Menulis Tanpa Menjiplak, Mungkinkah?

Menulis Tanpa Menjiplak, Mungkinkah?
Oleh Hernowo

Secara bahasa, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (edisi 1995, halaman 416, lajur kiri), menjiplak berarti (1) menggambar atau menulis garis-garis gambaran atau tulisan yang telah tersedia (dengan menempelkan kertas kosong pada gambar atau tulisan yang akan ditiru); (2) mencontoh atau meniru (tulisan, pekerjaan orang lain); (3) mencuri karangan orang lain dan mengakui sebagai karangan sendiri; (4) mengutip karangan orang lain tanpa seizin penulisnya.

Dalam artikel menariknya, “Orang Pintar Plagiat” (Kompas edisi Selasa, 20 April 2010), Rhenal Kasali dengan tegas menyatakan bahwa tradisi menjiplak sama dengan tradisi mencuri. Tradisi buruk ini, tambah Rhenald Kasali, akan mengakibatkan suatu bangsa menjadi malas berpikir, tidak menciptakan pembaruan, tidak menghargai orisinalitas dan kreativitas, dan akhirnya melumpuhkan daya saing bangsa itu sendiri. Dampak penjiplakan memang sungguh dahsyat bagi suatu bangsa.

Bagaimana agar kita dapat menjadi bangsa yang bukan bangsa penjiplak—khususnya dalam kegiatan menulis karya tulis ilmiah? Setiap kali saya terseret dan akhirnya terbenam di pembahasan kegiatan jiplak-menjiplak dalam penulisan karya ilmiah, saya memang lebih suka untuk TIDAK membicarakan definisi menjiplak dan menunjukkan bentuk kegiatan menjiplak itu seperti apa. Saya lebih suka untuk membicarakan bagaimana—ya bagaimana—agar kita tidak menjadi seorang penjiplak atau pencuri.

Seperti ditulis oleh Rhenald Kasali—dalam artikel yang kerap saya rujuk (ibid.) tersebut—“sesungguhnya plagiat sulit dibuktikan selain oleh orang yang karyanya dijiplak orang lain”. Saya dapat merasakan terkait dengan apa yang ditulis oleh Rhenald Kasali ini. Dari mana orang lain—selain si penulis yang karyanya dijiplak dan orang yang melakukan penjiplakan tersebut—yang dapat mengetahui bahwa sebuah karya tulis itu merupakan jiplakan? Selain itu, penjiplakan—yang di bidang akademis merupakan perbuatan yang sangat tercela—tak dapat dilepaskan dari kejujuran.

Oleh karena itu, setiap kali seorang peserta pelatihan menulis yang saya ampu bertanya ihwal penjiplakan, saya senantiasa hanya mau membahasnya apabila saya diberi peluang untuk menyampaikan gagasan saya soal bagaimana agar kita tidak menjadi penjiplak. Bagaimana agar kita tidak menjadi bangsa penjiplak? Pertama, kita tentulah harus menjadi orang yang (berkehendak mau bersikap dan bertindak) jujur. Apabila persyaratan ini tidak dapat kita penuhi—yang biasanya memang tidak pernah secara ekplisit dibahas dalam tata cara menulis karya ilmiah di perguruan tinggi (maaf kalau saya salah)—persyaratan atau hal-hal yang akan saya sebut kemudian tidak akan dapat diberlakukan secara benar.

Kedua, kita harus memiliki serangkaian kegiatan berlatih menulis yang teratur dan terjaga yang terkait dengan bagaimana kita akhirnya memiliki kemampuan untuk mengeluarkan pikiran original milik kita. Meski apa itu pikiran original juga masih sulit ditetapkan, metode-metode free writing yang diusulkan oleh Natalie Goldberg dan Peter Elbow serta (kadang saya tambah dengan metode yang bernama “opening up” yang diusulkan oleh Dr. James W. Pennebaker, seorang psikolog peneliti) dapat membantu seorang akademisi untuk berlatih menulis dalam rangka untuk mengeluarkan (menulis) pikiran original-nya.

Ketiga, seseorang akan dapat terhindar dari penjiplakan apabila orang tersebut benar-benar dapat mempertanggungjawabkan materi karya tulis ilmiah yang telah diciptakannya. Mempertanggungjawabkan di sini berarti dia memang menguasai apa yang ditulisnya, sungguh-sungguh dalam menciptakan karya tulisnya, dan dirinya benar-benar terlibat di dalam kata-kata yang digunakan untuk membangun karya tulis ilmiahnya itu.

Memang, merujuk ke Rhenald Kasali lagi, tidak mudah membicarakan apakah sebuah karya tulis itu merupakan jiplakan atau bukan.Salam.[]

A�si�Z Z ng telah diciptakannya. Mempertanggungjawabkan di sini berarti dia memang menguasai apa yang ditulisnya, sungguh-sungguh dalam menciptakan karya tulisnya, dan dirinya benar-benar terlibat di dalam kata-kata yang digunakan untuk membangun karya tulis ilmiahnya itu.
Memang, merujuk ke Rhenald Kasali lagi, tidak mudah membicarakan apakah sebuah karya tulis itu merupakan jiplakan atau bukan.Salam.[]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s