Murid Indonesia “Taihen” Banget Ya?

Entah berapa kali dia menggelengkan kepala,saya tidak menghitungnya. Masih saja dia membolak-balik halaman demi halaman sambil sesekali mengernyitkan dahi atau menggaruk kepalanya.Saya jadi curiga jangan-jangan dia ketombean.Maka kudekati,secara seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya kuamati helai per helai rambutnya.Ternyata tidak ada sedikitpun ketombe yang muncul. Tiba-tiba, dia mendekat dan bertanya lagi padaku – untuk yang ke dua kalinya :”Buku ini untuk anak SMA ya?, katanya sedikit tidak percaya.”Ya,ini untuk anak kelas X SMA”,jawabku singkat.”Ah,taihen ne!!!!balasnya singkat. Setelah kujawab,tidak kulihat lagi dia menggaruk-garuk kepalanya.Artinya, penjelasanku cukup memahamkan dia. Dan dia itu adalah seorang Guru Bahasa Inggris Sebuah SMA di Jepang. Orang Jepang asli tentunya.
Begini awal cerita hingga dia (guru Jepang) menggaruk-garuk kepalanya beberapa kali. Pagi ini saya mengunjungi sebuah sekolah setingkat SMA. Disela-sela mengunjungi Hitsuyukan High School itulah,saya berikan kado special buatnya.Sebuah buku teks bahasa Inggris kelas X SMA. Dialog singkat diatas adalah reaksinya sesaat setelah menerima dan membuka buku teks Bahasa Inggris X SMA bermerek Platinum tersebut. Bagi dia, buku teks setebal itu sangat aneh dan dipandangnya sangat ekstrim. Terlebih lagi setelah dia melihat isi dan bentuk tulisan. Disamping font-nya yang kecil,buku tersebut penuh sesak dengan berbagai materi.Makanya dia sangat kasihan dengan siswa di Indonesia yang harus belajar sekian banyak materi tersebut. Sayangnya,tidak banyak guru dan siswa yang kasihan melihat diri mereka harus berjibaku dengan materi seabrek tadi,ya?. Karena filosofinya orang kita kan ndendang banget:”sabar lan nrimo ing pandum”.
Karena dia mengatakan buku teks kita kegedean,saya jadinya tidak terima,Cius Miyappah?kataku padanya.“Don’t Judge a Book by It’s Pages” kataku lagi.Dia hanya diam dan tersenyum padaku. Akupun paham bahasa tubuhnya itu.Lalu dia mengambil sebuah buku teks yang digunakan di sekolah Jepang. Melihat cover bukunya saja saya sudah seneng,apalagi membacanya ya?.Jumlah halaman buku teks itu tidak ada separuh jumlah miliki sekolah kita. Apalagi kalau kita telisik halaman per halaman,materinya jauh lebih sederhana dan sedikit dibanding milik kita.Yang sangat membedakannya adalah penggunaan font. Di buku teks Jepang,menggunkan ukuran huruf 16 untuk bacaan,dan 14 untuk lainnya. Satu teks bisa memakan 4-6 halaman.Dengan variasi dan visualisasi berupa photo berwarna di kertas glossy. Sebuah bacaan biasanya diperkaya dengan kosakata yang diletakkan disisi kanan halaman,diikuti oleh kegiatan pengembangan 4 skills terkait tema yang dibahas.Diakhir setiap babnya selalu ada lembar kerja siswa,tugas proyek dan diakhiri dengan rangkuman materi dan kosakata.Begitulah dia memamerkan bukunya yang mirip manga tersebut. Please deh,jangan bandingkan kita dengan Jepang,disini tidak ada korupsi”.Makanya pemerintahannya bisa membuat buku teks sebagus dan se ciamik itu.Lah,di Negara saya,jangankan buku teks, Al-Quran saja dikorupsi kok????. Tenang saudara,perkataan seperti yang saya tulis di kalimat terakhir tadi tidak saya ucapkan pada dia kok,hanya berkata dalam hati saja. Lagian,ngapain menjelek-jelekkan bangsa sendiri di muka umum,jelek-jelek begini,nasionalisme masih tinggi loh?.Kembali lagi ke topic bahasan yuk…..?.
Dilihat dari materi,memang tidak seberat milik kita.Untuk ukuran anak SMA Indonesia,buku teks itu sangat mudah sekali.Mengapa sangat mudah,tunggu saja jawabannya beberapa bulan ke depan,he he he.maklum,karena saya masih menyiapkan jawabannya,he he he he (jurus ngeles di saat kepepet).
Oh ya,hari ini saya untuk kedua kalinya mengunjungi SMA Hitsuyukan yang kapan hari saya ceritakan itu loh. Hari ini kami mengikuti open class atau Bahasa Indonesia kelas yang terbuka. Maksudnya,setiap orang bisa masuk dan melihat bagaimana pembelajaran suatu sekolah/kelas. Kegiatan ini di Jepang sering disebut “Koukai Jugyo’”.Saya ikut mengajar dan melakukan observasi di 3 kelas berbeda. Satu kelas dengan satu guru dan dua lainnya team teaching dengan penutur asli (native speaker,ALT). Banyak hal yang saya dapat,mulai dari bagaimana mereka mengorganisir kelas,melakukan proses sampai melakukan assessment. Sudah tidak sabar rasanya ingin menceritakan pengalaman itu pada anda semua. Terlebih lagi kalau ingat kata-kata bijak berikut:”Ikatlah Ilmu Dengan Menulisnya”!. sayang malam ini saya belum bisa menceritakannya pada anda,karena saya harus segera bergabung dengan RELO US Embassy untuk kuliah online.See ya!!!!Seize the day.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s