MENGINTIP AKTIFITAS HARIAN SEKOLAH DI JEPANG

MENGINTIP AKTIFITAS HARIAN SEKOLAH DI JEPANG dimuat di kolom opini Jawa Pos Radar Banyuwangi:Jumat 2 November 2012

Salah satu siswa SMA Maristo saat membersihkan kamar mandi


OLeh:
Heriyanto Nurcahyo
Guru SMA Negeri Glenmore Banyuwangi, Sedang Belajar di Graduates School of Education Kumamoto University Jepang atas beasiswa Manbusho

Kudapati sebuah pagi yang cerah.Mentari mulai merambat pelan saat ku bergegas kearah stasiun trem. Puluhan siswa sekolah menengah atas telah berbaris rapi menunggu antrian. Beberapa saat kemudian, trem pun datang . Satu persatu mereka masuk tanpa desak-desakan apalagi saling berebut.Pemandangan harian yang selalu saya temukan di Jepang. Tidak terasa 20 menit berlalu dan trem pun berhenti tepat di depan sebuah gedung SMA. Maristo High School namanya.
Pagi itu saya memenuhi undangan Masumitsu sensei. Seorang guru sekolah tersebut. Beliau sudah beberapa kali menghubungiku untuk membantu mengajar dan mengikuti kegiatan sekolah selama seharian penuh. Sebuah kesempatan yang luar biasa tentunya.Tidak saja memungkinkan saya melakukan observasi pembelajaran di sekolah, namun kesempatan untuk memindai budaya dan kebiasaan positif di sekolahnya. Pengalaman sehari di sekolah Jepang tersebut saya bagi dalam tulisan kali ini.
Tidak seperti di Indonesia, di Jepang sekolah memulai aktifitasnya pada pukul 08:15 dan mengahirinya pada pukul 16:30. Dalam rentang waktu tersebut,ada beberapa kegiatan pra dan paska pembelajaran menarik yang bisa kita jadikan perbandingan. Misalnya, kegiatan pra pembelajaran selalu terbagi dalam 3 kegiatan utama. Masing-masing berdurasi 10 menitan. Diawali oleh Staff Meeting (pembinaan guru) selama 10 menit. Kegiatan ini sangat singkat dan efektif.Setiap guru diberi kesempatan untuk menyampaikan informasi baru atau permasalahan yang dihadapainya.
10 (sepuluh) menit kedua di isi dengan kegiatan membaca aneka buku. Saat itu ,tidak ada satupun suara yang terdengar.Semua siswa, guru dan seluruh staff sekolah menghentikan semua aktifitasnya. Sebagai gantinya mereka meraih buku-buku yang telah dipersiapkan dan mulai membacanya. Dibeberapa sekolah lain yang saya kunjungi, kegiatan ini kadang diselingi dengan mendengar sebuah cerita hikmah dan kepahlawanan bangsa Jepang. Seorang siswa di tunjuk secara bergantian untuk membacakan cerita dan menyiarkannya ke seluruh ruangan sekolah.Tidak jarang juga mereka menggunakan Bahasa Inggris.
Kegiatan membaca diakhiri dengan Short Homeroom Teacher. Inilah kegiatan wajib yang dilakukan oleh wali kelas sebelum pelajaran dimulai. Para wali kelas mengunjungi kelas binaannya untuk berbagi informasi persekolahan yang penting atau mendengar beberapa keluhan dan permasalahan sang siswa. Peran wali kelas di Jepang memang sangat penting.Mereka akan setia seharian untuk mengikuti perkembangan anak buahnya. Mengamati perkembangannya dan menjadi penghubung antara sekolah dan orang tua. Biasanya mereka dibekali buku penghubung. Buku ini berisi kegiatan siswa di sekolah/rumah dan juga permasalahan dan harapan orang tua terhadap proses belajar anaknya. Wali kelas benar-benar menjadi orang tua mereka di sekolah.
Barulah setelah kegiatan pra dilaksanakan, para siswa bersiap untuk mengikuti pembelajaran. Satu jam pelajaran berlangsung selama 50 menit. Sehari siswa mengikuti 7 jam pelajaran. Dimana tidak ada satupun mata pelajaran yang berlangsung selama 2 jam berturut-turut sebagaimana kita di Indonesia. Yang menarik untuk diketahui adalah cara sekolah menyusun dan mengatur jam-jam belajarnya. Disetiap pergantian jam,ada jeda waktu 10 (sepuluh) menit. Jeda ini dimaksudkan untuk memberi kesempatan pada siswa yang akan ke kamar kecil atau menyiapkan materi selanjutnya.Sehingga jam pelajaran efektif tidak terganggu oleh waktu yang dihabiskan oleh persiapan siswa atau guru yang berpindah dari satu kelas ke kelas lainnya.
Tepat pukul 12:35 bel panjang berbunyi tanda waktu istirahat dan makan siang. Semua kelas dan wali kelas menuju kelasnya masing-masing untuk makan siang bersama. Atau di beberapa sekolah lain yang saya kunjungi, mereka makan di kantin sekolah. Ada pengalaman menarik saat saya mengunjungi satu sekolah.Dimana sekolah menjadwal secara bergiliran siswa-siswa yang bertugas sebagai”pelayan” makan siang kelasnya. Petugas ini berkewajiban menyiapkan segala keperluan terkait dengan makan siangnya. Lauk,nasi,dan peralatan makan lainnya. Biasanya sebelum makan,petugas mengumumkan menu hari ini. Siapa yang memasak,berapa kandungan gizi,dan apa manfaatnya bagi tubuh.Setelahnya sebuah music klasik mengalun merdu menemani makan siang mereka.
Kegiatan ini berakhir saat bel jam ke 5 (13:20) dimulai. Siswa dan guru kembali melanjutkan aktifitas pembelajarannya sampai pukul 16:10. Untuk sekolah dasar,biasanya mereka pulang satu jam lebih awal daripada siswa SMP/SMA.
Berbeda dengan sekolah dasar yang melakukan kegiatan bersih-bersih saat rehat makan siang.Siswa SMP/SMA melakukannya setelah jam pelajaran berakhir. Pada kegiatan bersih-bersih ini, wali kelas akan mengunjungi kelasnya dan bersama-sama mulai membersihkannya. Saya melihat,siswa-siswa yang berjibaku dengan lap pembersih menggosok setiap bagian lantai kelas. Memungut sampah dan memilahnya sesuai dengan jenisnya untuk kemudian dibawah ke tempat sampah sekolah. Sebagian siswa bertugas membersihkan kamar mandi. Kebetulan saat itu saya bertugas membersihkan kamar mandi laki-laki. Tanpa banyak mengeluh dan iri-irian kami mulai menggosok tempat buang air kecil dan besar. Sambil bekerja, kami berbagi cerita dan canda.Tanpa terasa kamar mandi itu menjadi kembali bersih sebagaimana sebelumnya.Setelahnya mereka kembali ke kelas masing-masing untuk mendengar informasi terakhir dari wali kelas. Biasanya wali kelas akan mengumumkan apa agenda,tugas-tugas yang harus diselesaikan atau kegiatan yang harus diikuti siswa esok harinya. Tepat pukul 16:30 pembelajaran di sekolah diakhiri.
Setelah jam berakhir tidak berarti siswa langsung pulang ke rumah. Karena berbagai aktifitas di club sekolah sudah menanti. Club adalah pusat kegiatan siswa di luar jam sekolah (ekstrakurikuler). Saya berkesempatan mengikuti kegiatan club para siswa. Melihat bagaimana siswa berlatih memanah, renang, tenis, kendo, karate, kempo, basket, handball, softball/baseball,atau sepak bola.Setidaknya ada sekitar 20 an jenis club yang bisa dipilih dan dijalani para siswa.
Pada saat yang sama gurunya pun menemani siswa-siswa berlatih. Dan bagi mereka yang tidak membina sebuah club, maka waktunya dihabiskan di meja. Mengerjakan tugas sekolahnya, menyusun RPP untuk esok hari atau mengoreksi hasil pekerjaan siswa. Aktifitas siswa di clubnya masing-masing berakhir pukul 19:00. Setelahnya siswa akan pulang ke rumah atau meneruskan perjalanan menuju cram school (LBB). Banyak dari mereka yang menghabiskan waktu malamnya di LBB yang tersebar di kota itu. Seringkali saya mendapati anak-anak SMA yang pulang hingga tengah malam, bersepeda ria dijalanan yang mulai sepi. Memang mereka membiasakan belajar secara tekun dan keras untuk memenangkan persaingan hidup di Jepang yang sangat tinggi. Disisi lain,banyak juga guru-guru yang masih bertahan di sekolah hingga larut malam. Rata-rata mereka baru pulang ke rumah jam 8 atau 9 malam setelah persiapan untuk esok hari selesai.
Dari cerita diatas, ada beberapa hal penting terkait pendidikan di Jepang.Ternyata siswa Jepang memiliki waktu belajar lebih pendek dibanding dengan Indonesia. Di Jepang, mereka hanya belajar di kelas selama 5,8 jam. Bandingkan dengan Indonesia yang 6 jam. Siswa di Jepang memiliki waktu istirahat di sekolah yang lebih lama (2 jam).Berbeda jauh dengan sekolah kita yang hanya berkisar 15-30 menit saja.Ini berarti bahwa lebih banyak waktu yang dihabiskan oleh sebagian besar siswa Jepang untuk pengembangan diri dan belajarnya. Di Indonesia mungkin sebaliknya.
Sekolah Jepang berupaya menyeimbangkan konsep pendidikan tiga dimensinya (Tubuh-Jiwa-Otak). Kebiasaan positif yang saya gambarkan diatas adalah bentuk sederhana bagaimana tiga dimensi ini diwariskan pada generasinya. Semoga sekolah-sekolah kita kembali bergairah untuk tidak sekedar mencapai keberhasilan akademik namun juga menyemai potensi jiwa dan tubuh anak didik.Agar anak didik memiliki banyak waktu untuk mengembangkan potensi dan kreatifitasnya.Bukan sebaliknya,menghabiskan waktu di luar sekolah dengan tawuran atau kegiatan tidak produktif lainnya.Ganbaro pendidikan Indonesia!!.

Iklan

4 thoughts on “MENGINTIP AKTIFITAS HARIAN SEKOLAH DI JEPANG

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s