Mulai Arubaito

Pagi ini Typhoon berhembus sangat kencang. Suara besi yang bersentuhan sesekali membuat suasana pagi sedikit menakutkan.Terlebih lagi suar typhoon yang menjerit layaknya longlongan anjing hutan:menakutkan. Namun,pagi ini juga membuatku bahagia sekaligus terselip rasa was-was meski sedikit. Rasa was-was ini muncul tanpa sebab loh. Mengingat inilah hari pertama aku kerja paruh waktu (arubaito) di sebuah toko makanan halal. Di toko inilah nantinya kau melayani pembeli yang membutuhkan berbagai macam produk halal. Dari daging sapi sampai rempah-rempah india,semua tersedia.
Beberapa hari sebelumnya, aku telah diajari bagaimana menjadi pelayan toko.Dari pekrjaan ringan membuka pintu sampai menutupnya kembali.Dari menyalahkan pendingin sampai membuang air di kulkas penyimpan minuman dingin. Dari cara membuka opening balance sampai menutupnya kembali dan yang tidak lupa adalah menggunkan mesin kasir digital.
Pekerjaan menjaga toko bukanlah barang baru bagiku,mengimgat di rumah ,istriku juga memiliki usaha toko yang menjual berbagai macam asesoris, ATK,Jilbab sampai melayani photokopi dan penjilidan. Sudah sering bertugas menjadi penjaga toko. Tetapi,saat ini, bukan sembarang jaga. Sangat berbeda jauh dengan yang di rumah. Di sini-di jepang, saya tidak hanya harus menghapal berbagai jenis daging,dari yang cincang sampai yang halus. Menghapal aneka bumbu-bumbu yang meski tidak asing,tapi baru kali ini banyak diantaranya aku paham bahasa inggrisnya.
Memberikan pelayanan dalam 4-5 bahasa berbeda:sesama warga indonesia kadang memakai bahasa indonesia dan bahasa daerah (jawa/madura),sedang konsumen non Indonesia/Malaysia memakai bahasa inggris dan jepang. Dua bahasa yang tentunya membutuhkan usaha sendiri untuk membuat pelanggan memahami pesan yang ingin disampaikan.Disamping karena kemampuan berbahsa yang kurang memadai.
Selama 3 jam bekerja paruh waktu di hari pertama ini setidaknya saya telah menggunkan 3 bahasa berbeda:Jepang,Indonesia dan jawa.Dimana lagi saya bisa menemukan ruang untuk berbahasa jepang selain di jepang?
Meski ada kesalahan penjumlahan secara digital, namun pengalaman ini semakin meneguhkan keyakinan jikalau kematangan membutuhkan proses. Jangan pernah menyerah jika kegagalan menghampiri,karena itu pertanda awal jika kita dituntut untuk lebih mau belajar dan belajar. Bukan begitu sahabat?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s