It is my life not a job

Menarik sekali membaca sebuah artikel di Guardian.co.uk pagi ini. Judulnya pun agak sedikit “provokatif”: “Secret Teacher: stop micro-managing teachers and give them time to think”. Sang penulis mulai bercerita betapa hari-harinya selalu diisi oleh serangkaian kegiatan terprogram. Mulai dari menyiapkan bahan ajar sampai memenuhi undangan rapat guru. Dengan bahasa yang sedikit agak ekstrim,dia menggambarkan sosok guru yang selalu dihantui oleh serangkaian aturan yang berada di sekelilingnya. Semua berisi apa yang semestinya dan tidak semestinya seorang guru lakukan.Bahkan ,dikamar kecilpun dia tidak luput dari serangan aturan itu.” However, it is a job not my life” tulisnya.
Kegelisahan semacam ini bukan semata-mata dialami guru-guru di UK (Inggris Raya) saja. Bahkan guru di seluruh pelosok dunia sekalipun merasakan hal yang sama. Terbelenggu aturan,tak sempat berkreatifitas.Terjebak rutinitas dan melakukan hal-hal mekanis saja.Datang,ngajar,pulang.Tidak jarang kegiatannya sekedar menggugurkan kewajiban semata.Kalau hal ini yang terjadi,maka saya setuju dengan apa yang dikatakan penulis tadi. Guru hanyalah sebuah pekerjaan bukan kehidupan.
Seorang sahabat pernah bercerita tentang tekad kerasnya menjadi pendidik yang sebenar-benarnya pendidik. Dia menggambarkannya sebagai sebuah rumah. Yang tidak hanya dia gunakan saat hujan dan panas belaka. Namun juga dia gunakan saat gentengnya bocor atau saat dindingnya bolong.”Kalau aku menemukan gentengnya bocor,maka aku betulkan, begitu juga saat dindingnya bolong-bolong. Aku merawatnya,mengecat dan mengganti bagian-bagian yang usang. Begitulah profesi guru nantinya akan aku maknai”,katanya mengakiri. Itu dia ucapkan dulu saat dirinya belum menjadi Pegawai Negeri. Sekarang?entahlah,karena sudah lama aku tidak berjumpa dengannya.Semoga saja apa yang dia ikrarkan dulu tetap sama dengan yang dijalaninya saat ini. Meski ia telah menjadi seorang abdi negara berlencana KORPRI.
Menyadari jikalau guru tidak hanya sekedar pekerjaan. Ianya lebih dari itu bahkan lebih penting dari sekedar pekerjaan. Pernyataan ini mengingatkan saya pada seorang siswi SMA di Jepang (Hitsuyukan High School). Dia bertanya alasan saya menjadi seorang pendidik. Seketika saya menjadi tersedak!!!poor me!!!you asked s’thing I even never think about!!!.Entah mengapa tiba-tiba saya merasakan sesuatu yang salah pada diri saya. Kegamangan ini memunculkan sebuah tanda tanya besar”benarkah aku ini guru yang sebenar-benarnya guru?
Semakin merenung,semakin jauh rasanya kriteria guru itu dariku.Kalaupun perspektifnya Willian Arthur Ward yang dipakai untuk memaknainya,maka saya baru sampai pada tahap mediocre teacher.Seorang guru yang hanya mampu menceritakan apa yang aku punyai. Kasta terendah dari sebuah maqam guru. Dalam perspektifnya Scrievener saya juga tidak berbeda jauh dengan apa yang digambarkan oleh Ward diatas. Hanya sampai pada tahap “The Explainer”. Seorang guru yang hanya mengajar apa yang diketahuinya semata!!!!.. Apalagi kalau ukurannya Al gahzali, saya hanyalah seorang guru yang tidak tahu bahwa saya ini bodoh!!!! Nah kan?…..
Kembali ke pertanyaan sang siswa tadi. Akhirnya aku beranikan menjawab meski jauh dari apa yang sesungguhnya ada pada diriku:
1. Kodomono mirai ni kakawaru kotoga dekiru
2. Wakai kokorode irareru
3. Kamisama to jindui eno watshi no koken
Sebuah jawaban yang terlalu abstrak. Namun sesungguhnya itulah yang aku inginkan dari sosokku sebagi seorang guru.Menjadi pelita kehidupan dan wujud bhaktiku pada Allah dan umat manusia. Sedangkan bonusnya awet muda (younger mind).
Semoga pertanyaan sang siswa tadi mengingatkan saya selalu bahwa menjadi guru adalah pilihan mulia. Maka isilah hari-harinya dengan kemuliaan dan pengabdian. Saya seharusnya memikirkan pendidikan seperti saya memikirkan diri dan keluarga saya: selalu berupaya memberikan yang terbaik. Karena hanya dengan itulah Allah memiliki alasan untuk memberiku kemudahan di dunia dan di akhirat.I am proud to be educator!!!!!!!.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s