Antony Seldon dan Sekolah Kita

Oleh:

Heriyanto Nurcahyo

Dia bernama Antony Seldon. Seorang Kepala Sekolah di Wellington College Inggris. Dialah yang beberapa tahun silam menggagas pembelajaran kebahagiaan dan psikologi positif di sekolahnya. Keinginannya di dorong oleh kondisi yang disebutnya sebagai ill-balanced. Dia menyadarai bahwa pendidikan memang berkewajiban menghasilan pribadi-pribadi yang unggul dalam kehidupan kelak. Namun demikian, bukan semata-mata sebagai terminal akhir dari pendidikan itu sendiri. Karena ada tugas mulia lainnya yang diembannya yaitu, meretas jalan menuju manusia bahagia lahir dan batin.
Bagaimana wujud pembelajarannya di kelas? Seldon menjamin bahwa pembelajaran yang digagasnya tidak akan sama dengan pelajaran yang sudah ada.Yang hanya dilihat dari perolehan pengetahuan melalui uji tulis belaka. Seldon menjelaskan bahwa “Ini adalah tentang belajar emosional dan kecerdasan emosional, dan merupakan kegiatan yang jauh lebih reflektif. Murid akan belajar tentang bagaimana membentuk hubungan yang sehat dan saling menghargai. Mereka akan memperoleh pemahaman tentang tujuan dan bagaimana mengatur hidup dan kehidupannya. Emosi negatif sebagai bagian tak terhindarkan dari kehidupan akan dieksplorasi: siswa akan dapat mempelajari lebih lanjut tentang apa yang menyebabkan mereka sakit dan ketidakbahagiaan, bagaimana mereka dapat menghindari atau meminimalkan emosi dan bagaimana berurusan dengannya saat kondisi itu terjadi.Jadi intinya adalah bahwa siswa belajar lebih banyak tentang diri mereka sendiri, dan akan menjadi informasi berguna bagi sisa hidupnya.”(Buah pemikirannya bisa anda baca selengkapnya di sini).
Apa yang disampaikan oleh Antony Seldon diatas memberi saya pelajaran dan sentilan-sentilan penting. Bahwa -sebagai guru- saya telah terjebak pada anggapan-anggapan keliru. Menganggap keberhasilan pendidikan hanya dapat dilihat dari seberapa tinggi anak didik memperoleh nilai mata pelajaran yang saya ampuh. Keberhasilan pendidikan hanya dilihat berapa kali sekolah saya menjuarai olimpiade sains. Dilihat dari seberapa banyak alumni yang diterima di sekolah/PTN paforit. Atau berapa banyak alumni yang sudah menjadi”orang” di pentas nasional. Apakah pencapaian-pencapain semacam itu yang lantas membuat hati saya menjadi bangga dan bahagia?. Kalau itu maknanya, maka saya juga dituntut bangga dan bahagia telah menghasilkan ratusan bahkan ribuan koruptor-koruptor di negeri ini. Mereka juga bagian dari produk pendidikan dan saya juga yang turut menjadikannya tenar sedemikian rupa,bukan?.
Menelisik lebih dalam lagi,saya baruh ngeh,jika sesungguhnya tugas guru bukanlah mengisi pundi-pundi pengetahuan siswa sebanyak yang diharapkan oleh kurikulum,namun lebih pada usaha memantik bara api dan motivasi belajarnya.Inilah sesungguhnya tugas utama seorang guru,membangkitkan motivasi belajar siswa. Belajar tentang apa saja, bahkan belajar tentang dirinya sendiri.Karena kita sama-sama memahami bahwa yang mengenal dirinya sendiri berarti dia akan mengenal penciptanya juga.
Suatu hari,saya ajak anak-anak satu kelas keluar ruangan. Tidak ada yang boleh dibawah olehnya selain snack yang telah dipersiapkan sebelumnya. Masing-masing anak membawa makanan ringan seharga 500 perak. Saya bagi anak-anak dalam 8 kelompok dengan 5 siswa masing-masing kelompoknya. Beberapa menit kemudian,dengan riang dan gembira mereka mulai berlari kesana kemari di lapangan basket sekolah. Mereka tidak sedang melakukan olahraga,meski aktifitasnya serupa kegiatan olahraga.Pun mereka tidak sedang bergurau dan main kejar-kejaran,meski kelihatan seperti bergurau dan main kejar-kejaran.Mereka sesungguhnya sedang belajar!!!. Belajar dengan cara lain.
Dikejauhan,seseorang berdiri dengan sangat angkuhnya, memandangi penuh kecurigaan apa yang kami lakukan. Saya baru tahu setelahnya, jika beliau tidak berkenan dengan apa yang kami lakukan.Dan menganggap kami melakukan sesuatu yang sia-sia. Umpatannnya pada kami,tidak menyurutkan langkah untuk memaknai pembelajaran sebatas transfer ilmu semata. Dia marah melihat siswa membawa makanan kecil sambil “bergurau ‘ dilapangan.Kegiatan yang dapat mengganggu pemandangan sekolah yang harus tetap kelihatan sepi dan senyap agar dianggap pembelajarannya berhasil dan kondusif. Beliau lupa untuk menanyakan,apa yang sedang kami lakukan dan untuk apa snack itu?.
Eniwei, Diakhir pembelajaran itu,kelompok yang memenangkan game mendapat hadiah dari temannya berupah snack. Demikian juga yang kalah. Dalam permainan ini, saya hanya ingin mengatakan pada siswa bahwa jauh lebih indah untuk bersama-sama menikmati kemenangan dan kesuksesan orang lain dibanding meresponnya dengan iri dan dengki. Disisi lain,menghargai setiap upaya yang telah kita lakukan,apapun hasilnya.Karena kesuksesan itu dibentuk dari keduanya:menang dan kalah. Saya yakin,setelah mengetahui tujuan ini sang kepala sekolah tadi akan mahfum dan paham.
Saya juga selalu mengawali 10 menit diawal pembelajaran dengan kegiatan bercerita. Keyakinan sayalah yang mendorong untuk melakukannya.Emosi positif yang berhasil kita bangun diawal pembelajarn akan menopang gairah dan motivasi belajar siswa setelahnya. Kegiatan saya ini memang tidak lazim dan dipandang sebagai sebuah pemborosan jam efektif. Karena apa yang saya lakukan tidak ada sangkut pautnya dengan pembelajarn yang akan saya sampaikan. Tetapi saya tetap berteguh pendirian untuk melaksanakannya meski banyak cemoohan.
Anak didik tidak hanya membutuhkan pengetahuan,tapi yang sering lupa,mereka juga butuh energy untuk menggerakkan pengetahuan tersebut. Itulah yang tidak dimiliki oleh sebagian besar sekolah kita. Kelas menjadi sangat kering dan monoton,karena hanya berisi rumus dan postulat-postulat belaka.Sentuhan-sentuhan hati seolah menjadi bagian dari dunia lain,yang tidak perlu disampaikan. Karena mencapai target kurikulum jauh lebih membuat pendidik percaya diri dari pada menghabiskan waktu’untuk “membual” sesuatu yang tidak diujikan di UN dan ujian sekolah.Padahal menurut Al Ghazali dalam bukunya yang berjudul”Kimia Kebahagiaan” kesempurnaan kebahagiaan itu bergantung pada tiga kekuatan:Kekuatan syahwat,amarah dan Ilmu.Bukankah ini satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan?pun juga dalam konteks pendidikan?yang ujung-ujungnya adalah mencapai kebahagiaan dalam pengertian yang sebenarnya?
Saya mendorong anak didik memiliki mimpi-mimpi besar dan membebaskannya dari sekedar berfikir dan menghabiskan waktu memelototi tumpukan kertas soal-soal agar lulus UN dan SNMPTN semata. Mimpi itulah yang seharusnya mereka miliki,karena dengannya dia memiliki tujuan untuk apa belajar.Apa manfaatnya bagi kehidupannya kelak?dan bagaimana mencapainya. Dsiamping mimpi-mimpi itulah yang menjadikan kehidupan kita lebih indah dan menantang.
Akhirnya,Saya memimpikan,sekolah yang memberi kebebasan pada individunya untuk menentukan apa yang akan dipelajarainya dan bagaimana melakukannya. Karena dari situlah sekolah memberi ruang dan mendorong kita untuk terus belajar? I am proud to be an educator!!!!
“There are two kinds of teachers: the kind that fill you with so much quail shot that you can’t move, and the kind that just gives you a little prod behind and you jump to the skies.”
― Robert Frost
“What the teacher is, is more important than what he teaches.”
― Karl A. Menninger

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s