Kisah Anak 6 Tahun Memulung Demi Menghidupi Ayahnya yang Lumpuh

Satu lagi sebuah kisah yang sangat mengharukan dari Negeri Tirai Bambu, seorang anak kecil di Dajiyuan, menghidupi ayahnya yang lumpuh dengan menjadi seorang pemulung. Karena ayahnya lumpuh bertahun-tahun, anak yang baru berumur 6 tahun ini terpaksa memikul tanggung jawab rumah tangga. Selain setiap hari mencuci muka ayahnya, memijat dan memberi makan, dia masih bersama ibunya mengambil botol air mineral bekas sebagai tambahan pendapatan keluarga. Cerita Tse Tse ini banyak menyentuh hati teman di internet, hanya beberapa jam, sudah puluhan ribu orang yang mengkliknya.
Adegan yang mengharukan
Begitu sampai di rumah, Tse Tse langsung sibuk menyiapkan seember air, lantas dengan tangannya yang mungil ia memeras selembar handuk yang besar, karena handuk terlalu besar buat dia, Tse Tse membutuhkan 3 sampai 4 menit baru bisa mengeringkannya, kemudian dengan handuk itu dia menyeka wajah ayahnya dengan lap itu. Dia sangat teliti melapnya, sepertinya khawatir kurang bersih. Setelah selesai, Tse Tse kemudian berjingkat melap punggung ayahnya, di belakang, selesai semua, dengan puas dia tersenyum ke ayahnya. Baca lebih lanjut

GURU CAN DO WRONG!!!

Guru Can Do Wrong!

OPINI | 10 June 2012 | 19:44 Dibaca: 119 Komentar: 2 2 dari 4 Kompasianer menilai inspiratif

GURU CAN DO WRONG!!!

Malam itu anak sahabat saya yang masih duduk di kelas 1 SD bercerita pada Orang tuanya. Dia mengeluhkan perlakuan gurunya di kelas. Guru kelasnya sering menyindirnya hanya karena ibunya pernah mengadukan sang guru ke kepala sekolah. Pengaduan itu dilakukan sebagai respon atas perlakuan sang guru yang kurang mendidik. Dengan ekspresi yang lugu dia mengatakan batapa malunya dia karena guru kelasnya melakukan hal yang sama tiap waktu.Hampir tiap hari dia merasakan ketidaknyamanan dalam kelas tersebut.Harapannya cuman satu,segera bisa keluar dari kelas tersebut dan mendapatkan suasana baru.

Sang orang tua masih begitu ingat betapa bersemangat dia saat pertama kali menginjakkan kaki di sekolah barunya. Sepatu,seragam,tas dan peralatan tulis menulisnya yang baru bersinergi begitu bagus dengan keceriaan dan motivasinya saat itu.Mungkin impian malamnya hanyalah satu=segera bertemu dengan sang pagi. Saat dia bisa kembali ke sekolah bertemu suasana baru,teman baru sekaligus guru yang baru. Kegembiraan diawal masa sekolahnya itu terbawa sampai pada situasi rumah. Sesampainya di rumah, saat ditanya bagaimana sekolahnya,dia selalu menjawab dengan penuh semangat:Alhamdulillah luar biasa.Sebuah ekspresi yangmenunjukkankegembiraan dan rasa percaya diri. Baca lebih lanjut

Benarkah Posisi Menentukan Prestasi?

Benarkah Posisi Menentukan Prestasi?

OPINI | 07 June 2012 | 20:53 Dibaca: 145 Komentar: 1 Nihil

Menyedihkan sekaligus mencemaskan!!!!!!. Itulah gambaran sederhana sesaat setelah membaca tulisan diatas. Kata itu saya dapati disebuah akun facebook beberapa saat yang lalu. Sang empunya akun ternyata seorang mahasiswa salah satu perguruan tinggi di kabupaten sebelah. Saya tidak tahu siapa sebenarnya dia, tapi bisa jadi ia salah satu muridku di SMA dulu.Bagi saya siapa sebenaranya dia tidaklah patut diperdebatkan lama-lama,karena paling tidak satu pelajaran penting telah ia berikan pada saya pagi ini. Terima kasih ya?sudah mau memberi pelajaran berarti,,,,,,,,,gratis lagi,he he he.

Konon,ia rela bangun pagi dan berangkat ke kampus lebih awal hanya ingin mendapat tempat duduk yang strategis (ketahuan deh bangun pagi hanya jika ada ujian,he he he he). Bangun paginya ternyata bermuatan politis ya? Strategis di sini mengacu pada pilihan tempat. Sebuah tempat yang memungkinkannya secara leluasa mendapat limpahan rejeki -berupa jawaban soal- dari sekelilingnya.Ibarat striker sebuah kesebelasan,dia harus mampu menempatkan diri pada posisi terbaik untuk mendapat bola dan mencocornya ke gawang lawan dan gol. Baca lebih lanjut

Monster Parents dalam Dunia Pendidikan

Monster Parents dalam Dunia Pendidikan

OPINI | 23 May 2012 | 08:47 Dibaca: 228 Komentar: 0 Nihil

Selepas Nagasaki dan Hiroshima di bom nuklir oleh tentara sekutu, Kaisar Hirohito tidak bertanya berapa banyak tentara yang tersisia,pun juga tidak bertanya berapa kerugiaan yang di deritanya. Namun, beliau mengajukan satu pertanyaan yang sangat fenomenal. Dan pertanyaan itu adalah: Berapa banyak guru yang masih tersisa?. Kaisar Hirohito menyadari betapa penting peran seorang guru dalam membangun kejayaan negerinya. Tersisanya banyak guru sama dengan mendapatkan triliunan cash flow yang akan menggerakkan sekaligus memutar peradaban dan kemajuan negaranya.

Dan akhirnya pertanyaan fenomenal itu membuktikan dirinya dengan menjadikan Jepang salah satu kampiun besar dalam hampir segala bidang di dunia. Kreatifitas dan kejeniusan warga negaranya menjadikan HONDA,SUZUKI,YAMAHA,MITSUBISHI dan lainnya sebagai raja kendaraan di seluruh dunia. Produk-produk elektronik dan high tech lainnya juga menuai kesuksesan yang serupa. Kemajuan ini tidak bisa dilepaskan dari guru-guru yang berdedikasi dan mengabdi penuh keikhlasan bagi kemajuan bangsanya (Jepang). Guru-guru yang dijadikan sumber utama inspirasi setelah sekutu menjatuhkan dua Bom nuklirnya di Hiroshima dan Nagasaki.

Peran guru kemudian mendapat tempat yang sangat mulia di hati bangsa Jepang. Guru begitu di hormati dan dihargai. Disisi lain, kemajuan yang didapat bangsa Jepang menempatkannya sebagai bangsa makmur. Dengan pendapatan yang sangat tinggi, mereka mampu memenuhi kebutuhan hidupnya dengan sangat mudah. Jepang berkembang sangat cepat menjadikan kota-kotanya sangat besar baik dari aspek perputaran ekonomi maupun layanan dan fasilitas publiknya.Booming ini telah menciptakan generasi-generasi yang sangat dimanjakan oleh kekayaan dan fasilitas yang serba mewah dan memudahkan. Remaja-remaja Jepang tumbuh menjadi golongan yang sangat hedonis. Hidup serba berkelebihan,mau minta apa saja dapat dengan mudah terpenuhi.Kondisi itulah yang salah satunya kemudian mendorong mulai lunturnya penghargaan dan penghormatan mereka pada guru. Beberapa tahun terakhir ini,kondisi ini sering disebut dengan Monster Parents Phenomena. Baca lebih lanjut

Arti Senyuman Sang Guru

Arti Senyuman Sang Guru

OPINI | 03 May 2012 | 11:17 Dibaca: 85 Komentar: 2 Nihil

Sering kali keluguan dan kejujuran anak-anak membukakan sebuah kenyataan. Hal ini pula yang saya alami sesaat setelah mendengar cerita dari Muhammad Taffarel Al Ghazali. Dia bercerita tentang sekolah yang membuatnya bahagia dan betah berada di dalamnya. Bukan sekolah yang mewah dengan fasilitas segudang,atau bukan pula sekolah dengan guru-guru terbaik bergelar sejagad. Bukan itu ternyata, ianya hanyalah sebuah sekolah yang guru-gurunya selalu menebar senyum dan keramahan padanya. Senyum dan keramahan itulah yang membuatnya merasa nyaman dan aman berada di dalamnya. Dan itulah sekolah yang baik baginya.

Muhammad Taffarel Al Ghazali ini mencoba membandingkan sekolahnya saat ini (sebuah Sekolah dasar negeri) dengan sekolah yang baru di kenalnya tadi. Bukan tanpa alasan jika dia membandingkan dan kemudian menarik kesimpulan semacam itu. Kesimpulannya tidak datang tiba-tiba,mengingat ada sebuah peristiwa yang melatarbelakanginya. Suatu pagi, dia pulang kerumah membawa sebuah tangisan dengan ekspresi wajah aneh. Ekspresi wajahnya mengguratkan ketakutan dan rasa bersalah yang dalam. Setelah di Tanya barulah dia menjelaskan alasan dibalik kepulangannya pagi itu.

Rupanya sang guru membentaknya di depan teman-temannya. Hanya karena dia tidak membawa buku PR Matematikanya. Kemudian dijelaskan kepada saya mengapa dia tidak membawanya,alasannya cukup rasional,karena pada hari itu tidak ada pelajaran Matematika. Keputusannya untuk tidak membawa buku Matematika dalam hal ini benar adanya. Dia mencoba menaati aturan-aturan yang dibuat bersama dengan guru dan kelasnya. Sejak peristiwa itu dia selalu diliputi oleh ketakutan dan kekawatiran akan amarah sang guru. Tangisan adalah ungkapan emotionalnya jika lupa membawa sesuatu atau salah melakukan sesuatu sesuai perintah gurunya. Saya sangat bersedih ,karena peristiwa itu telah melumpuhkan salah satu syaraf percaya dirinya. Baca lebih lanjut