Lupa Garbage Duty

CELOTEH SIANG:

CELOTEH SIANG:

Mustinya Selasa kemarin ,tetapi karena lupa dan tidak sempat melihat notifikasi di mailbox apartement terpaksalah saya ditelpon sebanyak 2 kali oleh induk semang (ibu apartement). Telpon yang pertama saya terima Rabo pagi. Mengabarkan jika sehari sebelumnya saya tidak melaksanakan kewajiban “Garbage Duty”.”Dame Yo!!!!katanya kemudian saat saya utarakan alasan tidak melaksanakannya karena tidak tahu. Sebuah alasan yang terkesan mengada-ada bagi warga Jepang. Alasan ini mengingatkan saya pada sebuah pepatah:orang yang banyak alasan menandakan kelemahannya. Tepat sekali untuk menggambarkan kondisi saya saat itu.
Eniwei, Siang ini saya mendapat telpon yang kedua kalinya. Menanyakan mengapa saya tidak melaksanakan “Garbage Duty ” lagi. Kalau yang pertama karena saya tidak melihat notifikasi dan yang kedua ini benar-benar lupa. “Sumimasen,boku wa wasuremashita!!!!! jawab saya dengan bahasa Jepang yang terbatas.Lagi-lagi suara di seberang telpon sana menjawab”Dame Yo!!!!!. Setelah mendengar penjelasan singkatnya,saya pun menawarkan perdamaian dengan jalan akan melaksanakannya jam 4 sore ini. Salah satu kemampuan handal orang Indonesia adalah mampu berdamai disaat terjepit.
Inilah Jepang!!!!!aturan ditegakkan begitu ketatnya bahkan untuk urusan kecil sekalipun. Garbage duty misalnya. Setiap penghuni apartement berkewajiban membersihkan sampah yang berserakan disamping gedung apartemen. Kewajiban ini mirip dengan piket kelas anak sekolahan di Indonesia. Beberapa kali melaksanakan Garbage Duty tidak pernah sekalipun saya “panen” sampah. Mungkin hanya putung rokok dan satu dua pembungkus permen. Bahkan saya seringkali tidak menghasilkan apa-apa dalam pembersihan itu.Tapi,karena sudah menjadi kesepakatan bersama, apapun kondisi dan keadaanya, aturan tersebut harus tegak,setegak tiang pancang Jembatan Suramadu.
Kita memahami jika aturan dibuat untuk dilaksanakan bukan untuk dilanggar. Pemeo yang mengatakan bahwa hadirnya aturan untuk dilanggar sudah seharusnya dihapus dalam memory kita. Karena anggapan itulah yang menjadikan hukum/aturan tak ubahnya lelucon belaka. Pendapat saya ini jelasnya akan disetujui oleh pakar hukum semacam Mahhfud MD atau Todung Mulya Lubis,tetapi tidak untuk anggota DPR,he he he he he.
Kalau anda berkesempatan mengunjungi sekolah-sekolah dii Jepang, anda akan menyaksikan bagaimana aturan dan kedisiplinan itu disemai dan diwariskan. Tidak banyak aturan yang membelenggu. Pun tidak banyak aturan tersebut yang ditegakkan melalui tulisan belaka. Bahkan jarang saya temui slogan”Kebersihan Sebagian Dari Iman”,atau jagalah Kebersihan,jangan buang sampah sembarangan,jangan terlambat,dll. Karena kesadaran sudah disemaikan semenjak dini. Dan diwujudkan dalam bentuk prilaku. Bukan lagi konsep apalagi slogan-slogan dan baliho besar semata. Dan semua itu ditopang oleh pondasi yang amat kuat berbahan ketauladanan.
Melihat kebiasaan positif di sekolah Jepang memunculkan motivasi tinggi untuk melakukan hal yang sama sesampainya di tanah air nantinya. Tidak ada yang lebih indah dan bijaksana yang bisa kita lakukan selain memulainya dari diri kita sendiri. Dari sinilah perubahan itu akan menemui jalannya. Ya,dari diri kita sendiri,jangan berharap banyak perubahan itu akan muncul dari anak didik,jikalau kita sendiri masih menjadi bagian status quo yang mempertahankan budaya lama:guru tidak pernah salah alias guru can not do wrong. Guru tugasnya memerintah,bukan diperintah. Guru tugasnya mengabarkan,bukan melaksanakan. Semoga kita bukan termasuk bagian dari tipe guru semacam itu.
Baru dua minggu yang lalu saya mengunjungi sebuah sekolah menengah atas milik pemerintah kota. saya begitu berdecak kagum melihat suasana sekolahnya yang damai,bersih dan rapi. Seakan-akan saya tidak bisa membedakan antara hotel dengannya.Untuk melihat sekolahnya klik
Bukan sekali atau dua kali saya menemukan sekolah semacam itu,bahkan hampir semuanya memiliki kondisi yang sama,nyaman,damai,tentram dan bersih.Kalau ditelisik kedalam, ada banyak pelajaran yang mustinya
bisa kita jadikan referensi berarti dalam mengelolah kedisiplinan di sekolah kita. Ya,spirit sekolah Jepang dalam menyemai kedisiplinan itulah yang harusnya kita miliki untuk mengkilaukan kembali pendidikan tanah air yang terperosok pada labirin ketidakjelasan arah. Saya,mungkin juga anda asyik bermain dengan konsep dan slogan semata. Dan saya,mungkin juga anda tidak kunjung juga mampu memberi tauladan. Apalagi bukti nyata kalau sebagai pendidik kita benar-benar menjadi guru bagi kebaikan dan kebajikan. Namun kenyataannya,Sebagai pendidik,saya dan semoga anda tidak termasuk,sering resah saat TPP telat cair, sering marah saat beban kerja berlimpah, sering mengeluh saat anak didik malas belajar, sering menyalahkan saat hasil ulangan jeblok, atau saling melempar kesalahan dan tangggungjawab saat masalah menghadang.Mungkin benar adanya jika kita sepatutnya mulai membulatkan tekad untuk memutus mata rantai setan ini. Betapa senangnya anak didik nantinya jika kita mampu memberi contoh dan tauladan yang baik. Karena dengan usaha semacam itulah pendidikan menemukan efek hakikinya: menjadikan insan yang lebih baik.“Jangan mengkuatirkan bahwa anak-anak tidak mendengarkan Anda, kuatirkanlah bahwa mereka selalu mengamati Anda” – Robert Fulghum

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s