GURU CAN DO WRONG!!!

Guru Can Do Wrong!

OPINI | 10 June 2012 | 19:44 Dibaca: 119 Komentar: 2 2 dari 4 Kompasianer menilai inspiratif

GURU CAN DO WRONG!!!

Malam itu anak sahabat saya yang masih duduk di kelas 1 SD bercerita pada Orang tuanya. Dia mengeluhkan perlakuan gurunya di kelas. Guru kelasnya sering menyindirnya hanya karena ibunya pernah mengadukan sang guru ke kepala sekolah. Pengaduan itu dilakukan sebagai respon atas perlakuan sang guru yang kurang mendidik. Dengan ekspresi yang lugu dia mengatakan batapa malunya dia karena guru kelasnya melakukan hal yang sama tiap waktu.Hampir tiap hari dia merasakan ketidaknyamanan dalam kelas tersebut.Harapannya cuman satu,segera bisa keluar dari kelas tersebut dan mendapatkan suasana baru.

Sang orang tua masih begitu ingat betapa bersemangat dia saat pertama kali menginjakkan kaki di sekolah barunya. Sepatu,seragam,tas dan peralatan tulis menulisnya yang baru bersinergi begitu bagus dengan keceriaan dan motivasinya saat itu.Mungkin impian malamnya hanyalah satu=segera bertemu dengan sang pagi. Saat dia bisa kembali ke sekolah bertemu suasana baru,teman baru sekaligus guru yang baru. Kegembiraan diawal masa sekolahnya itu terbawa sampai pada situasi rumah. Sesampainya di rumah, saat ditanya bagaimana sekolahnya,dia selalu menjawab dengan penuh semangat:Alhamdulillah luar biasa.Sebuah ekspresi yangmenunjukkankegembiraan dan rasa percaya diri.

Namun,saat ini kondisi itu tereduksi sedikit demi sedikit oleh belenggu alam bawa sadarnya yang mengatakan dia anak jelek,karena ibunya pernah protes pada guru kelasnya. . Lingkungan kelasnya sudah tidak senyaman dulu lagi saat sang guru tidak mengkotaknya dalam satu sterotyping=anak tukang protes=jelek.

Semangatnya semakin meredup. Entah apa yang akan terjadi saat semangat dan kegembiraan belajarnya turun. Akankah ia mengalami cognitive shutdown ?padahal inilah saat dimana kegembiraan dan semangat belajarnya mulai tumbuh?. Kalau demikian adanya, benarlah jika seringkali praktek pembelajaran bukan lagi menyemai justru memupuskan motivasi dan keinginan kuatnya untuk menuntut ilmu sang anak didik.

Ternyata kasus yang menimpa anak sahabat saya juga tidak menutup kemungkinan dialami oleh ribuan siswa lainnya di negeri ini.Konon,di kelas pemula itulah banyak ditemukan malpraktik pembelajaran. Terutama dikelas-kelas awal SD (1,2,3). Contoh efffect malpraktik yang banyak ditemukan antara lain siswa mulai menjadi malas belajar,menjadi pasif,takut pada pelajaran atau guru kelas tertentu, prestasinya tidak optimal meski intelegensinya tinggi. Gejala semacam ini bisa jadi sebagai tanda penting adanya malpraktik pendidikan didalamnya. Memang tidak semua siswa berani untuk mengungkapkan ketidaknyamanan di kelas. Terlebih lagi berontak, karena sosok guru masih cukup disegani dimata anak didiknya.

Apresiasi yang sangat tinggi inilah yang kadang menjadi alibi sang guru untuk melakukan tindakan yang kadang tidak dibenarkan oleh prinsip-prinsip pendidikan. Kalau seorang guru melakukan kekerasan fisik, jelas sekali akan menuai protes dan kemarahan sang orang tua.Banyaknya kasus pelaporan kekerasan guru terhadap murid beberapa tahun terakhir juga menunjukkan pergeseran yang berarti dalam memaknai guru dan pembelajaran didalamnya. Namun tidak demikian dengan kekerasan psikologis yang sering diterima sang murid. Justru banyak kekerasan psikologis yang tidak disadari bahayanya dimasa mendatang,terlebih lagi kasus pada anak -dibawah 10 tahun dimana alam bawah sadarnya masih mendominasi. Bisa jadi input-input informasi negatif yang diberikan guru menjadi program bawah sadarnya yang setiap saat berubah menjadi penghalang belajarnya. Sosok guru memang besar kemungkinannya CAN DO WRONG!!!!!!!!!

Namun sayang, kesempatan untuk memperbaiki diri melalui kritikan belum banyak terbudayakan di lingkungan guru. Banyak guru menjadi sangat alergi terhadap kritikan yang diberikan oleh murid dan orang tuanya. Karena dia menganggap lebih tahu dan lebih berpengalaman di ruang kelas.Kondisi semacam ini mendorong banyak guru berada pada status quo , tidak mau diusik apalagi dibebani dengan persoalan kritikan..Dia sudah nyaman dengan kondisinya saat ini.

Seorang guru sepatutnya terus bergerak dalam dinamika kelas-kelasnya. Selalu tergerak memperbaiki diri,mencoba sesuatu yang baru, berfikir dalam perspektif yang berbeda. Mulai membangun energi positif dalam pembelajarannya dengan tidak berupaya meniadakan kemungkinan-kemungkinan lebih pandainya sang murid dari padanya.Sehingga dia akan terus belajar dan memaknai setiap langkahnya dengan berusaha menjadi lebih baik.Sosok guru yang selalu tersenyum saat muridnya mengkritik gaya mengajarnya, sosok guru yang terus sabar ditengah belum pahamnya sang murid akan suatu pengetahuan,sosok guru yang selalu melihat sang murid tak ubahnya sang buah hatinya sendiri yang butuh bimbingan,belaian dan kasih sayang.

Disitulah sesungguhnya fungsi kepengasuhan guru yang dinantikan oleh jutaan anak didiknya.Mereka sangat merindukan sosok guru yang bisa menjadi teman saat hatinya galau, dan menjadi orang tua saat butuh bimbingan dan pencerahan. Bukan sebaliknya, sosok yang mudah menghakimi dan menakutkan!!!!!!!.

Akhirnya, kami bangga menjadi guru,karena diberi kesempatan yang besar untuk memaknai setiap kritikan dari sang murid menjadi untaian kebaikan dan amal shaleh. Sekali lagi, Terima kasih murid-murid yang sudah rela memberi masukan,tanpa kritikanmu pendidikan akan hanya menjadi budak bagi buku teks semata (book slave). “Jangan mengkuatirkan bahwa anak-anak tidak mendengarkan Anda, kuatirkanlah bahwa mereka selalu mengamati Anda” – Robert Fulghum

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s