MENUNGGU KOLABORASI TRI PARTIET

MENUNGGU KOLABORASI TRI PARTIET

Oleh:
Heriyanto Nurcahyo
Guru SMA Negeri 1 Glenmore Banyuwangi,Sedang belajar di Graduates School of Education Kumamoto University Jepang

Program kendali pendidikan yang diluncurkan oleh Bupati Banyuwangi-Abdullah Azwar Anas- beberapa saat yang lalu sangat menarik untuk diapresiasi. Bukan saja akan mendorong perbaikan dan peningkatkan kualitas keluaran pendidikan secara holistik (IQ,EQ dan SQ) namun juga membuka ruang bagi peran orang tua sebagai satu kesatuan penting dalam pendidikan.
Tidak ada satupun pihak yang menyangkal jika keberhasilan belajar anak di sekolah salah satunya didorong oleh kolaborasi yang sinergis antara pendidik,peserta didik dan orang tua. Beberapa riset menunjukkan bukti akan adanya peningkatan kualitas akademik yang dibarengi dengan peningkatan kesadaran sikap dan prilaku. Dan kolaborasi ini juga dipercaya akan berkonstribusi positif terhadap peningkatan kualitas dan kinerja sekolah secara keseluruhan.
Orang tua menyimpan potensi besar sebagai penggerak motivasi dan kinerja belajar anaknya.Keberhasilan belajar anak tidak bisa dilepaskan dari campur tangan orang tuanya. Hal ini sangat penting mengingat setidaknya orang tua memiliki 4 (empat ) peran besar dalam pendidikan anaknya. Orang tua bisa mewujud menjadi pembimbing,guru,penegak disiplin sekaligus teman bagi anak-anaknya. Peran kepengasuhan ini tidak bisa begitu saja dipisahkan atau ditiadakan dalam pendidikan anak-anaknya. Banyaknya kasus-kasus kenakalan dan penyimpangan siswa sejauh ini tidak terlepas dari mulai mengendornya peran-peran kepengasuhan orang tua di rumah. Dengan melibatkan orang tua dalam program kendali pendidikan,secara tidak langsung kita telah mendorong kembali orang tua untuk melakukan fungsi-fungsi kepengasuhannya.
Adalah Dr. Ouida Wright – seorang ahli psikologi pendidikan- yang setuju bahwa dukungan di rumah merupakan bagian penting dari keberhasilan seorang remaja di sekolah. “Apa yang mereka (remaja) perlukan adalah kondisi lingkungan rumah, lingkungan yang memberikan rasa ketertarikan tentang apa yang mereka lakukan di sekolah dan memberikan dukungan untuk setiap kegiatan atau aktifitas lain di sekolah,katanya”
Selama ini sekolah terlalu sibuk mengurusi pendidikannya secara sendiri.Keterlibatan orang tua tidak tampak secara nyata dalam proses belajar di sekolah.Ini menjadi sangat wajar,karena sebagaian besar tanggungjawab pendidikan di sekolah dibebankan pada pundak pendidik semata.Namun demikian, banyak sekolah yang mulai melirik keberadaan orang tua sebagai mitra strategis peningkatan kualitas akademik dan non akademik anaknya. Hal ini didasari kenyataan bahwa 70 % waktu sang anak dihabiskan diluar sekolah (rumah).

Program kendali pendidikan dapat menjadi inspirasi baru bagi pendidikan karakter. Kalau selama ini pendidikan karakter banyak diterapkan di lingkungan sekolah. Kadangkala hanya efektif saat anak berada di lingkungan sekolah semata. Sepulangnya dirumah, anak kembali pada kebiasaan lamanya.Namun dengan merumahkan pendidikan karakter sama halnya menumbuhkan kebiasaan positif anak pada habitat aslinya. Kesempatan ini tentunya akan menambah daya pengaruh bagi keberlangsungan penumbuhan kesadaran berkarakter dilingkungannya. Sehingga anak memiliki tabungan moral yang sangat berarti dalam menapaki hidupnya dimasa kini dan akan datang.
Pekerjaan rumah terbesar kita saat ini adalah bagaimana mendorong kolaborasi ketiganya. Kolaborasi ini penting adanya sebagai stimulan keberhasilan pelaksanaaan program kendali pendidikan di lapangan. Joyce Epstein dari Johns Hopkins University menawarkan frameworks keterlibatan orang tua dalam pendidikan. 7 (tujuh) Frameworks yang ditawarkannya akan membantu sekolah membangun komunikasi dan kerjasama yang lebih baik dengan orang tua. 4 diantaranya saya cuplikan sebagai bahan diskusi lebih lanjut dalam tulisan ini, Yaitu kepengasuhan (parenting), pola komunikasi sekolah – rumah (school-home communication) atau sebaliknya, kerelawanan (Volenteering.) dan belajar di rumah (Learning at home).
Kepengasuhan (parenting) sebagaimana diungkap diawal tulisan ini tidak bisa dilepaskan dari keberhasilan pendidikan anak. Namun, tidak semua keluarga mampu menghadirkan kepengasuhan yang benar kepada anaknya. Adanya perbedaan social,ekonomi,budaya dan pendidikan berpengaruh terhadap pola-pola kepengasuhannya. Disinilah kemudian dibutuhkan komunikasi yang efektif dari sekolah ke rumah. Untuk sekedar menyampaikan program sekolah atau melakukan pendekatan-pendekatan terhadap prilaku anak. Buku penghubung misalnya, instrument ini memungkinkan terlibatnya orang tua dalam memberikan pengawasan sekaligus bimbingan terhadap apa-apa yang sepatutnya dilakukan sang anak dalam menyukseskan program belajarnya. Buku ini diharapkan bisa menjadi alat bantu baik bagi pihak sekolah maupun orang tua dalam menjalin komunikasi yang mereka butuhkan dalam meningkatkan kualitas belajar anak,baik akademik maupun non akademiknya. Dibanyak tempat di dunia ini,kerelawanan (volunteering) sudah menjadi bagian dari sekolah. Dilibatnya orang tua dalam kegiatan sekolah tidak hanya membangun komunikasi semata namun juga membangun kesadaran bersama bahwa pendidikan bukan menjadi tanggungjawab sepenuhnya pihak sekolah melainkan dirinya juga.Di Jepang misalnya, ada program Undokai yang melibatkan orang tua dalam kegiatan bersama di bidang olahraga dan seni. Dalam kegiatan ini orang tua dan anak bersama-sama mengadakan kegiatan lomba olahraga yang diorganisir dan diikuti oleh mereka sendiri. Kegiatan ini memungkinkan tumbuhnya talih silaturahmi antar warga sekolah. Juga memungkinkan cairnya pola-pola komunikasi yang memudahkan sekolah menyampaikan programnya dan memberi kesempatan pada orang tua untuk mensukseskannya.
Lebih jauh lagi, di Jepang,orang tua juga diberi kesempatan untuk melakukan observasi pembelajaran langsung di kelas. Harapannya orang tua mengetahui secara nyata potensi anaknya di kelas. Dari observasi langsung itulah orang tua bisa terdorongan hatinya untuk turut serta meningkatkan hasil belajar anaknya Disisi lain, kegiatan ini dapat juga meyakinkan orang tua bahwa layanan pendidikan yang diberikan sekolah sesuai dengan yang diharapkan.
Buku kendali pendidikan yang akan dibagikan pada orang tua itu juga sepatutnya berwujud informasi bagaimana membantu anaknya melakukan suatu kegiatan (learning at home). Didalamnya juga bisa memuat beberapa ide tentang perencanaan,palaksanaan sekaligus pengawasannya. Target-target yang ingin dicapai oleh program itu selayaknya juga dideskripsikan secara jelas. Hal ini akan memudahkan sang orang tua mengarahkan anaknya mencapai tujuan tersebut.
Pelaksanaan program kendali pendidikan ini memang tidak mudah tetapi dengan dibangunnya kerjasama dan kolaborasi diantara ketiga unsur tersebut akan memberi banyak peluang bagi peningkatan kualitas pendidikan berkarakter itu sendiri. Semoga program kendali pendidikan yang sangat baik ini tidak berhenti ditataran ide dan program semata. Kita semua memiliki tanggungjawab yang sama untuk membawa anak didik menjadi manusia yang lebih paripurna. Guna menyongsong lahirnya generasi emas. Semoga ,amien.
“Jangan mengkuatirkan bahwa anak-anak tidak mendengarkan Anda, kuatirkanlah bahwa mereka selalu mengamati Anda” – Robert Fulghum

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s