Mengunjungi Sekolah Khusus di Jepang

Mengunjungi Sekolah Khusus di Jepang

HL | 14 March 2012 | 18:14 Dibaca: 503 Komentar: 20 1 dari 1 Kompasianer menilai menarik

13317362951171545405

Berpose bersama murid-murid di Kumamoto Deft School

Undangan makan siang oleh Prof.Furuta dan Yamada Sensei minggu itu sungguh memberi saya banyak pelajaran dan pengalaman. Betapa tidak,Prof.Furuta yang pakar pendidikan berkebutuhan khusus dan Pakar Pendidikan Asia Timur itu memberi banyak pencerahan atas kondisi dan problematika pendidikan Jepang Terkini.Penjelasannya sangat sederhana dan efektif. Hampir 1 jam lamanya kami menikmati obrolan syarat makna dengan sesekali meminum teh hijau dan menyantap menu vegetarian yang disediakan di meja itu.

Beliau memberikan saya kesempatan seluas-luasnya untuk menggali lebih dalam tentang pendidikan Jepang.Bagaimana karakter dan kedisiplinan terbentuk,bagaimana sekolah memiliki fasilitas yang sangat memadai dan diisi oleh guru-guru yang berdedikasi tinggi bagi kemajuan pendidikannya.Sungguh kesempatan yang sangat berharga!.(Pengalaman ini akan saya tulis setelahnya).

Ternyata keberuntungan saya tidak hanya berhenti di situ,Yamada sensei,seorang guru di Kumamoto deft School mengundang saya ke sekolahnya untuk mengajar murid-muridnya.Kebetulan dia juga mengajar bahasa inggris. Guru yang satu ini juga tidak bisa dipandang sebelah mata, bahasa inggrisnya sangat baik, meski sesungguhnya ia adalah guru sains.Sudah menjelajah beberapa Negara baik di Afrika, Asia,Amerika Latin, USA,Rusia dan Australia,hingga kesehariannya diperkaya oleh pengalaman hidupnya.Dimana 24 tahun diantaranya ia habiskan untuk mengabdi bagi pendidikan,tidak saja di Jepang namun juga di Negara-negara yang saya sebutkan diatas.

Sesampainya di gerbang sekolah, Yamada sensei dengan senyum mengembang menyambut saya dengan hangat.Dari lantai dua sayap kiri sekolah itu saya melihat dengan jelas beberapa siswa melambaikan tangan kearah Saya dan Yamada Sensei dengan penuh senyum dan kehangatan. Dan murid-murid itulah yang nantinya saya temui.Di ruang lobi masuk sekolah itu kami harus menanggalkan sepatu dan menggantinya dengan sandal. Sandal berwarna merah dengan motif bunga sakura itu sepintas membuat saya bingung, mana sandal yang kiri dan mana yang kanan,ah akhirnya aku pakai saja. Yamada sensei langsung membawa saya ke ruang kepala sekolah, ruangannya sangat sederhana, sang kepala sekolah (saya lupa namanya, habis tulisannya kanji sih) dengan senyum penuh kehangatan menyapa saya dengan bahasa jepang,kami bercakap sebentar sebelum Yamada sensei membawa kami ke lantai dua.

Yamada Sensei

Dilantai dua itu saya dibawahnya ke ruang guru,woow besar sekali ruangan gurunya, kira kira seukuran 3 ruang kelas kita (8 X 9 X 3). Di ruangan itu terdapat 40 an guru. Tidak ada yang membedakan dengan ruang guru di Indonesia,namun disini saya melihat semua guru asyik membaca atau mengoreksi hasil pekerjaan siswanya. Beberapa diantara sibuk keluar masuk ruangan sambil membawa berkas-berkas di tangannya. Dan tidak saya temukan yang bersantai atau ngobrol kesana kemari.Benar-benar pemandangan yang sangat kontras dengan beberapa suasana ruang guru di sekolah kita:dimana banyak waktu digunakan untuk mengobrol dan bersenda gurau.

Selasar yang menghubungkan satu ruangan dengan ruangan lainnya ditata secara apik dengan berbagai ornament hasil kreatifitas siswa. Menyusurinya seolah-olah berada di hotel berkelas:bersih dan rapi.Naik ke tingkat dua bangunan itu saya mengamati kelas satu persatu,masing-masing kelas memiliki suasana dan kondisi berbeda:sangat warna warni. Pantes saja siswa rela berlama-lama didalam kelasnya.Hasil kerja dan kreatifitas anak tertata rapi di sisi-sisi dinding kelasnya.Semakin menambah kesan hangat di ruang-ruang kelas itu.

Salah satu bagian kelas

Tanpa terasa kami sudah berada di depan pintu kelas, Konichiwa!saya berkata setengah

berteriak layaknya sang motivator saat menyapa audience nya?kelas menjadi hangat dengan senyuman tanda penyambutan kedatangan saya. Kelas itu hanya diisi oleh 3 siswa belaka. Satu cowok dan dua cewek. Hama,Sora dan Rieke adalah nama-nama siswa yang sangat luar biasa itu. Keluarbiasaan ini bukan karena kemampuan kognisinya yang cerdas namun lebih pada kondisi mereka yang mengalami kekurangan dari sisi pendengaran dan kemampuan komunikasi.Namun dibalik kelemahan itu saya temukan sebuah semangat luar biasa di tengah keterbatasan mereka.

Kami kemudian duduk melingkar,dimulailah pelajaran speaking hari itu dengan permainan Shiritori (mohon maaf kalo salah menulisnya). Setelah kami mulai mengenal, kami kemudian terlibat dalam diskusi berbahasa inggris penuh gairah. Lalu diselah-selahnya,saya bertanya kepada tiga siswa itu:apa cita-cita anda?.Satu-satu sang murid dengan penuh semangat mengutarakan cita-citanya:Hama menjadi Dokter, Sora menjadi guru dan Rieke menjadi Insinyur. Hama ini memiliki kelebihan dalam bidang sain, sedang sora adalah salah satu duta Jepang di acara international students camp di Venezuela tahun lalu,sedangkan Rieke adalah unggul di computer programming,konon dia juga mampu merangkai origami pada kertas 5 centi!wouw sebuah bakat luar biasa di balik kekurangannya. Mengapa semua ini dapat berkembang secara maksimal:Kepedulian pemerintah menyediakan pendidikan yang berkualitas bagi warga negaranya tanpa pandang bulu!. Mereka juga memiliki guru-guru yang sangat luar biasa seperti Yamada Sensei. Alangkah beruntungnya anak Indonesia jika memiliki pemerintah yang peduli terhadap potensi mereka. Semoga kedepannya ada upaya nyata untuk menghadirkan layanan pendidikan yang melayani seluruh potensi warga Negara!Indonesia Pasti Bisa!.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s