Mendidik dengan Kelembutan

Mendidik dengan Kelembutan
Selasa, 09 Oktober 2012, 23:59 WIB

Mendidik dengan Kelembutan

Oleh: Imam Nur Suharno

Suatu hari, Rasulullah SAW didatangi seorang perempuan yang bernama Sa’idah binti Jazi. Ia membawa anaknya yang baru berumur satu setengah tahun.

Rasul kemudian memangku anak tersebut. Tiba-tiba, si anak kencing (mengompol) di pangkuan Rasulullah SAW. Spontan, sang ibu menarik anaknya dengan kasar.

Seketika itu juga, Rasulullah SAW menasihatinya. “Dengan satu gayung air, bajuku yang terkena najis karena kencing anakmu bisa dibersihkan. Akan tetapi, luka hati anakmu karena renggutanmu dari pangkuanku tidak bisa diobati dengan bergayung-gayung air,” ujar Rasul.

Kisah tersebut memberikan pelajaran (ibrah) berharga kepada kita, para orang tua, dan pendidik bahwa Rasulullah SAW secara tegas melarang melakukan pendekatan dengan kekerasan dalam mendidik anak. Baca lebih lanjut

Iklan

Hmm, Dogme? Very young learners?

Hmm, Dogme? Very young learners?

March 10, 2012 18 Comments

What am I thinking about at the moment? A quick glance at the previous posts list on my blog would suggest younger learners. An accurate guess. In fact, the last six months has been a roller-coaster ride learning experience of teachingchildren ages 7-10 – an age for the most part alien to me until coming back to Italy.

Here it’s big business, young learners. While numbers in business and general English are falling, there has been some quite substantial growth in the number of younger learners whose parents or schools are taking the initiative and signing their children up for class. In short, it’s an area of teaching that an EFL teacher in Rome would be a fool not to start specialising in. Baca lebih lanjut

MENUNGGU KOLABORASI TRI PARTIET

MENUNGGU KOLABORASI TRI PARTIET

Oleh:
Heriyanto Nurcahyo
Guru SMA Negeri 1 Glenmore Banyuwangi,Sedang belajar di Graduates School of Education Kumamoto University Jepang

Program kendali pendidikan yang diluncurkan oleh Bupati Banyuwangi-Abdullah Azwar Anas- beberapa saat yang lalu sangat menarik untuk diapresiasi. Bukan saja akan mendorong perbaikan dan peningkatkan kualitas keluaran pendidikan secara holistik (IQ,EQ dan SQ) namun juga membuka ruang bagi peran orang tua sebagai satu kesatuan penting dalam pendidikan.
Tidak ada satupun pihak yang menyangkal jika keberhasilan belajar anak di sekolah salah satunya didorong oleh kolaborasi yang sinergis antara pendidik,peserta didik dan orang tua. Beberapa riset menunjukkan bukti akan adanya peningkatan kualitas akademik yang dibarengi dengan peningkatan kesadaran sikap dan prilaku. Dan kolaborasi ini juga dipercaya akan berkonstribusi positif terhadap peningkatan kualitas dan kinerja sekolah secara keseluruhan.
Orang tua menyimpan potensi besar sebagai penggerak motivasi dan kinerja belajar anaknya.Keberhasilan belajar anak tidak bisa dilepaskan dari campur tangan orang tuanya. Hal ini sangat penting mengingat setidaknya orang tua memiliki 4 (empat ) peran besar dalam pendidikan anaknya. Orang tua bisa mewujud menjadi pembimbing,guru,penegak disiplin sekaligus teman bagi anak-anaknya. Peran kepengasuhan ini tidak bisa begitu saja dipisahkan atau ditiadakan dalam pendidikan anak-anaknya. Banyaknya kasus-kasus kenakalan dan penyimpangan siswa sejauh ini tidak terlepas dari mulai mengendornya peran-peran kepengasuhan orang tua di rumah. Dengan melibatkan orang tua dalam program kendali pendidikan,secara tidak langsung kita telah mendorong kembali orang tua untuk melakukan fungsi-fungsi kepengasuhannya. Baca lebih lanjut

Saat Guru di Tuntut Untuk Selalu Belajar

Oleh:
Heriyanto Nurcahyo

Dalam kuliah Sore ini, kami membedah salah satu bab berjudul “The Nature of Teacher Learning”. Topik ini diambil dari bukunya Richards & Farell (2011) berjudul PRACTICE TEACHING. Bab ini sangat menarik,disamping bab bab lainnya tentunya.Kemenarikannya terletak pada paparan perspektif berbeda tentang the nature of teacher learning” itu sendiri.Dengan mengutip pendapat banyak guru dari pelosok dunia. Menjadikan topik ini sebagai sesuatu yang “Charming ” dan sayang kalau dibiarkan begitu saja.Banyak ide segar dan saling “pamer”pengalaman keluar dari pikiran kami berenam.Bagaimana pembelajaran dikelas masing-masing,apa bedanya antara negara satu dengan lainnya. Diskusi semakin menjadi jadi saat kami terpancing oleh pertanyaan ringan tentang pentingnya teacher identity,skills,knowledge,context sampai teaching philosophy itu sendiri.Tiba-tiba,seorang teman kelas kami-Sue sensei_ nyeletuk”We don’t have Questioning
Cultures!!!!! sontak kami terbelalak.Pernyataannya ternyata masih di embel-embeli dengan sebuah pertanyaan yang ditujukan pada kami berenam.:apakah ada pertanyaan saat dan sesudah anda memberi pelajaran?Anda tergolong yang student atau teacher centered?.Hampir semua teman sekelasi mengatakan bahwa mereka penganut setia teacher-centered.Dan jarang sekali menemukan keaktifan siswa bertanya dalam kelasnya. Baca lebih lanjut

Teaching Lexis Through a Story

Kika:Anna san (uzbek),Flamina san (UK), Penulis,Ary san (Ina),Kau (UK) di depan Shanrigi Eki Kumamoto Jepang

by*Heriyanto Nurcahyo

by:Heriyanto Nurcahyo

In Indonesian High School,students study many kind of genre. One of them is spoof. Spoof is a text which tells factual story, happened in the past time with unpredictable and funny ending. Its social function is to entertain and share the story.My students fond of listening to Nasreddin Hodja’s story.As they are in elementary level, the story is quite easy to understand.They find that the story is very interesting and entertaining.
While students are mainly working on reading or listening skills,I am less likely to spend time on lexis. During such stages,Jim Screivener (pg.196-197) encourages us to :
1. Deal with an item when student specifically asks about it;
2. Give brief,to-the-point explanation or translations,rather than detailed presentations;
3. Offer help quietly to the one or two students who ask,rather than to the whole class;
4. Sometimes refuse help and tell students to do their best without knowing some items.
Once the students have become comfortable with the text,you can focus attention on lexical items in the text and how they are used.Here some thing that we could ask: Baca lebih lanjut

TEACHING LEXIS TO EFL STUDENTS: A REVIEW OF CURRENT PERSPECTIVES AND METHODS

TEACHING LEXIS TO EFL STUDENTS: A REVIEW OF CURRENT PERSPECTIVES AND METHODS

SEOWON LEE

Abstract

EFL learners spend a significant time learning lexis. However, it is difficult to utilise vocabulary in authentic situations since textbooks are unable to offer sufficient information on usage. The literature reviewed here proposes a new approach to content and methodology, which claims to be crucially relevant to both teachers and textbook writers. After briefly reviewing some of the reasons for placing emphasis on lexis over grammar, pedagogical implications for L2 vocabulary teaching will be discussed in terms of content and methodologies. For textbook writers and teachers, it is important to not only present those lexical elements which are essential for accurate and fluent use of the language, such as fixed expressions and lexical patterns (thus answering the question of �what lexis to teach�), but also to attempt to design some activities that raise learners� consciousness (thus offering suggestions as to �how to teach lexis�). By doing so, they encourage learners to realise that lexical items can work as useful tools to help produce more accurate and fluent utterances in authentic situations. Baca lebih lanjut