GURUKU, JANGAN ENGKAU BIARKAN KELASKU MENJADI NERAKA

GURUKU, JANGAN ENGKAU BIARKAN KELASKU MENJADI NERAKA

Membacalah saya pada salah satu status seorang siswi sebuah sekolah lanjutan atas (SMA) di akun facebooknya. Dengan gaya bahasa khas anak muda yang galau,dia menuliskan sebuah status: “. kogg dagkk lgsung bell jjam k-8 ttow !!!!boosen Q . . .”.Kita semua pasti paham apa maksud dari tulisannya.Ya, dia ingin segera pulang. Ingin segera terbebas dari kelas yang dihuninya.

Kejemuhannya terhadap kelas ia ekspresikan melalui kicauan di akun facebooknya. Saya yakin dia tidak memiliki banyak keberanian untuk mengutarakan secara langsung pada guru pengampuh mata pelajarannya saat itu. Terlebih lagi tentang kebosanannya terhadap pelajaran yang diterimanya. Mengingat tidak banyak ruang yang tersedia bagi anak didik untuk mengkritik gaya gurunya mengajar. Alasannya mungkin diantaranya: gurunya banyak yang alergi terhadap kritikan,gurunya merasa lebih tahu daripada muridnya .Karenanya kemudian muridnya sungkan, ewuh pakewuh bahkan yang lebih parah lagi diam ditengah ketidaknyamanannya..

Sebagai guru,kemungkinan besar kita menghadapi murid yang bersikap demikian,bukan?. Fenomena semacam ini mungkin terjadi berulang-ulang di kelas kita. Mengingat belum tentu kita mampu menjamin jikalau pembelajaran kita dengan sendirinya membelajarkan anak didik. Dengan kata lain saat mengajar belum tentu anak didik kita belajar. Ekspresi salah satu siswa diatas adalah sebagian kecil buktinya.Lantas,bagaimana menghadirkan pembelajaran yang tidak membosankan? Pembelajaran yang membuat anak didik betah berlama-lama di kelas?

Manusia dibekali dengan dua potensi besar yaitu alam sadar (conscious) dan alam bawah sadar (unconscious) .Pikiran sadar adalah pikiran kritis,analitis dan merupakan bagian yang memutuskan. Disisi lain,Pikiran bawah sadar adalah pikiran yang menjalankan seluruh organ tubuh serta kemauan dari manusia tersebut. Yang lebih menarik lagi tentang mekanisme pikiran dan prilaku ini adalah bahwa alam bawah sadar (unconscious mind) dominan memengaruhi dan menguasai pemikiran seseorang (88%),sedangkan alam sadar (conscious mind) hanya menguasai sisanya (12%). Dominannya alam bawah sadar dalam pemikiran kita cukup memberi harapan untuk dioptimalkan melalui pembelajaran.

Peserta didik akan merespon semua informasi yang terjadi di sekelilingnya.Respon yang diberikan peserta didik tergantung pada bagaimana pengemasan informasi itu disampaikan oleh pendidik.Mengingat tubuh dan otak sebagai satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan.Jika otak merasa bête,malas,lelah secara otomatis tubuh akan merespon dengan timbulnya rasa bête,malas dan lelah.Karenanya menjadi penting untuk membangun gambaran atau bayangan yang positif di awal pembelajaran ke dalam pikiran sehingga tubuhpun merespon dengan positip.

Phillip Hayes dalam bukunya yang berjudul NLP for the Quantum Change (2006) menyebutkan bahwa menciptakan dan membangun hubungan positif (building rapport) berpengaruh sangat besar dalam kegiatan yang akan dilaksanakan. Rapport disini bisa diterjemahakan sebagai sebuah pola hubungan yang harmonis antara pendidik dengan peserta didiknya.Dan salah satu bagian penting dari building rapport adalah munculnya pengakuan (Recognition).Cara paling sederhana yang bisa digunakan untuk memunculkan pengakuan adalah melalui proses tune in atau calibrate.Ini adalah proses menyelarasakan diri antara pendidik dengan peserta didik.Kegiatan ini juga dikenal dengan menyamakan frekuensi.Hal ini menjadi penting mengingat di bagian sel otak terdapat sebuah “alat” bernama “Mirror Neuron”, alat ini berfungsi untuk meniru segala sesuatu yang dilihat tanpa disadarinya.Karenanya, awali masuk kelas dengan wajah ceria, senyum mengembang,penuh semangat. Tunjukkan bahwa kita benar-benar bahagia dan bersemangat untuk memulai hari itu di kelas mereka.Tanpa disadari oleh peserta didik sesungguhnya kita telah memengaruhi pikiran dan emosi mereka.

Setelahnya,untuk lebih menajamkan hubungan dan membangun emosi positif dengan peserta didik,kita boleh sajikan cerita inspiratif.Cerita inspiratif ini akan menggugah kesadarannya sekaligus memberikan pencerahan emotional.Bagi yang tidak menyukai cerita mungkin kita juga bisa menggunakan berbagai aktifitas lainnya dan salah satunya yang terdapat di buku 3-Minute Motivators milik Kathy Paterson(Grassindo,2010).Aktifitas yang ada di buku ini membantu kita untuk memacu semangat belajar sehingga siswa akan focus pada pembelajaran yang akan kita berikan.

Langkah kedua adalah,pada tahap eksplorasi dan konfirmasi. Pada moment ini biasanya peserta didik banyak mengalami hambatan belajar:kesulitan,malas,bahkan tidak focus dan ramai sendiri. Hal ini terjadi karena mungkin persepsi subjektif yang muncul di benak peserta didik terhadap mata pelajarannya atau bahkan pengampunya.Jika persepsi peserta didik negative terhadap,baik pelajaran atau pengampunya maka mereka tidak mau dengan sendirinya berusaha mengerti dan memahami apapun yang kita terangkan karena ada penghalang mental diantara pendidik dengan peserta didik. Disini menjadi penting untuk meminimalisir mental barriers semacam ini. Hal ini bisa dilakukan salah satunya dengan jalan memberikan mereka perhatian.

Gary Chapman dalam bukunya yang berjudul Five Love Language (Interaksara,2000) memberi cara yang bisa kita gunakan untuk merubah mindset anak terhadap kita – sebagai pendidik maupun pembelajaran yang kita berikan – melalui pendekatan bahasa cinta. Bahasa cinta itu salah satunya adalah sentuhan fisik.Sentuhan fisik akan menyebabkan perasaan nyaman,aman dan merasa diperhatikan. Kegembiraan yang muncul sebagai akibat sentuhan fisik akan sangat linear dengan pembelajaran efektif.

JIka hambatan pembelajaran itu muncul karena persepsi peserta didik yang menganggap pelajaran yang kita ampu sangat sulit,maka teknik anchoring bisa kita gunakan. Anchoring secara sederhana bisa kita artikan sebagai stimulus yang kita ciptakan dalam kondisi yang sama sehingga terespon secara otomatis.Dalam Hypnoteaching,anchor ini dibuat untuk membuat proses pembelajaran menjadi lebih mudah. Anchor bisa kita ciptakan sendiri baik berbentuk tempat,tokoh atau hal lain. Novian Triwidia Jaya dalam bukunya yang berjudul HYPNOTEACHING (Dy-brain,2010) memberi kita contoh bagaimana membuat anchoring. Dalam hal ini anchoring tempat. Yang dipersiapkan pertama kali adalah spot atau lokasi di depan kelas baik sisi kanan maupun kiri.Salah satu sisi itu akan kita beri stimulus untuk pelajaran mudah.Misalkan tempat ini berada di sisi sebelah kanan depan kelas,maka sisi kanan akan menjadi tempat dimana anak didik akan mencerna pelajaran dengan lebih mudah.Setiap kita memberikan topic materi yang mudah,dan peserta didik bisa dengan mudah memahaminya,beradalah pada sisi kanan tersebut . Ketika kita berada di posisi tersebut,pilihlah kata-kata stimulus yang akan diingat oleh peserta didik. Berikut ini adalah salah satu contohnya;”Pelajaran kita hari ini sangat mudah ya?ini semua karena anda memang anak-anak luar biasa” .Yang tertanam dalam pikiran peserta didik saat itu adalah;pelajarannya mudah dan kita bisa dengan mudah mengerjakannya.Disisi lain,jika kita menjelaskan materi yang dirasa cukup sulit,kita cukup berada di posisi yang mudah tadi.Maka anak didik akan merasa yakin bahwa pelajaran itu sebenarnya mudah.

Setiap individu memiliki motivasinya sendiri dalam melakukan sesuatu.Begitu juga yang terjadi pada anak didik kita.Ada dari mereka yang melakukan kegiatan/tugas belajar karena ingin mendapatkan hadiah,pujian,prestasi dan disisi lain ada juga yang tergerak untuk melakukan sesuatu karena takut hukuman.Kedua penggerak motivasi inilah yang kita gunakan untuk menciptakan kelas yang lebih aktif, menarik,penuh kegairahan dalam belajar sekaligus gembira.Namun yang perlu mendapat catatan adalah buatlah hukuman itu sesuatu yang mendidik bukan sesuatu yang menakutkan.

Karenanya mekanisme Reward & Punishment ini harus mendorong siswa untuk lebih termotivasi dalam belajar.Misalkan,bagi yang mengerjakan tugas tepat waktu maka kita beri bonus nilai 10 dan bagi mereka yang tidak tepat waktu maka mendapat tambahan tugas meringkas atau membaca sebuah buku yang harus diceritakan kembali di depan kelas.

Akhirnya,Keberhasilan pendidikan anak negeri ini salah satunya dibebankan di pundak kita. Mari kita hadirkan pembelajaran yang menyenangkan sekaligus berkualitas bagi mereka. Karena hal ini adalah wujud komitmen dan tanggungjawab kita sebagai pendidik.Semoga[hyn].

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s