Saat Guru di Tuntut Untuk Selalu Belajar

Oleh:
Heriyanto Nurcahyo

Dalam kuliah Sore ini, kami membedah salah satu bab berjudul “The Nature of Teacher Learning”. Topik ini diambil dari bukunya Richards & Farell (2011) berjudul PRACTICE TEACHING. Bab ini sangat menarik,disamping bab bab lainnya tentunya.Kemenarikannya terletak pada paparan perspektif berbeda tentang the nature of teacher learning” itu sendiri.Dengan mengutip pendapat banyak guru dari pelosok dunia. Menjadikan topik ini sebagai sesuatu yang “Charming ” dan sayang kalau dibiarkan begitu saja.Banyak ide segar dan saling “pamer”pengalaman keluar dari pikiran kami berenam.Bagaimana pembelajaran dikelas masing-masing,apa bedanya antara negara satu dengan lainnya. Diskusi semakin menjadi jadi saat kami terpancing oleh pertanyaan ringan tentang pentingnya teacher identity,skills,knowledge,context sampai teaching philosophy itu sendiri.Tiba-tiba,seorang teman kelas kami-Sue sensei_ nyeletuk”We don’t have Questioning
Cultures!!!!! sontak kami terbelalak.Pernyataannya ternyata masih di embel-embeli dengan sebuah pertanyaan yang ditujukan pada kami berenam.:apakah ada pertanyaan saat dan sesudah anda memberi pelajaran?Anda tergolong yang student atau teacher centered?.Hampir semua teman sekelasi mengatakan bahwa mereka penganut setia teacher-centered.Dan jarang sekali menemukan keaktifan siswa bertanya dalam kelasnya. Ternyata jawaban mereka tidak berbeda jauh,bahkan nyaris sama denganku. Bagi Profesorku,ini bukan hal yang aneh. Mengingat dia tahu bahwa antara Indonesia dan Jepang masih menempatkan guru pada maqam yang sangat tinggi. Begitupun dengan 2 negara lainnya (Sudan dan Uzbek). Banyak siswa menjadi sungkan mengeluarkan unek-uneknya. Dia bercerita bagaimana suasana kelasnya saat beliau menjadi visiting lecturer di London University dan di beberapa Universitas di Amerika. Orang Amerika dan Inggris sangat besar rasa ingin tahunya,kadang belum selesai menerangkan sesuatu sudah begitu banyak tangan mengangkat.Memang bertanyanya murid tidak bisa secara sederhana disimpulkan bahwa mereka pandai ataupun pembelajaran kita menarik.Tetapi paling tidak ada respon positif dari pebelajar. Atau munculnya rasa ingin tahu.Karena inilah sesungguhnya pintu pembuka terlibatnya mereka secarah jauh dalam suatu pelajaran. Saya kemudian merefleksikan apa yang kami diskusikan ini.Saya menjadi sedikit terbuka bahwa teachers teach the way they were taught and find it difficult to adopt new teaching approaches!!!!.Tanpa kita sadari sesungguhnya kita telah menggerus ruang belajar anak didik kita. Kita sebagai guru sering tidak memahami sekaligus sadar bahwa anak didik kita tidak hanya membutuhkan pengetahuan yang kita tuangkan layaknya menaruh kopi dalam cangkir. Mereka juga membutuhkan kebutuhan social dan kebutuhan belajar sekaligus. Kita mengajar apa yang menurut kita penting untuk diajarkan (sesuai kurikulum),bukan apa yang anak didik inginkan. Kita mengajar apa yang menurut kita baik,tetapi jarang sekali bertanya apakah anak didik juga memiliki pandangan yang sama?. Kita sering memperlakukan anak didik layaknya robot,yang dalam waktu tertentu harus bisa ini,bisa itu.
Ada pengalaman nyata saat seorang murid tidak mau menyerahkan tugas menulisnya. Sang guru mendekatinya dan bertanya” Mengapakah tugasmu belum dikumpulkan? “Saya tidak memiliki sesuatu untuk di tulis” jawabnya. Bukankah anda bisa mendapatakannya dengan membaca buku atau referensi lain? kejar sang guru. “Saya tidak mau menulis karena saya memang tidak mau menulis untuk pak guru!!!jawabnya lagi. “Bagaimana kalau kau mengarang sebuah tulis tentang “mengapa kamu tidak mau menulis untukku? pinta gurunya.Sang murid diam sejenak dan ijin meninggalkan gurunya. Selang beberapa saat kemudian,sang murid menemui gurunya sambil menyerahkan tugasnya.Oh God!!!!!! ternyata tulisannya sangat bagus dan belum pernah sekalipun ia mendapati kemampuanmenulis muridnya yang demikian. Kadang,kita menjadi tidak sabar menjalani proses semacam itu di ruang-ruang kelas kita.Kesabaran dan kesabaran itulah yang dalam banyak hal memberi spirit belajar anak didik berkembang demikian cepatnya.
Mungkin,,bukan lamanya mengajar (pengalaman) yang menyebabkan seorang guru menjadi agung,tetapi kemampuan dan keikhlasan dirinya untuk menerima kelemahan dan bekerja keras untuk meningkatkan dirinyalah yang membawanya ke maqam tertinggi profesi pendidik (Great teacher). To me the most important things is that the students enjoyed themselves and had useful practice!!!!!!?Bagaimana menurut anda?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s