Indonesia-Korea Teacher Exchange 2018

Jika anda mencari tahu tentang bagaimana proses seleksi, pengumuman , pre departure hingga kegiatan di Korea, inilah web blog yang sangat tepat bagi anda. Selamat menjelajah pengalaman saya dalam program ini dan jangan lupa untuk meninggalkan comments ya gaes, Himneseyo

42566754_10212795328733875_660589545200287744_o41558881_10212710283927808_92270075205124096_o42566754_10212795328733875_660589545200287744_o

Iklan

Siswa Spesial di Korea

Catatan Muhibah
Bagian Ke 14
Siswa Spesial di Korea

Nothing in this world can take the place of persistence. Talent will not: nothing is more common than unsuccessful men with talent. Genius will not; unrewarded genius is almost a proverb. Education will not: the world is full of educated derelicts. Persistence and determination alone are omnipotent.
Sistem pendidikan Korea Selatan, salah satu yang terbaik di dunia, memberikan kesempatan yang sama untuk pendidikan. Di Korea, perlu disebutkan bahwa pemerintah negara mendukung semua upaya untuk mendapatkan pendidikan, termasuk mendukung anak-anak dari keluarga dengan pendapatan rendah dan anak-anak dengan kebutuhan khusus. Ada UU No.13-1 tahun 2011, yang mengatakan bahwa sekolah-sekolah Korea tidak boleh mendiskriminasikan atau menolak penerimaan berdasarkan kesulitan belajar atau kebutuhan khusus. Perlu disebutkan bahwa Kementerian Pendidikan, Sains, dan Teknologi menyediakan anak-anak penyandang cacat fisik dan intelektual dengan pendidikan gratis. Seorang anak bisa mendapatkan pendidikan gratis di Korea Selatan mulai usia 5 hingga 18 tahun.
Disekolah tempat saya mengajar, anak-anak berkebutuhan khusus dilayani dengan sangat baik. Terdapat sekitar 10 anak berkebutuhan khusus dengan 3 guru pembimbingnya. Anak- anak tersebut memiliki beragam ketunaan mulai dari autis, grahita, laras dan CP. Salah satu anak berkebutuhan khusus tidak mampu datang ke sekolah karenanya harus mengikuti pembelajaran secara onlione. Siswa beerkebutuhan khusus tersebut dilayani sesuai dengan layanan minimum yang mampu dilakukan oleh sekolah.
Siswa berkebutuhan khusus tersebut terintegrasi dalam sekolah mainstream. Mereka berada di ruang kelas yang sama dengan anak-anak normal. Mereka melakukan hal yang sama dengan siswa normal dalam batasan kemampuan tertentu. Setelah pembelajaran jam ke 4 (12:20) mereka menuju ruang sumber yang berada di lantai dasar sayap kanan bangunan sekolah.
Ruang sumber terdiri atas 3 bagian. bagian pertama ruang guru khusus. Ruang kedua adalah ruang sumber dan juga ruang ke tiga. Di ruang sumber tersebut terdapat perlengkapan yang memadai untuk mengembangkan life skills dan social skills siswa berkebutuhan khusus.
Masuklah saya ke ruang sumber tersebut saat jam istirahat makan siang. Beberapa siswa sedang asyik bergurau selepas makan siang. beberapa siswa lainnya sedang antri di wastafel untuk gosok gigi. Saya tarik sebuah kursi dan saya duduk tepat di depan mereka. Beberapa pertanyaan saya lontarkan pada mereka dengan bahasa Korea yang campur aduk dengan bahasa inggris (KonglisH). beberapa dari mereka paham pertanyaan sedangkan yang lainny hanya terdiam sambil sesekali tersenyum. Saya kemudian, meminta mereka menuliskan namanya dalam alphabet. Menulis nama dalam alphabet bagi hampir semua siswa sekolah sedikit agak berat karena mereka terbiasa menulis hangul. Beberapa anak mampu menulis dengan baik sedang yang lain sebaliknya. Kemudian saya minta mereka untuk menyebutkan namanya satu persatu. Sangat berat menghafal nama mereka secara bersamaan dalam waktu yang singkat.
Denagn bahasa korea terbata-bata saya bertanya apakah mereka bahagia berada di sekolah? dengan senyum bangga mereka mengatakan sangat berbahagia. Mengapa karena berbahagia? karena mereka bertemu dan memiliki teman yang sangat baik. Hyeon misalnya, selalu memanggil saya dengan kata teacher untuk kemudian bertanya dan memberi informasi terkait dirinya sambil menunjukkan jempolnya padaku. Dia adalah salah satu yang sangat aktif berbicara dalam bahasa inggris.
Han Soel misalnya, anak dengan keterbelakangan mental ini hanya tersipu setiap saya tanya. Dia selalu mengulang kata yang saya ucapkan. tetapi saya senang bersamanya karena selalu tersenyum penuh kedamaian. Lee Ji hye adalah atlet bulutangkis diantara para siwa berkebutuhan khusus tersebut. tas raket wilson dia jinjing untuk kemudian berpamitan padaku jika ia harus segera ke Gym. Setiap Rabu, Jumat dan minggu dia mengikuti latihan bulutangkis bersama klub profesional di kota kami tinggal (Suwon).
Ada berbagai kegiatan yang dilaksanakan oleh siswa berkebutuhan khusus selepas jam ke 4 pelajaran. Saya mengikuti dua kegiatan tersebut. Kegiatan tersebut adalah ketrampilan membuat sabun dan bermain musik tradisional Korea. Pembuatan sabun beraroma buah-buahan itu dilaksanakan secara bersama semua siswa berkebutuhan khusus. Seorang anak autis yang duduk disampingku bergerak dan bernyanyi sepanjang waktu. Tiba-tiba dia berjalan ke belakang dan membuka sebuah locker dan berteriak di dalamnya. Salah satu temannya berlari dan menggadengnya kembali ke tempat duduk. begitu seterusnya. Para siswa diajarai cara membuat adonan, menambahkan esen dan kemudian mencetak dan membungkusnya. Hyeon menarik tanganku dan mengajakku menuju ke ruang sumber sebelah. Di ruang sumber ini terdapat dua kotak besi yang berfungsi sebagai penyimpan karya mereka. Dibukalah ruang itu, terdapat banyak hasil karya para siswa berkebutuhan khsusus tersebut. Sabun adalah salah satunya. Setelah kegiatan pembuatan sabun selesai, saya diberi sebah darinya sambil berpesan bahwa sabun ini hanya bisa digunakan selama 2 minggu.
Pada jam terakhir, seorang pemusik tradisional datang untuk mengajari siswa bermain dan bernyanyi. Janggu semacam gendang terbuat dari kulit binatang tertata rapi di kelas. Siswa berdiri di belakang benda tersebut sambil membawa dua buah tongkat bambu sebagai pemukulnya. Mulailah siswa memainkan sebuah lagu, beberapa saat kemudian, sang pelatih menarikku untuk mencoba alat tersebut. Wajah siswa sangat bahagia riang gembira. Saya tidak merasakan bahwa mereka berbeda dengan kita. Kemuliaan kita terletak bagaimana kita menempatkan siswa sebagai pengembara ilmu dari pada pembeli pengetahuan itu sendiri. Sungguh beruntung saya menjadi pembimbing khusus karenanya saya memahami betapa bersyukurnya hidup ini. If a child can’t learn the way we teach, maybe we should teach the way they learn.#Education for all#Humanize the classroom. Yulcheon High School Suwon Korea /18/10/2018.Seize the day

Bus To Busan

Catatan Muhibah
Bagian Ke 13

BUS TO BUSAN

43659315_10212893629671337_8682580077411565568_n
Bus To Busan bukan film terbaru. Ia juga bukan season ke 2 (dua) film Train to Busan. Bukan pula drama Korea kesukaan emak-emak zaman now. Ia hanyalah catatan ringan tentang perjalanan saya dengan siswa kelas 2 Yulcheon High School Suwon Korea Selatan. Tidak ada hubungannya dengan film apalagi rumah produksi dan juga artist management semacam SM. Pun juga tidak ada hubungannya dengan afiliasi politik apapun termasuk paslon presiden Indonesia 2019. Saya pun tidak membawa misi dan persuasi apakah #2019gantipresiden atau #2019duaperiode. Sekali lagi, ini hanya tulisan ringan tentang perjalan menembus waktu dan ruang!
Field trip, study wisata atau apapun namanya sejatinya adalah rekreasi. Menurut Kamus Bebar Bahasa Indonesia (KBBI), rekreasi adalah  penyegaran kembali badan dan pikiran; sesuatu yang menggembirakan hati dan menyegarkan seperti hiburan, piknik. Rekreasi itu selalu identic dengan tempat wisata terkenal baik di dalam atau nun jauh dari tempat tinggalnya. Kalaupun ada kunjungan ke lembaga pendidikan atau dunia usaha itu hanyalah akibat saja.
Ada catatan menarik dari rekreasi saya ke Busan beberapa saat yang lalu (10-12 Oktober 2018). Menarik karena berbeda dengan apa yang biasa saya lakukan, alami dan rasakan di tanah air. Di sekolah kita, tujuan dan destinasi study wisata selalu sama diantara semua peserta dalam satu tingkatnya. Kalau destinasi ke Yogyakarta , maka semua pergi bersama-sama menujunya meski study kampusnya bisa berbeda-beda -dengan menyesuaikan jurusan di sekolah. Di Korea, siswa yang menentukan sepenuhnya kemana bus diarahkan.
Prilaku siswa Korea selama perjalanan tidak berbeda jauh dengan siswa kita. Bernyanyi, bersendagurau dan sebagaian besar yang lain asyik dengan telepon cerdasnya sambil memasang headset di kedua telinganya. Para pembimbing melakukan hal yang sama. Ada yang asyik dengan gawainya (semacam saya), ada juga yang asyik bertegur sapa secara intens dan juga ada yang tidur nyenyak. Inilah Kondisi yang sangat normal.
Salah satu ciri Bangsa Korea adalah ketatnya urusan waktu. Semua diukur dan diwaktui secara detail. Inilah hal penting yang harus ditanamkan pada siswa kita di tanah air. Berapa waktu yang harus dihabiskan dalam melakukan atau mengunjungi suatu tempat menjadikan perjalanan ini efektif dan efisien.
Menyewalah kami sebuah villa di tepi pantai Daejoung Dae. Rumah bertingkat tiga itu terdiri atas 3 laintai dengan ruang tidur 5 buah di masing-masing lantai. Kami di tempatkan di lantai bawah dengan pemandangan lepas pantai yang indah. Para siswa menyiapkan makan malam sendiri, termasuk menyiapkan makan malam bagi para guru dan pendamping. Beberapa cowok sedang memasak rameyon, lainnya mengelupas bawang putih dan bombai serta mencincangnya halus. Seorang siswa datang membawa minuman bersoda dan air putih. Menyiapkannya di atas meja yang akan kita gunakan untuk makan malam ini.
Waktu menunjukkan pukul 22:00 waktu Korea.Beberapa siswa memutuskan untuk bernyayi di rumah karaoke yang jaraknya tidak begitu jauih dari villa kami menginap. beberapa saat kemudian, mereka kembali ke Villa dengan wajah yang murung. Rupanya, pihak pengelolah karaoke tidak memperkenankan mereka bernyayi karena masih sekolah. Sebagai jalan keluarnya, mereka harus di temani oleh pendamping dan gurunya. Alhasil, wali kelas -Tr. Kwag- menemani para siswa hingga tengah malam.
4 siswa berbadan besar dan tinggi baru saja sampai di lobby villa. Mereka baru saja jalan keliling kota. Langsung saja -Tr. Kim- menyuruhnya mendekat dan mencium bau tangan dan mulut masing-masing siswa tersebut. Memastikan bahwa mereka tidak merokok atau minum soju. Setelah dipastikan aman, mereka diijinkan naik ke lantai tiga.
Pola hubungan siswa dengan guru sangat dekat sekali. Seolah-olah tidak ada jarak diantara keduanya. Seorang guru bersendagurau di tepi pantai sembari dirangkul dari belakang oleh salah satu siswanya. Tr. Kwag menyuapi siswanya yang malas makan karena perutnya bermasalah. Disisi lain, seorang siswa laki-laki berlari dan menyuapi gurunya makanan yang baru dimasaknya. Indahnya hidup persekolahan jikalau guru dan siswa menyatu dalam keakraban yang tulus.
Perbedaan lainnya adalah, saat makan, siswa dibebaskan untuk memilih menu dan tempat makannya masing-masing. Hanya 5 kali kami makan bersama selama 2 malam 3 hari tersebut. Itupun terjadi karena kami dan siswa berhenti di rest area. Selain di dua tempat tersebut, siswa mencari makan sendiri sesuai kesukaannya.
Dalam field trip ini tidak ada kunjungan ke perguruan tinggi atau sejenisnya karena murni rekreasi. Rekreasi ini menjadi momentum kebersamaan dan semacam upaya menguatkan solidaritas dan kerjasama antar teman sekelas.
Terakhir, sopir bus yang membawa kami ke Busan tergolong sudah berumur, sekitar 55 an. Namun skill mengemudinya sangat lihai dan profesional. Bus di Korea, sepengetahuanku, selalu dilengkapi dengan kamera cctv baik dari depan belakang, samping dan atas. Dengan alat bantu itulah mengemudi menjadi nyaman dan berisiko minamal kecelakaan.
Oh ya, di tanah air, sopir bus yang kita sewa harus kita layani dengan baik. Kalau para supir tersebut tidak dilayani dengan baik maka bersiaplah spot jantung. Para sopir akan menjadi sangat tidak nyaman sebagai wujud protes tidak dilayaninya mereka sesuai kebiasaan: uang rokok, uang lelah, dan sejenisnya. Para supir di Korea kebalikannya. Mereka tidak perlu uang rokok dan sejenisnya. bahkan makan dan tidurnya pun mereka tanggung sendiri. Karena, pelayanan mereka sudah tercakup dalam sewa bus tersebut. Di tempat kita, jangan berharap yang demikian. Semakin banyak tips yang diberikan, layanan dan kemudinya semakin nyaman dan halus. Udut dulu pak supir!!!!

School Campaign

Catatan Muhibah
Bagian Ke 12
 
School Campaign
 
Merokok, penggunaan dzat aditif dan tindakan kriminal lainnya merupakan bentuk dari penyelewengan prilaku yang harus dicegah dan diatasi sedini mungkin. Masa-masa remaja adalah tahapan kritis menuju kedewasaan. Pertimbangan yang dangkal serta rapuhnya pondasi akhlak dan moral seringkali membawa anak ke dalam jurang kemerosotan moral. Banyak dari mereka yang terlibat kriminal, penggunaan Narkoba bahwa prilaku seksual menyimpang. Siswa sekolah menengah merupakan komunitas yang rentan akan gejala ini.
Sudah menjadi tanggungjawab dan tugas sekolah untuk melakukan tindakan preventif. Salah satunya melalui pembinaan moral dan akhlak siswa. Kegiatan tersebut dilakukan untuk membangun kesadaran akan bahaya prilaku menyimpang dan hasrat kriminalitas.
Yulcheon High School ( 율천고등학교 :
www. yulcheon.hs.kr/smain.html) melakukan penyadaran ini secara berkala yang dikemas dalam “Safety Campaign”.
Dalam kegiatan ini, beberapa anggota OSIS, dewan guru dan perwakilan Komite Sekolah membentangkan spanduk dan beberapa tulisan untuk memprovokasi siswa agar terhindar dari mara bahaya pergaulan bebas, narkoba, merokok dan atau tindakan kriminal lainnya.
Mereka menyambut siswa di gerbang sekolah sembari membentangkan beberapa himbauan dan anjuran. Salah seorang anggota komite mendekatiku dan memberiku segebok pulpen warna warni. Dia berpesan untuk membagikan pulpen pada setiap siswa yang memasuki gerbang sekolah. Satu persatu siswa kuberi pulpen dan beberapa guru dan komite mengingatkan para siswa untuk tidak merokok atau melakukan kegiatan lain yang dilarang.
Kesadaran hidup sehat dan normal harus dilembagakan dan dipupuk sejak dini. Sekolah adalah salah satu entitas yang memainkan peran penting dalam penyemaian karakter dan prilaku baik. Jikalau di rumah sudah tidak mendapat layanan dan kepengasuhan yang baik dan mumpuni, maka lembaga lain yang dapat memainkan tugas mulia itu adalah salah satunya sekolah. Berbahagialah dan berbanggalah kita sebagai guru memeroleh kesempatan muli auntuk menggandeng tangan, membuka cakrawala serta menyentuh kalbu dari para siswanya.Selamat menginspirasi dunia dan menabur kebajikan bagi umat manusia#Seize the day43284962_10212848629906371_3623588986225688576_n.jpg

Lesson Study

Catatan Muhibah

Bagian Ke 143094706_10212845442266682_2326289853861330944_n

Membelajarkan anak dengan latar belakang budaya dan preferensi yang berbeda dan beragam menjadi tantangan tersendiri. Manajemen kelas menjadi salah satu senjata yang paling banyak memainkan peran besar bagi keberhasilan pembelajaran. Iklim dan budaya belajar yang berbeda diantara guru dan siswa menghasilkan sebuah orkestra pembelajaran yang kaya warna dan khazanah.
Membelajarkan anak tentang budaya Indonesia merupakan pengalaman pertama dan sekaligus menantang yang pernah saya rasakan. Menyiapkan materi dan methode yang tepat dengan menggunakan bahasa yang bukan bahasa pertama kita adalah sesuatu banget. Saya meyakini akan banyak hambatan dalam menyampaiakn informasi kepada siswa. Bahasa dan kosakata yang terbatas menyebabkan informasi hanya mampu disampaikan secara sepotong-potong dan tidak utuh. Informasi yang disampaikan bisa menjadi bias, alih-alih menyampaikan informasi yang benar kita juga mungkin mendapat yang sebaliknya.
Beruntung sekali karena saya memiliki tantangan dan kondisi sebagaimana disebutkan diatas. Saya sudah menyiapkan presentasi yang lumayan komprehensif terkait budaya dan Indonesia. Sudah banyak kali mentor berkata bahwa saya harus mampu melawan prejudice yang selama ini tumbuh subur di benak orang Korea. Prasangka yang buruk terhadap bangsa Indonesia. Dia berharap, saya mampu mengikis prejudi itu sedikit demi sedikit. Bagaimana melakukannya? melalui pendidikan dan pelurusan anggapan di kelas tersebut, Jawab sang mentor.
Masuklah saya dalam sebuah kelas (kelas 3). Kelas sangat tenang, beberapa anak sedang berselimut dan merebahkan kepalanya di meja, beberapa yang lain sedang menulis dan mengerjakan sesuatu. Udara musim gugur menambah dingin suasana kelas pagi itu.
Kubuka dengan senyum dan sapa “Anyeonghaseo” serentak mereka membalas dengan sapaan yang sama. Salah satu siswa berdiri dan berucap sambil diikuti siswa yang lain “Selamat pagi!. Selamat Pagi jawabku riang.
Kunyalahkan presentasi dan mulai ku panasi mereka dengan beberapa pertanyaan pancingan semisal “Indonesia Arayo? (apakah kamu tahu Indonesia?). Kelas menjadi hening karena tak satupun menjawab pertanyaanku. Aku berfikir keras sambil merasakan kegalauan yang tinggi akan respon dan sikap dingin mereka. Lalu kupancing lagi mereka dengan film pendek tentang Indonesia (https://www.youtube.com/watch?v=O4yc069cPiw). Baru setelah menonton film pendek tersebut mereka sedikit menarik wajahnya ke atas. Mulailah saya mempromosikan satu demi satu budaya dan potensi luar biasa Indonesia. Oh ya, satu jam pelajaran di SMA Korea berakhir selama 50 Menit. Tidak ada dua jam langsung sebagaimana di Indonesia. Setiap pergantian pelajaran selalu di barengi dengan istirahat 10 menit. Persis seperti model sekolah di Jepang.
Penjelasan selesai, saya tarik komprehensif mereka dengan permainan jeopardy. Hanya sebagian siswa yang mampu menjawab pertanyaan yang ada dalam permainan itu. Tidak lama kemudian bel berbunyi. Penanda bahwa saya harus segera mengakhiri pembelajaran.
Saya merasa pembelajaranku saat itu kurang menyenangkan dan terlalu monoton. Saya merasa gagal. Rasa malu bersemayam di dada ini. Sebagai duta bangsa saya belum mampu memberikan yang terbaik bagi bangsa. Bagaimana kita memamerkan Indonesia adalah wujud komitmen kebangsaan kita dan saya gagal mewujudkannya. Mentor mendekati dan berkata ‘ we need time to discuss your class after lunch break!” katanya padaku. Saya berjalan sedikit lunglai menuju ruang guru kelas 1. Berkecamuk berbagai pikiran. Ternyata sesuatu yang kita anggap terbaik belum tentu memiliki efect yang sama dalam ruang dan waktu yang berbeda.
Mentor mengulas panjang lebar pembelajaranku pagi itu. Dia bertanya perasaan dan pendapat tentang pembelajaran pagi itu padaku. Dengan lantang saya jawab “gagal”. Dia hanya tersenyum dan kemudian mengeluarkan catatatn di kertas HVS. Dia mulai memberikan feedback satu demi satu tahapan pembelajaran. Diantara banyak masukannya, terdapat beebrapa yang say highlight karena penting artinya. Catatan itu adalah materi. Pertama, Materi yang saya sampaikan terlalu banyak dan melimpah. Inilah ciri khas guru indonesia : mengejar materi. Siswa Korea tidak menyukai sesuatu yang detail dan banyak. Mereka suka dipancing dan menexplore sendiri informasi dan pengetahuan selebihnya. Kedua, comprehensive itu sangat penting dalammemastikan bahwa siswa itu paham apa yang kita sampaikan. Tidak baik “ngebut” tanpa memperhatikan rambu pembelejaran dan mood siswa. Harus diperhatikan “Chunking” antara satu informasi dengan yang lainnya. Ketiga, siswa harus banyak bergerak dan melakukan sesuatu, bukan justru sebaliknya yaitu guru yang banyak menguasai kelas dengan informasi yang banyak yang kadang tidak dibutuhkan siswa. Keempat, harus percaya diri dan yakin bahwa yang disampaikan itu bermakna. Saya tertunduk lesuh sambil memutar otak untuk memformulasikan pembelajaran selanjutnya yang lebih baik. Pelajaran berharga pagi itu. Kalau kita merasa nyaman dengan apa yang selama ini kita lakukan, bersiaplah untuk kecewa. Kehebatan kita diuji saat kita berada di situasi sulit, dengan orang dan budaya berbeda. Akhirnya semoga pelajaran ini membuat saya terus bergairah untuk belajar dan belajar. Saya meyakini jikalau guru yang malas mengajar pantang untuk mengajar. Cukup saya sebagai buktinya#Seize the day ( Irolwol Cho, Suwon Korea/October 5,2018)

BELAJAR DARI PENDIDIKAN KOREA

Heriyanto Nurcahyo

Guru SMAN 1 Glenmore Banyuwangi dan Sedang mengikuti Program Pertukaran Guru Asia Pacific UNESCO Di Yulcheon HS Suwon Korea Selatan42674854_10212800457862100_9198540941130989568_n

Korea Selatan memiliki sistem pendidikan yang sangat bagus. Hal ini bisa dilihat salah satunya dari hasil PISA (Programme for International Student Assessment) yang menguji kemampuan siswa di bidang Matematika, Sains dan Membaca. Sigi tersebut  menempatkan Korea Selatan diurutan 10 negara teratas. Sebagai salah satu negara maju, pendidikan menjadi salah satu produk layanan unggulan bangsa Korea Selatan.

Berbicara kesuksesan Korea Selatan dalam bidang ekonomi, manufaktur dan  teknologi tidak bisa dilepaskan begitu saja dari keberhasilan pendidikannya. Sistem pendidikan Korea Selatan  menempatkan kualitas sebagai sandaran utamanya. Kebijakan tersebut terbukti mampu mengentaskan bangsanya dari jurang kemiskinan dan keterpurukan ekonomi pasca perang saudara dan penjajahan.

Pembangunan pendidikan di Korea Selatan dirintis secara sistematis semenjak mereka berhasil memerdekakan diri dari penjajahan Jepang. Pada tahun awal kemerdekaan,  Pemerintah justru membangun percetakan dan  infrastruktur. Percetakan dibangun untuk menghasilkan bahan bacaan bagi seluruh warganya. Dengan bahan bacaan yang melimpah, semaian  kekayaan pengetahuan dan ketrampilan dapat terwujud. Tidak itu saja, di tahun-tahun awal kemerdekaannya, Pemerintah Korea Selatan  meminta PBB untuk menggalang bantuan buku bagi warganya.

Pemerintah Korea Selatan saat itu sangat memegang erat falsafah jika mensejahterakan suatu bangsa tidak bisa terlepas dari peningkatan pengetahuan dan pendidikan warganya. Sebelum tahun 60-an, pemerintah Korea telah mewajibkan  pendidikan wajib bagi seluruh warganya. Tidak ada satupun warga negara yang tidak dilayani pendidikannya. Dimanapun, kapanpun dan dengan media apapun pembelajaran dan pendidikan tetap berlangsung.

Bantuan pihak asing digunakan secara efektif bagi pendidikan dan peningkatan kualitas pendidikan bangsanya. Pemerintah Korea Selatan memercayai jikalau pendidikan berbanding lurus dengan tingkat kesejahteraan yang akan didapatnya. Hal ini sejalan dengan teori Education Development dari Jacob Mincer yang mengatakan bahwa semakin tinggi pendidikan, semakin tinggi pula pendapatannya (more schooling, higher individual earnings). Dengan pendidikanlah mutu dan kualitas hidup suatu bangsa meningkat.

Persekolahan di Korea Selatan juga memiliki semangat yang sama. Semangat untuk melompat lebih jauh dan menjadi kampium di segala bidang. Sekolah-sekolah memantapkan diri sebagai pusat layanan unggulan (center of excellence). Berawal dari sekolah dan lembaga pendidikanlah kebangkitan itu dimulai. Maka lahirlah produk manufaktur yang merajai dunia : Samsung, LG, Hyundai, Daewoo, KIA dan lain sebagainya. Bahkan beberapa dekade terakhir, Korea Selatan juga menghentak dunia dengan produk  hiburan semacam Drakor (Drama Korea)  dan tentu saja boys dan girls band seperti  saja Suju, BTS dan lainnya. Kemajuan ini memunculkan sebuatan  Korea Selatan sebagai Second Japan, meski mereka sendiri tidak suka dilabeli semacam itu.

Di Korea Selatan, semua sekolah memiliki layanan dan infrastruktur yang nyaris sama baik baik di perkotaan maupun di pedesaan. Kondisi ini mendorong pemerataan  layanan pendidikan bagi semua warganya. Fasilitas pendukung pembelajaranpun juga tersedia dengan sangat layak semisal lapangan outdoor dan indoor, kantin sekolah dan fasilitas public siswa lainnya.

Pendidikan di Koreas Selatan juga sangat inklusive. Tidak membedakan latar belakang siswa. Berbagai latar belakang siswa dilayani dengan baik  dalam kapasitasnya. Mereka juga menyediakan layanan bagi anak berkebutuhan khusus (ABK) di sekolah reguler. Lalu, dimanakah letak perbedaan dengan pendidikan kita?

Profesi guru di Korea sangat dihormati dan dihargai. Dalam salah satu filosofi pendidikannya  mengatakan bahwa “Dont even step on teacher’s shadow”.  Guru itu sangat mulia profesinya , maka kita harus menghormatinya.  Penghormatan guru dari aspek nilai mungkin berbeda dengan kita yang di Indonesia. Karena di Indonesia standard dan penghargaan terhadap nilai sangatlah tinggi. Namun penghormatan guru di Korea diwujudkan dengan jaminan, posisi , karir serta kesejahteraan sangat layak.

Guru- guru di Korea memiliki dedikasi dan perjuangan yang sangat tinggi dalam menjalankan profesinya. Mereka menyadari bahwa dipundaklah pendidikan bangsa di embankan. Berhasil tidaknya pendidikan suatu bangsa, salah satunya ditentukan oleh diri mereka. Bekerja keras dan dedikasi tinggi adalah bagian tidak terpisahakan dalam kesehariannya.

Kemampuan macro dan micro teaching selalu di asah melalui pengembangan diri dan keprofesionalannya. Setiap guru di Korea Selatan diwajibkan untuk mengembangkan diri minimal 16 jam/tahun untuk mengasah pisau mengajarnya. Pengasahan ini bisa dilaksanakan secara klasikal ataupun mengikuti kursus online yang tersedia. Pengalaman saya mengikuti workshop pengembangan diri di Korea Selatan menunjukkan  bahwa kegiatannya sangat efektif, tidak terlalu melebar kemana-mana dan practical.

Kesadaran pendidikan warga negara yang tinggi mendorong tuntutan layanan pembelajarannya pun juga tinggi. Keikutsertaan orang tua dalam pendidikan anaknya menyebabkan sekolah tidak bisa semena-mena melayani siswanya. Sebagai layanan publik, tanggungjawab sekolah sangat besar terhadap kepuasan pengguna jasa layanannya. Guru yang malas belajar akan dengan sendirinya terdegradasi bahkan tersisih dan kemudian tergantikan dengan yang lebih baik.

Disisi lain, pendidikan Korea Selatan juga memiliki sisi buruknya. Kondisi persekolahan yang meyemai persaingan cukup  tinggi dan ketat mendorong semua siswa dan orang tua berlomba menggapainya. Untuk menopang keberhasilan pendidikan tersebut, maka kegiatan belajar di luar sekolah berkembang sangat massive. Lembaga bimbingan tumbuh subur dan menjadi lahan bisnis yang sangat menjanjikan. Siswa serasa dipacu dan dikejar oleh sekian banyak harapan oarng tua untuk bisa masuk di perguruan tinggi terbaik di Korea (Sky Universities). Karenanya para siswa harus memeroleh materi tambahan. Materi tersebut terutama untuk mata pelajaran yang berhubungan langsung dengan  “Suneung” (Ujian masuk Perguruan Tinggi). Materi tambahan tersebut tersedia secara beragam di lembaga pendidikan (school academy/cram school) yang dalam bahasa Korea disebut  “Hagwon”. Selepas sekolah (sekira jam 17:30 ) para siswa pergi ke lembaga pendidikan  hingga tengah malam. Kondisi inilah yang kemudian turut menempatkan siswa korea sebagai pribadi  yang kurang bahagia (least happy students) diantara negara OECD. Akhirnya, Semoga kita bisa belajar dari pendidikan di Korea Selatan bahwa “Quality of education cannot exceed quality of teacher”. Peningkatan kualitas guru menjadi prasarat mutlak menaikkan tingkat kualitas pendidikan.

Liburan Chusoek

Catatan Muhibah

Bagian ke 8

42566754_10212795328733875_660589545200287744_o

Selama 3 hari, kami menikmati liburan Chusoek. Kami mengunjungi beberapa objek wisata di sekitaran Seoul dan Suwon. Di hari terakhir liburan Chusoek, hari ini, saya bersama 7 siswa dan 4 orang guru mengunjungi Hwaseong Hanggung (Istana Hwaseong). Kalau anda pecinta drama Janggeum (Jewel In The Palace) pasti hapal dengan beberapa spot photo dibawah ini. Ya, Janggeum adalah tenaga medis pertama Korea. Letak istana ini dikelilingi oleh benteng. Benteng tersebut kini menjadi cagar budaya dan World Heritage versi Unesco. Istana tersebut terletak dibawah bukit. Diatas bukit tersebut bersemayam Raja. Terdapat berbagai jenis bangunan dalam komplek istana tersebut. Bangunan utama istana terletak di tengah bangunan memanjang di kanan dan kirinya. Masih terjaga dengan baik artefak sejarah kerajaan tersebut.
Selepas menyusuri bagian demi bagian istana tersebut, kami bergerak ke sisi kanan istana tersebut. Sebuah warung ayam goreng berdiri gagah di pojok perempatan jalan sempit. Aneka papan reklame dan toko menggantung horisontal dan vertikal khas Korea. Puluhan orang berdiri memanjang di depan warung tersebut. Rupanya mereka sedang antri makan. Bangunan tersebut dari 3 (tiga) lantai dan juga memiliki 2 (dua) lantai di bawah tanah. Semua kursi penuh!!!
Setelah duduk lesehan di ruang bawah tanah, seorang pelayan menyodorkan handuk kecil basah. 2 mangkuk makaroni goreng dan acar yang terbuat dari lobak putih tersaji di meja. beberapa saat kemudian 4 piring penuh daging ayam diantar pelayan berumur tersebut. Maknyuuss rasanya mantap. Setekah menunggu sekian lama, ternyata mereka tidak menyajikan nasi sebagai pelengkapnya. Sebagai bangsa timur yang mengagumi nasi, rasanya makan siang tersebut hanya sekedar camilan belaka!!!
Setelah makan siang, kami menyusuri pasar tradisional. Dipasar tersebut dijual aneka hanbuk, baju, makanan, bunga, dan segala keperluan manusia. Satu ember ulat sutera dijual ibu paruh baya di jalan keluar pasar tersebut. Konon, ulat sutra sangat enak dan kaya nutrisi. Beberapa kepala babi dipajang di etalase kaca. Seorang penjual pisau memamerkan pisau tajamnya. Penjual jamu dan rempah menyilahkan kami mencicipi ramuan manjurnya.
Kami juga mengunjungi sebuah kuil Budha. Kuil tersebut terletak disisi atas kiri bukit yang terletak dibelakang istana tersebut. setelah menaiki puluhan tangga, akhirnya kami sampai di kuil. Hening dan bersih.
Oh ya, saat turun, Suel, salah satu siswa mendekatiku, tiba-tiba dia mengeluarkan sesuatu berbungkus plasti. Dan, aha, sebuah surat dan dompet diberikan kepadaku sebagai hadiah Lebaran. Tak lama berselang, salah seorang guru juga memberiku setas kertas jajan khas Korea yang menyerupai bipang. Pasar tradisional tersebut terletak di perkampungan tradisional korea yang masih terawat. Perjalanan kami berhenti di sebuah warung es serut. Semangkuk serutan es dengan toping coklat disajikan di meja kami. Satu persatu mencoba dan merasakan kesegarannya. Indahnya hidup dalam kebersamaan. #Seize the day