SAAT SISWA SEDOT SANA SEDOT SINI!

SAAT SISWA SEDOT SANA SEDOT SINI!

Bus yang akan membawa saya ke Jember pagi itu penuh sesak dan hanya menyisahkan dua bangku kosong di barisan belakang. Di kursi belakang itulah terpaksa saya berebut tempat dengan koper besar yang saya bawa. Namun awak bus seakan tidak mau peduli dengan penuhnya moda transportasi tersebut. Siapapun yang melambaikan tangan di tepi jalan pastilah akan diangkutnya. Begitu juga saat 7 siswa sebuah sekolah kejuruan di sebelah desaku naik. Tanpa mempertimbangkan daya tampung,awak bus langsung membuka pintu dan serta merta meminta penumpang yang berdiri di dekat pintu supaya bergerak ke depan. Hal ini dilakukannya untuk memberi tempat bagi 7 penumpang barunya. Akhirnya mereka berdiri berdesak-desakan persis seperti lagu Bis Kota nya Franky Sahilatua:Bis kota sudah,miring ke kiri,miring ke kanan,oleh sesaknya penumpang……….
Mohon ma’af jika dalam tulisan kali ini saya tidak hendak membahas kenyamanan dan keselamatan moda transportasi di Indonesia. Pun juga membahas bagaimana membuat moda transportasi semacam ini lebih nyaman dan aman dan tentunya tepat waktu sebagaimana yang saya alami selama menggunakan moda sejenis di Jepang.
Namun tulisan ini hendak berbagi sesuatu yang saya temui sesaat setelah berada dalam bus tersebut. Seorang pelajar yang dengan tanpa malu-malu menawarkan video porno pada salah satu awak bus.”Enek barang anyar mas, apik dan mulus (ada barang baru mas,bagus dan putih mulus.Pen). Begitu santainya dia menawari sang awak bus di tengah keramaian orang sambil menggengam dua buah HP china di tangannya. Sebegitu parahkah anak didik kita selama ini,hingga tidak malu berbuat hina? Atau inilah implikasi dari ketidakpedulian kita(orang tua dan pendidik) terhadap perkembangan dan moralitasnya?
Bagi sebagian pembaca,peristiwa semacam ini mungkin sudah biasa atau bahkan sudah bukan barang yang baru lagi alias basi. Sudah bukan rahasia umum lagi jika kemrosotan moral pelajar banyak di dengang-dengungkan oleh beberapa pihak. Hasil survey terkini tentang prilaku free sex pelajar juga semakin menegaskan betapa ambruknya moralitas mereka.
Sebagai pendidik, kejadian semacam ini memberi saya rasa bersalah. Tidak hanya merasa bersalah namun juga mendorong kekawatiran berlebih terhadap masa depan dan keberlangsungan moralitas mereka.Mengingat merekalah cerminan masa depan bangsa kedepannya. Dalam perspektif ini, menjadilah sebuah kewajaran apa yang saya kawatirkan, bukan?. Terlebih lagi diharapkannya sosok pendidik sebagai pendorong perubahan prilaku anak didiknya.
Namun disisi lain,kehadirannya tidak bisa dipungkiri. Rekayasa dan kecanggihan teknologi informasi telah mampu meruntuhkan tembok dan penghalang akses dan kesempatan mendapat informasi selama ini. Dengannya kita bisa mendapat informasi bahkan pengetahuana dan ketrampilan secara gratis, up to date dan kadang realtime.Sering kali, teknologi di genggaman anak didik justru menjadi malapetaka. Maraknya kasus amoral dan free sex di kalangan pelajar tidak bisa dipungkiri sebagai imbas dari mudahnya pelajar sedot sana sedot sini materi-materi yang merangsang hasrat sexualitasnya.
Realitas semu (virtual reality) adalah ruang virtual yang tercipta ketika kita menggunakan internet. Revolusi teknologi informasi mampu melahirkan keajabain baru bernama internet .Internet sebagai produk teknologi informasi telah merevolusi kehidupan manusia.
Kehadiran internet, seperti yang ditulis oleh John Micklethwait dan Andrian Wooldridge dalam bukunya yang berjudul”A Future Perfect: The Challenge and Hidden Promise of Globalization”,memberi warna baru dalam komunikasi global.Internet memungkinkan manusia berhubungan satu sama lain tanpa dihalangai oleh batasan geografis (borderless world). Dengan kata lain, Globalisasi informasi yang didukung oleh kehadiran internet ini tidak bisa ditolak kehadirannya.
Dunia cyber tidak mengenal hukum, pun juga didalamnya tidak ada istilah baik dan buruk.Kebajikan dan keburukan bisa berjalan seiring.Para pakar menyebut phenomena ini sebagai ”Ethical Zero” (titik nol etika).Hal ini tidak lain karena di internet cyber violence bisa berjalan dan menyebar secara leluasa sebagaimana juga cyber porn,cyber wisdom bahkan sekaligus cyber spirituality dalam satu system informasi. Ini adalah wujud dari revolusi pada kehidupan manusia. Tanpa kita sadari internet telah menjungkirbalikan tatanan dan paradigma secara radikal.
Dari sinilah maka kemudian sangat mudah bagi pelajar untuk sedot sana sedot sini baik materi pelajarannya maupun hal yang tidak sepatutnya ia lihat dan lakukan. Semisal gambar dan video porno. Kegiatan tersebut tidak hanya akan menyuburkan praktek pembajakan hak cipta,namun yang lebih penting lagi adanya pembajakan terhadap hak dan kewajibannya sebagai pelajar. Terlebih lagi pembajakan atas masa anak-anaknya dengan secara dini kenal lawan jenis dan berbuat layaknya suami istri.Masihkah kita perduli terhadap moralitas mereka?Akan menjadi bijak jika kepedulian itu kita mulai dari kita sendiri untuk tidak melakukan hal yang sama. Sebagaimana Mahatma Ghandi yang diminta untuk menasehati seorang anak yang suka makan permen. Mahatma Ghandi tidak serta merta menasehati anak tersebut secara langsung. Dia butuh waktu 1 bulan untuk melakukannya. Kita pasti tahu mengapa Mahatma Ghandi butuh 1 bulan untuk menasehatinya. Ya, karena Mahatma Ghandi sendiri menyukai permen. Dia butuh waktu untuk berhenti makan permen dan kemudian melaksanakan perintah ibu sang anak untuk menasehatinya:berhentilah makan permen!!!!.
Semoga kita tetap di beri kesabaran dan kesungguhan dalam membimbing dan memberi tauladan yang baik bagi anak didik. Dan tetap bersemangat untuk berkhidmat bagi pendidikan anak Indonesia yang lebih baik.Saya bangga jadi guru!!!!!!!!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s