawanya kepada saya. Sebuah alasan yang saya pikir cukup rasional. Ternyata pada hari itu memang tidak ada jadwal pelajaran Matematika. Keputusannya untuk tidak membawa buku Matematika, dalam hal ini benar adanya. Dia mencoba menaati aturan-aturan yang dibuat bersama dengan guru dan kelasnya. Sejak peristiwa itu, dia selalu diliputi oleh ketakutan dan kekawatiran akan amarah sang guru. Tangisan adalah ungkapan emosionalnya jika ia lupa membawa sesuatu atau salah melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan perintah gurunya. Saya sangat bersedih , karena peristiwa itu telah melumpuhkan salah satu syaraf kepercayaan dirinya.
Dan cerita diatas mengingatkan saya pada sebuah cerita lain berjudul The Little Boy. Kisah seorang anak kecil yang datang ke sekolah dengan perasaan senang dan bahagia. Rasa-rasanya tidak ada hari sebahagia saat pertama kali mengenyam bangku sekolahnya. Suatu pagi, gurunya berkata,
”Hari ini kita akan menggambar.”
“Horee!” jawab The Litle Boy. Dia memang senang sekali menggambar, dari singa, macan, ayam hingga sapi. Lalu mulailah dia mengambil crayon dan menggores-goreskan di buku gambarnya. Tapi,”Tunggu! Waktunya belum mulai!” Seru sang guru.
”Sekarang, kita akan menggambar bunga ya.” Kata gurunya.
”Horee!” Terik The Little Boy yang memang suka menggambar bunga. Dia mulai membuat bunga dengan warna merah jambu dan kuning. Namun gurunya berkata,
”Tunggu, akan aku tunjukkan bagaimana caranya!”
Sang guru menggambar sebuah bunga berwarna merah dengan batangnya yang berwarna hijau di papan.
” Ini dia contoh bunganya. Sekarang silahkan menggambar ya!”Pintanya lagi.
The little boy melihat gambar gurunya dan kemudian melihat gambarnya sendiri. Sebenarnya dia lebih suka gambarnya dari pada gambar gurunya. Namun itu tidak ia katakan. Lalu ia meremas-remas kertas gambarnya dan membuat gambar sebagaimana contoh dari gurunya.

Akhirnya The Little Boy dan keluarganya pindah ke daerah lain, dan harus bersekolah di sekolah yang baru, sebuah sekolah yang lebih besar namun tidak memiliki pintu. Suatu pagi gurunya datang dan berkata,
” Hari ini kita akan membuat sebuah gambar!”
“Horee!” Jawab The Little Boy. Dan dia menunggu instruksi gurunya lebih lanjut. Namun sang guru tidak berkata apa-apa. Dia hanya berjalan keliling kelas, dari satu meja ke meja lainnya. Saat dia sampai di meja The little Boy, sang guru berkata,
“Tidakkah anda ingin membuat sebuah gambar? “
“Ya,” kata the little boy.
“Gambar apa yang akan kita buat?” Tanya The Little Boy. “Saya tidak tahu kalau tidak engkau beri contoh.” Kata The Little Boy lagi.”Bagaimana cara membuatnya?” Rengek The Little Boy. “Dan warnanya bagaimana?
“Apa warna yang kamu sukai?” Balik bertanya sang guru. Kemudian gurunya bertanya,
”Jika semua siswa membuat gambar yang sama, dengan warna yang sama, apakah saya tahu siapa membuat apa, mana punyamu dan mana punya temanmu?” ”Saya tidak tahu” jawab The Little Boy. Dan anak itu akhirnya membuat bunga dengan batang berwarna kuning dan bunga berwarna biru. The Litle Boy sangat menyukai sekolahnya yang baru, meski tidak memiliki daun pintu.
Dari dua cerita di atas, kita melihat sekolah-sekolah yang telah kehilangan sifat kekanak-kanakannya dewasa ini. Sekolah bukan lagi menjadi tempat terindah kedua bagi anak, melainkan kadang berubah menjadi penjara yang mematikan kreatifitas yang ada di dalamnya. Anak-anak menjadi robot yang dikendalikan oleh sebuah sistem kaku bernama kurikulum. Pendidiknya berlomba-lomba mengejar target –target akademik yang kadang menisbihkan sifat kekanakan anak-anak yang butuh bermain, sentuhan, kasih sayang dan gurauan. Akibat dari tidak banyak tersentuhnya sisi-sisi emosional semacam ini, sekolah menjadi tempat yang kering, bahkan tidak nyaman. Konon untuk melihat apakah sekolah itu menyenangkan atau tidak, cara mengujinya sangat sederhana. Lihatlah respon yang diberikan oleh anak didik saat bel panjang tanda pelajaran selesai berbunyi. Jika bunyi bel itu dibarengi dengan tepuk tangan atau luapan kegembiraan lainnya, bisa dipastikan kelasnya tidak nyaman alias menjemukan, atau pada tahap yang lebih ekstrim kelas yang memenjarakan.
Kita sering disuguhi tontonan amoral dan euphoria anak-anak didik kita. Semisal saat kelulusan mereka melakukan pawai bermotor, aksi corat-coret, tawuran, bahkan aksi non etis lainnya yang banyak kita temui di seantero Indonesia. Mereka seolah-olah menjadi beringas, tak beraturan dan dalam kasus tertentu tidak beradab. Itulah ekspresi kegembiraan mereka setelah terkungkung dalam “penjara “ bernama kelas. Memang ini bukan semata-mata akibat pendidikan di sekolah, namun peran sekolah tidak kecil adanya dalam pembentukan karakter anak didik yang belajar di dalamnya.
Masihkah kita berdiam diri dalam kenyataan pahit ini? Relakah kita jika anak-anak didik kita hanya menjadi penebar teror macam gank motor, penjual sensualitas berbalut video porno biru abu-abu. Saya yakin hati kecil kita menangis melihat semua kebobrokan ini. Kitalah yang diharapkan menjadi pilar utama perubahan itu. Kitalah yang menjadi harapan terakhir bangkitnya generasi-generasi emas yang akan membawa kejayaan Majapahit dan Sriwijaya ke pentas dunia. Kitalah yang memiliki peluang besar untuk mengukir sejarah besar itu kemudian hari. Ya, dari perilaku dan kepengasuhan kitalah anak-anak sebagaimana gambaran di atas akan kembali ke pangkuan salah satu muara pendidikan yang sebenarnya: menumbuhkan kesadaran dan kemuliaan budi pekerti. Semoga kita bisa menjadi contoh yang baik dari generasi yang banyak harinya diisi oleh kegalauan akan carut-marutnya bangsa ini. Dan berbanggalah karena kitalah yang dinanti perannya untuk melahirkan generasi emas bagi Indonesia yang lebih baik.

Iklan

Ayo Menjadi Guru Positif


Seorang kawan pernah mengajukan sebuah pertanyaan singkat. Begini pertanyaannya: apa yang biasa dilakukan seorang guru sesaat setelah memasuki kelas?. Jawabannya bisa bermacam-macam tentunya. Berdasarkan pengalaman yang saya pernah lakukan dan temui, paling tidak ada 3 jenis guru sebagaimana dimaksud di pertanyaan di atas, meskipun dalam prakteknya mungkin bisa lebih. Tipe Pertama, saya namai guru to the point. Maksudnya, seorang guru yang langsung tancap gas begitu memasuki kelas. Meminta siswa membuka halaman tertentu dan mengerjakannya. Atau menyuruh siswa maju ke depan menyelesaikan beberapa soal yang diberinya.Tidak banyak cakap pun juga tidak banyak aktifitas yang dilakukan di awal pertemuannya. Wajahnya banyak cemberut dan pasang tampang garang. Membuat kesan jika dia sosok guru yang patut disegani dan dipatuhi semua titahnya. Banyak siswa menjadi stress dan takut mengikuti pelajarannya.

Tipe kedua adalah guru model KTSP. Maksudnya guru Kasih Tugas Setelahnya Pergi. Ini tipe guru yang biasanya memiliki jam terbang sangat tinggi. Sebagai bendahara sekolah yang banyak waktunya dihabiskan membuat laporan BOS. Atau pun pejabat-pejabat sekolah lainnya yang karena ini dan itu tidak sempat mengajar pada saat tertentu. Namun ada juga guru yang sok sibuk. Melakukan kegiatan lain yang tidak ada hubungannya dengan sekolah. Misalnya, memperbaiki mesin motornya yang rusak, keasyikan ngobrol di ruang guru hingga lupa jam mengajar dan atau kegiatan remeh temeh lainnya. Dan karena begitu banyak tugas yang diberikan, kadang tidak sempat melakukan koreksi. Bahkan banyak diantaranya yang lupa untuk di kembalikan pada siswa. Dalam kondisi tertentu, banyak siswa menyukai tipe guru kedua ini karena mereka tidak banyak dituntut untuk belajar.

Tipe ketiga adalah guru kreatif. Seorang guru yang memiliki caranya sendiri untuk datang dan memulai pembelajaran. Senyumnya mengembang kemana-mana. Wajahnya selalu cerah ceria-meski tagihan bank membebani pikirannya. Tipe guru yang selalu optimis dan humoris. Dia paham sekali bahwa mengawali pembelajaran bersama murid hampir sama dengan melakukan suatu kegiatan olahraga. Harus ada pemanasan, stretching dan warming up dulu. Hal ini dilakukan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, seperti stress atau gangguan belajar lainnya. Kehadirannya banyak dirindukan siswa. Dari ketiga gambaran sederhana guru diatas, saya tertarik untuk membahas tipe yang ketiga.

IT’S NOT ABOUT YOU, IT’S ABOUT THE PERSON IN FRONT OF YOU!! Ujar Matthew Ferry. Dia adalah seorang motivator dan pakar penjualan yang sangat sukses. Menurutnya, sudah merupakan tabiat manusia menyukai sesuatu yang sama dengannya. Dia mengibaratkannya sebuah suku yang terdiri atas kumpulan manusia yang nyaris sama. Bagaimana mereka berbicara, berjalan dan melakukan segala sesuatunya secara mirip. Saat seseorang dari suatu suku lain ingin berinteraksi dengannya, maka ada perasaan tidak nyaman. Hal ini didorong karena pola komunikasi yang dirasa berbeda dan tidak sama dengan apa yang sesungguhnya mereka biasa lakukan.

Meski tidak sepenuhnya sama dengan penggambaran diatas, namun esensinya bisa memberi gambaran yang lebih jelas bagaimana memulai sebuah interaksi dengan seseorang/murid yang dalam banyak hal berbeda dengan kita (preferensi, emosi, dan lain-lain). Interaksi atau bangunan komunikasi diawal pembelajaran ini menjadi sangat penting. Ia akan mempengaruhi seluruh kegiatan yang kita rencakan saat itu. Sukses tidaknya pembelajaran itu salah satunya tergantung bagaimana kita memulainya. Memulainya dengan memunculkan masalah baru-sebagaimana tipe1 dan 2, atau memulainya dengan mencoba memecahkan masalah baru.

Kemampuan mengorkestrai seluruh potensi dan komunikasi di awal pembelajaran itu saya padankan dengan Rapport. Rapport disini bisa diterjemahakan sebagai sebuah pola hubungan yang harmonis antara pendidik dengan peserta didiknya. Phillip Hayes (NLP for the Quantum Change (2006) mengatakan bahwa penciptaan dan pembangunan hubungan positif (building rapport) berpengaruh sangat besar dalam kegiatan yang akan dilaksanakan.
Dan salah satu bagian penting dari building rapport adalah munculnya pengakuan (Recognition). Cara paling sederhana yang bisa digunakan untuk memunculkan pengakuan adalah melalui proses tune in atau calibrate. Ini adalah proses menyelaraskan diri antara pendidik dengan peserta didik. Kegiatan ini juga dikenal dengan menyamakan frekuensi. Dalam pembelajarn, proses ini diharapkan bermuara pada lahirnya mental positif siswa.

Di salah satu bagian sel otak terdapat sebuah “alat” bernama “Mirror Neuron”. Alat ini berfungsi untuk meniru segala sesuatu yang dilihat tanpa disadarinya. Dari sini kita semakin ngeh, bahwa jika awal masuk kelas memiliki peran yang sangat signifikan dalam mensukseskan pembelajaran kita, bukan? Pertanyaan selanjutnya adalah : apa yang kita sepatutnya lakukan untuk memaksimalkan kerja syaraf peniru ini?

Pertama, awali masuk kelas dengan wajah ceria, senyum mengembang penuh semangat. Tunjukkan bahwa kita benar-benar bahagia dan bersemangat untuk memulai hari itu di kelas .Tanpa disadari oleh peserta didik sesungguhnya kita telah mempengaruhi pikiran dan emosi mereka. Tanpa disadarinya pula kita telah membawa kondisi mereka seperti yang kita inginkan: ceria, semangat dan bahagia. Anda juga bisa membuat pekik semangat sendiri. Contohnya: Bahasa Inggris Mengasyikkan, sambil menggenggam dan mengangkat tangan ke atas. Atau disesuaikan dengan kondisi kelasnya. Saya misalnya, selalu memekikkan kata-kata berikut berulang-ulang dan kemudian diikuti oleh siswa: ”Kami di sini untuk bersenang-senang!”

Bukan tanpa sebab saya menggunakan pekik semacam ini. Mengingat Bahasa Inggris dipandang sebagai salah satu pelajaran yang paling “menakutkan” bagi siswa. Dengan memekikkan kalimat tersebut berulang-ulang, saya ingin mengubah state of mind siswa untuk berubah. Tidak lagi memandangnya sebagai ancaman dan hantu, memandangnya sebagai suatu kegembiraan. Proses ini akan berhasil jika dibarengi dengan pembelajaran yang kreatif. Melibatkan semua potensi siswa dan beragam pendekatan. Pembelajaran Bahasa Inggris banyak yang membosankan salah satunya diakibatkan karena pendekatan yang cenderung monoton atau banyak diisi dengan kegiatan translasi dan hafalan kata-kata baru (grammar- translation) belaka. Dengan kata lain siswa tidak memiliki ruang yang sangat luas untuk menggunakan dalam konteks komunikasi yang sebenarnya. Dengan kata lain, banyak terfokus pada kegiatan assertif dibanding produktifnya. Kemungkinan-kemungkinan semacam itu mestinya dihindari untuk menghasilkan pembelajaran yang efektif.

Kedua, pengaruhi mood siswa dengan cerita hikmah dan heroik. Salah satu kekuatan penting dalam proses belajar mengajar adalah keterkaitan emosional guru dengan siswa. Sebuah cerita yang kita sampaikan di awal pembelajaran akan memiliki kesan yang mendalam bagi anak didik. Kesan yang muncul dari cerita yang disampaikan juga akan membantu proses pembelajaran dan penyampaian materi selanjutya. Di samping itu, cerita juga mampu mengaktifkan seluruh perasaan yang positif pada sang pemberi cerita (guru).

Adalah David MC Celland – seorang psikolog sosial – yang tertarik untuk mengetahui kaitan cerita dengan mental positif. Dari hasil penelitiannya, dia mendapati bahwa negara yang memiliki cerita yang menggugah munculnya sikap positif (N-Ach) berpengaruh sangat besar terhadap kemajuan bangsanya kelak di kemudian hari.

Ketiga, gunakan permainan singkat. Permainan ini selayaknya disesuaikan dengan materi atau digunakan untuk pengayaan. Dalam pembelajaran Bahasa Inggris, misalnya anda bisa menggunakan banyak permainan (icebreaker game dan sejenisnya) untuk memulai aktifitas pembelajaran. Berikut adalah buku yang saya referensikan untuk penggunaan aktifitas tersebut dalam proses pembelajaran: Five Minutes Activities-Resource Book of Short Activities (Cambridge) atau Vocabulary Games for Teacher (Penguin). Atau anda bisa menggunakan berbagai aktifitas lainnya dan salah satunya yang terdapat di buku 3-Minute Motivators milik Kathy Paterson(Grassindo,2010).

Ketiga tahapan diatas adalah cara sederhana untuk menjadi guru positif. Diawali dari bagaimana kita mulai membelajarkan siswa. Sebuah tahapan krusial yang sering tidak disadari oleh banyak guru. Sukses tidaknya pembelajaran banyak ditentukan dari bagaimana kita memulainya. Mari kita mulai dari sesuatu yang positif, agar hasil akhirnya juga positif. Selamat mencoba dan selamat menjadi guru positif!!!!.

MENDORONG GURU TERUS BELAJAR DARI LINGKUNGAN YANG BERBEDA

Sudah berapa kali anda pindah mengajar?,tanya professorku sore ini pada seorang kolega guru sebuah SMP di Jepang. “6 kali !!!”, jawabnya mantaf. 3 kali pindah ke jenjang sekolah dasar dan 3 kali ke sekolah menengah. Tidak berapa lama setelahnya,gantian pertanyaan itu ditujukan padaku.”Belum pernah pindah!!!jawabku singkat. Mendengar jawaban dariku,tidak sepatah katapun keluar dari beliau untuk meresponnya. Entah apa yang berkecamuk dalam pikirannya ,beliau hanya mengangguk sambil sesekali memejamkan matanya.

Penulsi saat mengajar di Tsushinsei Kouko:sekolah bagi mereka yang tidak mau belajar di sekolah formal


Di Jepang, guru setiap 5 tahun sekali dipindah tugaskan ke sekolah baru. Perpindahannya bisa sejenjang atau ke jenjang yang lebih atas/rendah. Seorang teman lain saya di Jepang-Yamada sensei-dulunya mengajar sebuah sekolah dasar. Sejak setahun lalu dia dipindah tugaskan ke sebuah sekolah menengah pertama. Anehnya,sekolah yang baru adalah sekolah berkebutuhan khusus (deft School). Meski pelajaran yang diampuhnya sama-Bahasa Inggris- tapi konteks lingkungan dan muridnya berbeda 360 %. Dan dia tidak memiliki latar belakang pendidikan atau sertifikat yang menunjukkan kemampuannya melakukan assistensi pada anak berkebutuhan khusus. Setelah saya bertanya persoalan ini padanya,jawaban yang dia berikan berbeda jauh dari apa yang saya duga.”Senang,saya bisa mempelajari ilmu baru dan berteman dengan anak-anak berkebutuhan khusus!,jawabnya dengan penuh keyakinan.Sejak kepindahannya itu,dia kemudianbelajar kembali dan banyak berinteraksi dengan dunia barunya. Salah satunya berdiskusi dengan salah satu pakar pendidikan berkebutuhan khusus di universitas dimana saya belajar saat ini. Dari situlah awal mula perkenalan dengannya dimulai.
Beberapa kali beliau mengundang saya untuk mengajar di sekolahnya. Dan disekolah yang baru tersebut,saya menemukan sesuatu yang benar-benar baru. Yang tidak sama kondisinya dengan yang biasa saya temui dan lakukan di tanah air. Saya menemukan dan menghadapi tantangan belajar yang lebih berat tapi mengasyikkan. Menghadapi anak-anak yang karena sesuatu hal berbeda dari kebanyakan siswa lainnya. Membelajarkan mereka tidak hanya dengan menjelaskan dan menyuruh melakukan sesuatu,tetapi lebih dari itu. Bagaimana disaat yang bersamaan kita juga membutuhkan passion, ketelatenan. Tidak itu saja, kita juga dituntut menterjemahkan segala sesuatu menggunkan bahasa isyarat atau gestures. Mempelajarinyapun tidak semudah membalik telapak tangan. Membutuhkan waktu dan tenaga serta kesabaran. Tetapi itulah indahnya menjadi guru. Menghadapi tantangan dan persoalan baru setiap hari. Menjadikannya semakin cerdas dan terampil. Hal yang sama juga saya rasakan saat saya harus mengajar di beberapa sekolah yang berbeda di Jepang.Mulai dari Sekolah dasar hingga Sekolah Menengah Atas.
Seorang kolega lainnya lagi menemukan keasyikan tersendiri menjalani kebijakan ini. Dia merasa semakin percaya diri dalam bertugas. Pengalamannya berpindah-pindah tempat dan kondisi sekolah melahirkan kecakapan dan pengalam baru yang mungkin tidak didapatnya jika dia hanya berdiam diri di satu sekolah hingga pensiun nanti. Perpindahannya mengubah kondisi mentalnya waktu-ke waktu. Ketidakterjebakannya pada kondisi nyaman (comfort zone) mendorongnya terus belajar dan bergerak menjauh dari titik-titik yang kadang membuat seseorang merasa aman dan tidak ingin berubah sama sekali tersebut.Kolega dan kondisi kerja yang baru juga turut banyak berperan dalam pengembangan kemampuannya.
Akhirnya saya memandang betapa beruntungnya guru-guru di jepang memiliki kesempatan untuk mendulang pengalaman mengajar dari satu sekolah ke sekolah lainnya. Terlebih lagi masing-masing sekolah memiliki teaching context yang beragam.Perbedaan teaching context ini memungkinkan kesempatan yang berbeda bagi guru untuk belajar dan merasakan aneka tahapan yang sangat menantang dalam pengembaraan keilmuwannya.
Kebijakan ini mengingatkan saya akan pesan yang disampaikan oleh Alvin Toffler. Dia mengatakan bahwa “The illiterates of the 21st century will not be those who cannot read and write but those who cannot learn,unlearn dan relearn”. Dengan kata lain saya ingin mengatakan juga bahwa”Guru yang dibutuhkan abad ini bukanlah sosok guru yang hanya mahir mengajar namun mereka yang terus belajar dan belajar kembali!!!!. Ingin rasanya memiliki kesempatan sebagaimana guru-guru Jepang dapatkan. Berpindah dari satu sekolah ke sekolah lain. Semoga saya mendapat kesempatan itu meski harus bertugas di sekolah yang kecil dan tidak favorit sekalipun. Betapa indahnya petualangan itu nantinya. I am proud to be educator!!!.

Guru Antara Learn,Unlearn,Relearn

Guru Antara Learn,Unlearn,Relearn

Sudah berapa kali anda pindah mengajar?,tanya professorku sore ini pada seorang kolega guru sebuah SMP di Jepang. “6 kali !!!”, jawabnya mantaf. 3 kali pindah ke jenjang sekolah dasar dan 3 kali ke sekolah menengah. Tidak berapa lama setelahnya,gantian pertanyaan itu ditujukan padaku.”Belum pernah pindah!!!jawabku singkat. Mendengar jawaban dariku,tidak sepatah katapun keluar dari beliau untuk meresponnya. Entah apa yang berkecamuk dalam pikirannya ,beliau hanya mengangguk sambil sesekali memejamkan matanya.
Di Jepang, guru setiap 5 tahun sekali dipindah tugaskan ke sekolah baru. Perpindahannya bisa sejenjang atau ke jenjang yang lebih atas/rendah. Seorang teman lain saya di Jepang-Yamada sensei-dulunya mengajar sebuah sekolah dasar. Sejak setahun lalu dia dipindah tugaskan ke sebuah sekolah menengah pertama. Anehnya,sekolah yang baru adalah sekolah berkebutuhan khusus (deft School). Meski pelajaran yang diampuhnya sama-Bahasa Inggris- tapi konteks lingkungan dan muridnya berbeda 360 %. Dan dia tidak memiliki latar belakang pendidikan atau sertifikat yang menunjukkan kemampuannya melakukan assistensi pada anak berkebutuhan khusus. Setelah saya bertanya persoalan ini padanya,jawaban yang dia berikan berbeda jauh dari apa yang saya duga.”Senang,saya bisa mempelajari ilmu baru dan berteman dengan anak-anak berkebutuhan khusus!,jawabnya dengan penuh keyakinan.Sejak kepindahannya itu,dia kemudianbelajar kembali dan banyak berinteraksi dengan dunia barunya. Salah satunya berdiskusi dengan salah satu pakar pendidikan berkebutuhan khusus di universitas dimana saya belajar saat ini. Dari situlah awal mula perkenalan dengannya dimulai.

Saat mengajar di sekolah khusus (Tsushinsei Kouko) ,sebuah sekolah bagi mereka yang tidak ingin sekolah formal


Beberapa kali beliau mengundang saya untuk mengajar di sekolahnya. Dan disekolah yang baru tersebut,saya menemukan sesuatu yang benar-benar baru. Yang tidak sama kondisinya dengan yang biasa saya temui dan lakukan di tanah air. Saya menemukan dan menghadapi tantangan belajar yang lebih berat tapi mengasyikkan. Menghadapi anak-anak yang karena sesuatu hal berbeda dari kebanyakan siswa lainnya. Membelajarkan mereka tidak hanya dengan menjelaskan dan menyuruh melakukan sesuatu,tetapi lebih dari itu. Bagaimana disaat yang bersamaan kita juga membutuhkan passion, ketelatenan. Tidak itu saja, kita juga dituntut menterjemahkan segala sesuatu menggunkan bahasa isyarat atau gestures. Mempelajarinyapun tidak semudah membalik telapak tangan. Membutuhkan waktu dan tenaga serta kesabaran. Tetapi itulah indahnya menjadi guru. Menghadapi tantangan dan persoalan baru setiap hari. Menjadikannya semakin cerdas dan terampil. Hal yang sama juga saya rasakan saat saya harus mengajar di beberapa sekolah yang berbeda di Jepang.Mulai dari Sekolah dasar hingga Sekolah Menengah Atas.
Seorang kolega lainnya lagi menemukan keasyikan tersendiri menjalani kebijakan ini. Dia merasa semakin percaya diri dalam bertugas. Pengalamannya berpindah-pindah tempat dan kondisi sekolah melahirkan kecakapan dan pengalam baru yang mungkin tidak didapatnya jika dia hanya berdiam diri di satu sekolah hingga pensiun nanti. Perpindahannya mengubah kondisi mentalnya waktu-ke waktu. Ketidakterjebakannya pada kondisi nyaman (comfort zone) mendorongnya terus belajar dan bergerak menjauh dari titik-titik yang kadang membuat seseorang merasa aman dan tidak ingin berubah sama sekali tersebut.Kolega dan kondisi kerja yang baru juga turut banyak berperan dalam pengembangan kemampuannya.
Akhirnya saya memandang betapa beruntungnya guru-guru di jepang memiliki kesempatan untuk mendulang pengalaman mengajar dari satu sekolah ke sekolah lainnya. Terlebih lagi masing-masing sekolah memiliki teaching context yang beragam.Perbedaan teaching context ini memungkinkan kesempatan yang berbeda bagi guru untuk belajar dan merasakan aneka tahapan yang sangat menantang dalam pengembaraan keilmuwannya.
Kebijakan ini mengingatkan saya akan pesan yang disampaikan oleh Alvin Toffler. Dia mengatakan bahwa “The illiterates of the 21st century will not be those who cannot read and write but those who cannot learn,unlearn dan relearn”. Dengan kata lain saya ingin mengatakan juga bahwa”Guru yang dibutuhkan abad ini bukanlah sosok guru yang hanya mahir mengajar namun mereka yang terus belajar dan belajar kembali!!!!. Ingin rasanya memiliki kesempatan sebagaimana guru-guru Jepang dapatkan. Berpindah dari satu sekolah ke sekolah lain. Andai saya mendapat kesempatan itu meski harus bertugas di sekolah yang kecil dan tidak favorit sekalipun. Betapa indahnya petualangan itu nantinya. I am proud to be educator!!!.

Encouraging students to speak

Encouraging students to speak

By Paul Charles

Type: Article

Print
Email
Share
Comment
Rate

This article by Paul Charles aims to narrow the communicative approach into some practical steps towards successful speaking lessons.

Question: What would you suggest as a method of encouraging a student to speak, for example, when they are rather shy even in their native language? I remember GiddyGad once said that I can’t make a student use the expressions and vocabulary they do not even use in their native language, and I agree. But what about when they usually answer: “I don’t know,” “Hmm?” or only “Yes, I do,” “No, I won’t” etc… I realize it’s connected with psychology very closely… Any useful tips? Baca lebih lanjut