Okanemochi

67.jpg
 
Kemana anda menghabiskan lebaran tahun ini?. Bersilaturahmi dengan handai taulan dan sanak famili atau melancong ke suatu tempat. Saya dan keluarga lebih banyak menghabiskan liburan lebaran tahun ini di rumah saja.
Momen lebaran selalu menyegarkan bagi siapa saja yang merayakannya. Hidangan nikmat tertata rapi di meja makan untuk disantap selepas shalat Ied. Aneka kudapan dan jajanan tertata rapi diatas meja berbungkus toplees warna warni. Lebaran menyegarakan apa saja termasuk alam sekitar: warna cat dinding terbarukan, kursi sofa, hiasan dan pernak pernik rumahpun menjadi baru. Ah lebaran memang menjadi pendorong keberbaruan. Semoga keterbaruan itu tidak sekadar phisik semata namun yang lebih penting adalah jiwa dan hatinya.
Momen lebaran juga selalu mengingatkan masa-masa kecil dulu (sekira tahun 80 an). Masa yang sangat romantis dan berkesan. Selepas shalat Ied, bersama teman sebayaku, berjalan dan menghampiri setiap rumah untuk tidak sekedar bersilaturahmi namun juga yang paling penting adalah mengharap dapat uang recehan dari si empunya rumah. Jaman itu kita sudah bisa memetakan mana si empunya rumah yang akan memberi uang (angpao) mana yang tidak. Dari data awal itulah kami bisa menentukan kemana harus “nglencer” terdahulu. Ah, anak kecil emang kreatif!!!
Jaman dulu kala, angpao sebesar 25 perak sangatlah berarti. Apalagi jika ada 10 rumah yang memberikannya. 250 Perak!!!! wouw itu berarti banget bro! bis abeli petasan 10 pak. Bisa minum bakso 10 kali! Itu dulu, sekarang ma beda!
Detik, menit, jam, hari,, minggu, bulan dan tahunpun berganti. Angpao mengalami metamorfosisnya. dari sekdar uang recehan kini berubah menjadi uang kertas. Uang kertas yang lebih bermakna bagi si penerima. Kalau anda memiliki anak banyak, sesuatu keuntungan sendiri karena anak kita mendulang banyak angpao. Eit, jangan salah paham ya, lebaran dan silaturahminya bukan untuk mengais uang loh, tapi bagi anak kita bisa lain tujuannya. Omong, omong, berapa banyak “Sangu” lebaran yang anak anda dapatkan?

Guru Alal

Aku masih ingat sebuah tahi lalat menempel bagian kiri tengah kumis tipisnya. Kumisnya baru saja dipotong hingga nampak sangat rapi. Sebagai orang Madura, tentu saja bicaranya cepat dan keras. Suaranya yang keras dan cepat berbanding terbalik dengan tubuhnya yang ramping. Berulang kali dia bilang jikalau tidak begitu mahir menggunakan telepon pintar miliknya. Bahkan untuk menyimpan nomer teleponku, dia harus berulang kali bertanya pintasan mana saja yang harus di sentuh. Emang beda banget dengan generasi millineal macam siswa kita itu ya?
Pagi itu, cuaca sangat dingin. Maklumlah semalam diguyur hujan deras. Genangan air masih terlihat dibeberapa bagian halaman depan sekolah. Saya melihat seorang guru bersendekap menahan dingin di depan pintu masuk kantor sekolah tersebut. Saya mempercepat langkah menuju padanya. Dengan senyum manisnya, dia menjabat tangan dan bertanya tentang kabarku pagi itu. Entah dari mana awal pembicaraan pagi itu hingga mendaki gunung dan melewati lembah. Banyak hal dibahas, banyak pengalaman di dulang.
Dia mulai bercerita masa kecilnya yang sangat berat dan penuh tantangan di pesisir utara Jawa. Terlahir sebagai putra nelayan, kesehariannya tidak bias dilepaskan dari aktifitas melaut. Merajut jarring, mendayung sampan atau menjemur ikan asin. Sewaktu SMA, kesehariannya tidak banyak berubah. Justru semakin berat untuk anak seukurannya. Dia harus berangkat melaut di waktu sore dan pulang menjelang subuh. Tidak banyak kesempatan yang dimilikinya untuk belajar atau sekadar mengerjakan pekerjaan rumah yang diberi oleh gurunya. Aktifitas tersebut berlangsung hingga dia lulus SMA.
Semasa kuliah, meski tidak melaut, dia tetap bekerja. Bukan merajut jala atau menjaring ikan melainkan menemani beberapa anak di sekitar tempat kosnya belajar. Istilahnya dia memberikan les private anak sekolahan. Aktifitas inilah yang memberinya nafas dan hidup di perantauan. Hingga akhirnya dia menyelesaikan diploma 3 Pendidikan Matematikanya. Selepas itu, kehidupannya berubah, saat itu dia telah menjadi seorang pendidik di sebuah sekolah di sisi timur Gunung Semeru.
Saya serasa menemukan sebuah oase untuk memuaskan dahaga pengalaman hidup yang menginspirasi darinya. Saya mencoba mencari tahu mengapa dia tidak kunjung menjadi kepala sekolah. Sebuah karier dambaan pendidik. Dia diam sejenak sambil menghela nafas panjang. Pandangannya menerawang nun jauh kearah gunung semeru yang masih bersembunyi dalik kabut pagi. Ekspresi wajahnya mengguratkan sebuah teka-teki. Wajahnya memperlihatkan sesuatu yang tidak ingin ia ungkap. Saya semakin penasaran apa sesungguhnya jawabannya. (bersambung part 47)
alal.jpg

Senduro: Dwell of Gods

Suara Gemericik yang dihasilkan dari bersentuhnya air dan atap rumah terdengar sayup-sayup dari balik jendela kamar. Kubuka jendela dan kulepas pandangan keluar. Tampak aspal depan penginapan menjadi basah oleh aliran air hujan yang meluncur deras dari atas. Tampak pula deretan bus terparkir rapi. Puluhan orang berbaju putih, bersarung putih dan ber-udeng putih hilir mudik di depan penginapan. Rupanya mereka adalah rombongan para umat Hindu yang akan melaksanakan sembayangan di Pure Mandhara Giri Semeru Agung. Konon, inilah pure terbesar se pulau Jawa.
Dua hari yang lalu, saya memasuki komplek Pure ini. Bangunan berarsitektur Bali berdiri sangat banyak di dalamnya. Bale-bale istirahat berdiri di sisi timur bangunan utama. Terdapat aula yang sangat besar dengan 6 ekor patung gajah. Patung gajah tersebut berada di sisi kanan dan kiri pintu masuk aula tersebut. Pohon beringin tumbuh mengembang besar di beberapa bagian pure tersebut. Dibagian atas pure tersebut, terdapat komplek sembayangan bagi Umat Hindu. Tangga berundak mengantar kita ke bangunan suci tersebut. Tidak sembarang orang bisa masuk komplek utama pure tersebut. Sebuah plakat terpasang menggantung di pintu besi masuk areal tersebut. “Yang tidak sembayang dilarang masuk”. Akupun hanya bisa mengamatainya dari luar. Sebagaimana tempat ibadah bagi pemeluk agama lainnya, disitulah tempat kita merajut dan bermunajat pada sang pemilik hidup.
Disitu pula kita sering menaruh harapan dan optimisme dalam menjalani kehidupan ini. Harapan dan optimisme adalah sejoli yang membuat kita dapat berfokus pada keberhasilan. OS.Marden (1850-1924) menyatakan bahwa tidak ada obat semanjur harapan, tidak ada pendorong sehebat harapan, dan tidak ada suplemen yang sedemikian kuatnya seperti mengharapkan sesuatu terjadi pada esok hari. Saya juga teringat pada apa yang dikatakan oleh Helen Keller (1880-1968) bahwa optimisme adalah keyakinan yang menunjukkan kita pada kemajuan. Tidak ada prestasi yang bisa diraih tanpa harapan dan kepercayaan diri. Pagi ini saya belajar bagaimana masyarakat bali menjaga ke ajegannya dengan sang pemilik hidup.#Seize the day!
senduro

Guru Di Atas Awan

Beberapa peserta pelatihan tampak lesuh. Seolah tidak ada api semangat yang membakar jiwanya. Mereka duduk melingkar di serambi musholla sebuah sekolah menengah pertama di kaki gunung semeru. Beberapa diantara mereka tidur membujur sambil melepaskan penat siang itu. Sebagian lainnya asyik bersenda gurau dengan koleganya.
Duduk bersebelahan dengan mereka, sangat jelas terdengar apa yang sedang mereka diskusikan bersama. Setelah saling bertanya tentang kepastian pencairan gaji 13 dan 14, seorang peserta “nyletuk”tentang beratnya pelatihan yang mereka jalani. Serangkaian tugas yang harus segera diselesaikannya menyita waktu dan memeras otak mereka yang sudah tidak sesegar belasan tahun yang lalu. Bayangan membelajarkan anak di kelas (peerteaching) yang rumit dan sulit dengan berbagai model yang belum mereka kuasai, menjadi semacam “momok” yang sangat menakutkan di siang bolong itu.
Sebagai praktisi pendidikan, kita semua paham bahwa ketrampilan membelajarkan anak perlu diasah setiap saat. Ia laksana pisau yang digunakan untuk memotong dan mencincang aneka bahan dan daging. Agar tetap tajam, pisau itu haruslah terus diasah. Keajegan mengasah akan meminimalisir potensi ketumpulannya. Pun demikian dengan seorang pendidik. Ketrampilan dan seni membelajarkan anak dikelas harus terus dipoles dan dimutakhirkan agar pesan, pengetahuan dan gairah yang ditimbulkan bisa efektif. Salah satu pengasahan itu melalui serangkaian pelatihan semacam Bimtek K13 kali ini. Era yang semakin disruptive ini menuntut kita untuk selalu berbenah, berubah dan berfikir jauh ke depan. Kita masih ingat betapa besarnya pasr KODAK belasan tahun lalu. Kini, pasar itu seolah sirna oleh derasnya camdig dan telepon pintar. Duni aterus bergerak dan memberi dampak yang sangat massive bagi siapapun tidak terkecuali sekolah kita dewasa ini. Guru-guru di kelas semakin menurun pamornya dibanding Webex, coursera, IndonesiaX dan semacamnya. Kalau kita tetap duduk manis sambil mengharap TPP, Gaji 13 dan THR turun, bersiaplah untuk diambil perannya oleh gelombang inovasi baru. Sek talah, buko opo jek suweh ta wong. Kok ngomongku nglantur tekan endi-endi. #Seize the day!
_DSC7218.JPG

Devender Rover

(Whiteboard Stories Part 37)
Sosok siswa yang akan diceritakan dalam tulisan ini sangat spesial. Nama lengkapnya Defender Rover F Oghi. Kami biasa memanggil dengan sebutan Fender saja. Dari namanya saja, mungkin pembaca bertanya-tanya kenapa merek mobil ada di nama yang disematkan pada dirinya. FYI, semua saudara kandungnya menggunakan nama dan merek mobil terkenal semacam Toyota, Roll Royce dan semacamnya. Konon, kecintaan sang ayah akan dunia automotive melahirkan anak-anak berlabel gerobak baja tersebut.
Di sekolah kami, Fender menjadi lebih terkenal dari siapapun, termasuk gurunya sendiri. Apapun kegiatan dan acaranya, Fender lah sosok dibaliknya. Kondisi Fender di sekolah kami layaknya branding iklan Teh Sosro: apapun makanannya, minumnay teh Sosro!.
Fender adalah salah satu generasi Millenial. Fender juga tidak bisa jauh dari gadget (gawai) dan aktif di media social, menyukai game. Hidupnya normal sebagaimana sohibnya di sekolah. Perbedaan diantara Fender dengan sohibnya di sekolah terletak pada jiwa social dan kesukarelawanannya.
Kegiatan di sekolahnya melebihi siapapun dari warga di sekolah. Hadirnya di sekolah tidak saja menuntut ilmu tetapi juga memastikan semua kegiatan di sekolah berjalan dengan baik. Disaat siswa lainya menyiapkan diri untuk berangkat ke sekolah, Fender sudah tiba di sekolah. Menyalahkan audio yang biasa digunakan untuk pembiasaan pagi : Menyanyikan lagu Kebangsaan, Mengaji, membaca dan mengumumkan informasi penting.
Disaat siswa lainnya pulang kembali ke rumah, Fender masih di sekolah. Membantu installasi computer atau perbaikan infrastruktur sekolah. Disaat siswa lainya istirahat ke 2, Fender bergegas ke ruang audio untuk menyiapkan Adzan Dhuhur. Mengingatkan siswa muslim untuk melaksanakan kewajibannya.
Fender terlahir sebagai seorang Nasrani, namun kepedulian dan kesukarelawanannya melampaui apapun termasuk agamanya sendiri. Menjadi panitia kegiatan Peringatan Hari Besar Islam (PHBI) di sekolah. Fender juga menjadi salah satu tim pengendali kegiatan Baca Tulis Alqur’an bagi semua siswa sepulang sekolah. Melakukan absensi satu persatu siswa yang mengikuti kegiatan baca tulis Al Qur’an dan mencatat seluruh siswa yang berhalangan. Dan semua itu dilakukannya tanpa ada paksaan dan intimidasi apapun dari siapapun. Dia melakukannya dengan tingkat kecintaan yang luar biasa. Kecintaannya pada sekolah dan kegiatannya tak terperikan lagi. Melebihi kecintaan Romeo pada Juliet atau mabuk cintanya Qais (Majnun) pada Laila. Begitulah semestinya kita memaknai hidup ini, tidak saling membenci apalagi merendahkan dan melecehkan orang lain karena baju yang berbeda. Negara ini butuh sosok seperti Fender sebagai perekat tenunan kebangsaan yang mulai memudar. Sekolah dipercaya sebagai pasar kebangsaan sekaligus tempat menenunnya kembali. The best way to not feel hopeless is to get up and do something. Don’t wait for good things to happen to you. If you go out and make some good things happen, you will fill the world with hope, you will fill yourself with hope.” ― Barack Obama

E-mail Awal Puasa

E-mail Awal Puasa
(Whiteboard Stories Part 44)
Seorang siswa kelas X mengirim sebuah email di hari pertama puasa tahun ini. Saya membaca keseluruhan isi surat tersebut. Aha! saya menjadi sedikit terhibur dipagi itu. Dalam surat elektronik tersebut juga menyertakan sebuah link untuk diputar di youtube. Tautan di youtube tersebut membuatku semakin penasaran. Double click dan sebuah video drama muncul. Seorang siswa laki-laki bersanding dengan dua perempuan memainkan kata-kata dalam sebuah drama pendek.Anda pasti bisa menebak dibalik email tersebut, bukan?. Ya, Tugas yang terlambat! Bersykurlah saya mendapat email dari siswa daripada mendapat berita Hoax!!
Kelucuan dibalik pengiriman email itu yang membuatku terpingkal-pingkal. Bagaimana tidak terpingkal-pingkal membaca email yang spesial tersebut. Gaya bahasa menggebu-gebu dan ditengah email tersebut dia menuliskan alasan keterlambatan pengumpulan tugas tersebut. Konon, menurut si penulis email, keterlambatan itu bukan disengaja apalagi baru selesai membuat proyek tersebut. Keterlambatan itu semata-mata disengaja untuk menguji sejauh mana saya mampu bersikap sabar menghadapi siswanya dalam pengumpulan tugas yang sering molor. Terlebih lagi, bulan ramadhan sebagai bukti dan latihan kesabaran. Sejenak saya mengernyitkan dahi dan mengelus kepala. Achh, anak-anak itu memang pintar menghibur gurunya!!!Living with teenagers!#Seize the day!

Optimisme

Day3#Senduro
Suara Gemericik yang dihasilkan dari bersentuhnya air dan atap rumah terdengar sayup-sayup dari balik jendela kamar. Kubuka jendela dan kulepas pandangan keluar. Tampak aspal depan penginapan menjadi basah oleh aliran air hujan yang meluncur deras dari atas. Tampak pula deretan bus terparkir rapi. Puluhan orang berbaju putih, bersarung putih dan ber-udeng putih hilir mudik di depan penginapan. Rupanya mereka adalah rombongan para umat Hindu yang akan melaksanakan sembayangan di Pure Mandhara Giri Semeru Agung. Konon, inilah pure terbesar se pulau Jawa.
Dua hari yang lalu, saya memasuki komplek Pure ini. Bangunan berarsitektur Bali berdiri sangat banyak di dalamnya. Bale-bale istirahat berdiri di sisi timur bangunan utama. Terdapat aula yang sangat besar dengan 6 ekor patung gajah. Patung gajah tersebut berada di sisi kanan dan kiri pintu masuk aula tersebut. Pohon beringin tumbuh mengembang besar di beberapa bagian pure tersebut. Dibagian atas pure tersebut, terdapat komplek sembayangan bagi Umat Hindu. Tangga berundak mengantar kita ke bangunan suci tersebut. Tidak sembarang orang bisa masuk komplek utama pure tersebut. Sebuah plakat terpasang menggantung di pintu besi masuk areal tersebut. “Yang tidak sembayang dilarang masuk”. Akupun hanya bisa mengamatainya dari luar. Sebagaimana tempat ibadah bagi pemeluk agama lainnya, disitulah tempat kita merajut dan bermunajat pada sang pemilik hidup.
Disitu pula kita sering menaruh harapan dan optimisme dalam menjalani kehidupan ini. Harapan dan optimisme adalah sejoli yang membuat kita dapat berfokus pada keberhasilan. OS.Marden (1850-1924) menyatakan bahwa tidak ada obat semanjur harapan, tidak ada pendorong sehebat harapan, dan tidak ada suplemen yang sedemikian kuatnya seperti mengharapkan sesuatu terjadi pada esok hari. Saya juga teringat pada apa yang dikatakan oleh Helen Keller (1880-1968) bahwa optimisme adalah keyakinan yang menunjukkan kita pada kemajuan. Tidak ada prestasi yang bisa diraih tanpa harapan dan kepercayaan diri. Pagi ini saya belajar bagaimana masyarakat bali menjaga ke ajegannya dengan sang pemilik hidup.#Seize the day!