MEMETIK PELAJARAN DARI OBASAN USHIJIMA

MEMETIK PELAJARAN DARI OBASAN USHIJIMA


Suasana dan cuaca sore itu begitu nyamannya. Tidak saja karena udara sudah mulai relative dingin dibanding beberapa hari sebelumnya yang panas dan lembab.Namun juga karena malam itu ada acara special di rumah Obasan Ushijima. Beliau ini ibu semang dari sahabat saya -mas Donny Radianto (yang baru saja meraih gelar M.Eng) -sekaligus ibu semang yang baru bagi Mas Faizal Rahutomo yang baru boyongan dari kaikan beberapa saat yang lalu.
Obasan mengadakan acara perpisahan untuk mas Donny yang akan segera pulang ke tanah air, menemui istri dan kedua anaknya yang sudah lama ditinggalkannya.Konon,hasrat kepulangannya yang menggebu-gebu juga untuk segera bisa melampiaskan ilmu-ilmu yang beliau dapat selama dua tahun mengurung diri dan bertapa di tengah-tengah buku teks tentang fuzzy,solar panel,renewable energy. Atau menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk berpandangan ria dengan Matlab. Tugas riset yang sejibun, deadline paper yang terus mengejarnya. Atau mengurus dapur agar tetap ngepul agar persediaan energy tubuh tetap terjaga dikala jikken melanda. Belum lagi kesibukannya sebagi pemangku musholla kurokami,satu sisi tugas mulia nan berat yang beliau emban.
Upaya dan kesungguhannya menuntut ilmu di negeri sakura telah dijalaninya dengan sempurna dan akhirnya pun Owatta,Yatta!. Karenanya Obasan Ushijima mengetahui dan paham betul bagaimana perjuangan yang telah dijalaninya. Wujud kebanggan dan rasa bersyukurnya diwujudkan melalui syukuran ala jepang dengan mengundang kami berenam (Soekarno san,Marlo san, Donny san,Faisal san penulis sendiri dan Zazhgul san).
Dalam jamuan makan malam itu, aneka makanan tersaji diatas sebuah meja pendek diruang berlantai tatami tersebut. Dari sekedar buah tangan Kirgistan berupa apple chip sampai kacang telor made in Indonesia melengkapi hiasan diatasnya.Tidak itu saja,obasan telah menyiapkan 3 kotak seafood pizza,aneka minuman dan jajanan khas jepang. Dan yang membuat kami bahagia,obasan juga telah menyediakan 6 kotak omiyage untuk tamunya yang sangat special malam itu. Karenanya lagi-lagi saya harus berkata what a wonderful world????.
Ruangan yang tidak cukup besar itu dipenuhi oleh aneka barang,dari piagam-piagam bertuliskan kanji yang di gantung di tembok,sampai lukisan anak tertuanya yang berada di Spanyol. Ditengah asyik-asyiknya bibir mencicipi aneka hidangan itu, obasan Ushijima-yang sudah berumur 84 tahun itu- bercerita banyak hal tentang Jepang.Beliau dengan gaya berbicara yang masih tegas dan intonasi yang sangat elegan bercerita bagaimana jaman dulu keluarga yang bisa makan dengan onigiri dan tamagoyaki (dadar telor) digolongkan keluarga yang mampu dan berada. Saya yakin,Obasan Ushima adalah salah satu keluarga itu,mengingat suaminya yang kini terbaring di kamar karena sakit (umurnya udah 88 loh) adalah seorang pembesar di pemda Kumamoto. Beliau juga termasuk keluarga kaya mengingat di rumahnya- yang khas Jepang itu memiliki 8 ruang tidur,terlebih lagi apartment yang dimilikinya itu menjadi bukti sederhana bagaimana beliau okanemochi (kaya).
Entah dari mana mulainya beliau bercerita jikalau gadis-gadis dari pulau kyusu terkenal akan sehat-sehat dan berhati emas. Karenanya yang berhasil menikah dengan gadis kyusu dianggap sangat beruntung karena mendapat kelebihan-kelebihan itu. Banyak pemuda dari kanton dan kansai mendambahkan dapat mempersunting gadis kyusu. Masih menurutnya, cewek kysusu terkenal sangat terbuka dan tidak suka menyimpan kesedihan dalam diri layaknya orang Jepang lainnya. Maka menjadi suatu yang tidaklah mengherankan jika banyak orang Jepang mengakiri hidup dengan bunuh diri. Dalam perspektif kita, sesungguhnya obasan ini ingin menterjemahkan pentingnya rasa kebersyukuran dalam kehidupan ini. Bersyukur dipercaya memantik energy positif dalam diri. Energy yang positif inilah yang menggerakkan semesta untuk satu resonansi dengan gelombang energy tubuh,akhirnya kesehatan,kebahagiaan dapat diraihnya. Bukankah begitu pembaca?
Obasan ini memang paling suka diajak berbincang-bincang,konon,saat anak kostnya membayar biaya bulanan,setidaknya 1 jam harus mereka relakan waktunya untuk sekedar bercakap dan bercerita dengannya. Hal ini sangat wajar dan manusiawi,mengingat kesendiriannya di hari tua membutuhkan teman untuk curhat, bergalau ria atau sekedar menghibur dirinya.Kadang,melihat hari tua orang Jepang sangatlah mengenaskan. Hidup sendiri,disaat di saat orang lain bercanda ria dengan cucu-cucunya yang lucu. Hening dalam kesendirian dan kesedihan,saat orang lain asyik membangun mimpi akan keindahan hari akhirnya.Selalu saja ada dua sisi mata uang yang berbeda,maka alangkah bersyukurnya kita karena disaat rentah nanti,anak dan cucu kita setia menemani hingga ajal menjemput.
Masih soal hari tua warga Jepang, konon diciptakanlah sebuah teknologi yang digunakan untuk mengontrol apakah orang tuanya masih hidup atau sudah meninggal. Alat yang dipasang di kran air panas ini akan selalu mengirim pesan pada anaknya secara otomatis saat digunakan. Dengan kata lain,saat tidak ada pesan terkirim karena pemakaian air panas, anaknya bisa mengambil kesimpulan tentang keberadaan orang tuanya. Pun juga banyak ditemukan robot-robot yang merawatnya di usia senja,baik berbentuk kucing,anjing dan sejenisnya, peran robot ini menggantian kepengasuhan anak terhadap orang tuanya. Menyedihkan untuk ukuran kita tentunya.Dalam banyak hal, meski mengalami karut marut yang tak berujung,kadang terlahir dan hidup di Indonesia membawa berkah tersendiri bukan?
Beberapa saat yang lalu penulis sempat membaca sebuah ulasan menarik di Guardian berjudul Why Japan prefers pets to parenthood. Anehnya populasi anjing dijepang mencapai angka 22,2 juta berbanding jauh dengan populasi anak-anak dibawah 15 tahun yang hanya 16,6 juta anak.Konon,disekitaran Tokyo,akan lebih mudah mencari tempat perlengkapan anjing ketimbang bayi atau anak-anak(topic ini akan dibahas penulis secara sendiri).

Pelajaran terakhir yang bisa saya petik dari perjamuan malam dengan obasan adalah perlakukan orang lain layaknya saudaramu sendiri. Bagi sebagian orang Jepang, berteman dan bertegur sapa dengan warga asing sesuatu yang sangat jarang dilakukan. Menurut Obasan,banyak warga jepang yang memalingkan wajah saat bertemu dengan warga asing,entah karena alas an keterbatasan kemampuan berkomunikasi atau karena sifat pemalunya. Berbeda dengan lainnya, obasan justru senang bersosialisasi dengan orang yang memiliki latar belakang berbeda. Alasannya mungkin karena mereka juga penghuni planet yang sama. Saling menghargai inilah yang saat ini menjadi masalah krusial di tanah air. Orang sudah tidak mau melihat lagi sebuah perbedaan sebagai sebuah rahmad. Lebih mudah dan bisa melihatnya sebagai pemantik perpecahan. Berbeda hari puasa dan hari raya,dengan mudahnya kemudian saling mengkafirkan, berbeda pandangan politik menyebabkan tidak bertegur sapa,. Berbeda pendapatan kemudian saling menfitnah.
Toleransi warga Jepang yang sangat tinggi terhadap warga asing sekaligus budaya yang mereka bawah seharusnya menjadi pelajaran menarik bagi kita. Sebagai bangsa besar, Indonesia justru terbangun dari berbagai macam perbedaan,suku,agama dan pandangan politik. Namun sayang,akhir-akhir ini perbedaan itulah yang justru menjadi pendorong perpecahan,intoleransi dan mau menang sendiri. Rasa tidak saling percaya dan curiga sudah selayaknya tidak kita jadikan konsideran utama dalam bertindak,karena sesungguhnya dianya adalah rahmatan bagi seluruh alam. Terima kasih Obasan yang sudah membuka mata saya untuk mengambil pelajaran dari sebuah filosofi sederhana tentang kehidupan…………………….(7:03/21/9/12)

Iklan

4 thoughts on “MEMETIK PELAJARAN DARI OBASAN USHIJIMA

  1. Sukarno berkata:

    Kemampuan mengungkap dengan kata atau kalimat dari sesuatu yang dilihat, diamati, dan didengar adalah ekspresi untuk menggambarkan sesuatu yang asli dari datanya, dan cara itulah yang baik untuk dikembangkan dan lebih baik lagi bila selalu terus diupayakan kesinambungannya berita selanjutnya, hehehehe….. mantap pak Herry….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s